Wednesday, 31 December 2014

Markonah dan Uang Lima Ribuan


Markonah menemukan uang lima ribuan. Pas waktu itu di kantongnya hanya tinggal uang lima ribu. Jadi sekarang uang Markonah ada sepuluh ribu. Markonah bingung. Ini uang siapa? Haruskah aku bertanya? Pikirnya. Kalau aku harus bertanya, pada siapa? Tak ada orang di situ. Tak ada juga yang melihat kala Markonah memasukkan uang itu ke sakunya. Ke rumput yang bergoyang? Ah, itu cuma lagu.

Markonah melirik kiri dan kanan. Betul, tak ada orang. Hanya tampak tukang ojek dan tukang tambal ban nun jauh di sana. Tak mungkin mereka melihatku memungut uang itu, pikir Markonah. Ah sudahlah! Pikirnya lagi. Gunakan saja uang ini untuk hal-hal yang baik, pikiran Markonah berlanjut. Markonah lanjut berjalan.

Markonah tidak tahu. Ada dua malaikat yang melihat Markonah. Kedua malaikat tampak tersenyum melihat Markonah yang kebingungan. Kedua malaikat mengangguk-angguk. Tak ada suara di antara mereka. Tampaknya mereka berkomunikasi, namun hanya mereka yang tahu. Kalau istilahnya benar, berarti mereka berkomunikasi dengan telepati. Telepati? Nggak taulah. Belum pernah jadi malaikat soalnya.

Setelah saling tersenyum, salah satu malaikat menghilang. Tiba-tiba wujudnya tampak seperti manusia. Menjadi seorang anak lelaki berkaki buntung. Anak itu ada di balik pohon. Menampakkan dirinya kepada Markonah.
“Mbak, minta Mbak..” anak itu memelas ke Markonah. Tangannya teracung dengan posisi meminta. Markonah teringat uang lima ribunya tadi. Haruskah kuberikan pada anak ini? Pikir Markonah. Tiba-tiba Markonah mendapat ide. Dirinya punya uang lima ribu sebelum menemukan uang lima ribu lagi. Uang lima ribu Markonah terdiri dari uang seribuan 2 lembar dan uang dua ribuan satu lembar. Benarkah lima ribu? Coba kita hitung sama-sama. Satu lembar uang dua ribuan dan 2 lembar uang seribuan. Berarti ada empat ribu. Bukan lima ribu. Oh ternyata uang seribunya ada 3 lembar.

Di rogoh Markonah uang seribuan itu. Diberikannya pada bocah tadi. Bocah itu tersenyum. Markonah melanjutkan perjalanan. Uangnya tinggal empat ribu. Benarkah empat ribu? Tunggu dulu, tadi Markonah menemukan uang berapa? Lima ribu. Sementara Markonah sebelumnya sudah punya uang lima ribu. Diberikan ke bocah tadi seribu. Berarti uang Markonah tinggal berapa? Betul! Sembilan ribu.

Kedua malaikat kembali berkumpul. Malaikat yang tadi menjadi bocah sudah kembali ke wujudnya sebagai malaikat. Tampak berkomunikasi, keduanya hanya tersenyum. Markonah tak tahu kalau dia sedang diamati. Markonah berjalan, tiba-tiba dia berhenti. Seorang lelaki tua tampak berjalan menuju Markonah. Pandangannya layu. Seperti tak punya harapan. Lelaki tua itu menatap Markonah. Markonah menatapnya balik.
“Kenapa Pak?” tanya Markonah. Laki-laki tua itu tampak ingin menjawab. “Ah.. ah..” hanya suara itu yang keluar sambil tangannya memeragakan orang yang sedang makan. Rupanya dia bisu. Jari-jarinya menguncup mengarah ke mulut. Rupanya lelaki tua bisu itu belum makan seharian. Markonah meraba kantongnya. Dirogohnya sakunya. Ditariknya selembar uang. Uang dua ribuan. Diberikannya pada lelaki tua tadi. Lelaki tua itu tampak sumringah. Lelaki tua itu pun berlalu meninggalkan Markonah.

Nah, berapa uang Markonah sekarang? Mari kita hitung bersama. Markonah menemukan uang lima ribuan. Sebelumnya Markonah sudah punya uang lima ribu yang terdiri dari uang dua ribu satu lembar dan uang seribuan sebanyak tiga lembar. Seribu diberikan Markonah pada bocah dengan kaki buntung tadi. Uang selembaran dua ribu barusan diberikannya pada lelaki tua yang belum makan tadi. Berarti tinggal berapa uang Markonah? Wuih pusing… Yup betul, uang Markonah tinggal tujuh ribu.

Lelaki tua tadi menghilang. Wujudnya berubah kembali menjadi malaikat. Rupanya kedua malaikat tadi sudah sama-sama berubah. Yang satu tadi berubah menjadi bocah kecil berkaki buntung, sementara satu malaikat lagi tadi berubah menjadi seorang lelaki tua bisu yang belum makan. Keduanya kembali tampak berkomunikasi. Tak ada suara. Hanya telepati.

Hari sudah beranjak siang. Panas yang terik membuat Markonah kehausan. Tak hanya haus, Markonah juga lapar. Tapi uangnya tinggal tujuh ribu. Bisa beli apa dengan uang tujuh ribu? Markonah menghela nafas. Di depan tampak warung makan. Ada menu nasi campur dan es teh manis. Lumayan murah, hanya lima ribu sudah dapat keduanya. Dapat nasi campur dan dapat es teh manis. Markonah duduk di kursi warung. Dipesannya menu itu. Markonah makan dan minum. Lega. Lapar hilang demikian pula dahaga. Markonah membayar makan dan minumnya. Uang lima ribuan yang ditemukan tadi diserahkannya. Tinggal berapa uang Markonah?
Duh, hitung lagi deh! Jadi begini, awalnya Markonah sudah punya lima ribu. Kemudian dia menemukan selembaran lima ribuan. Jadi sepuluh ribu. Sudah terpakai seribu untuk bocah berkaki buntung. Dua ribu untuk lelaki tua bisu yang belum makan. Lima ribu untuk makan nasi campur dan minum es teh manis. Berarti uang Markonah tinggal lima ribu. Benarkah? Salah! Uang Markonah sekarang tinggal dua ribu. Dua ribu yang terdiri dari dua lembar uang seribuan. Di raba Markonah uang itu. Dia kembali berjalan.

Kedua malaikat sekarang sudah berubah lagi. Menjadi seorang ibu dan seorang anak kecil. Keduanya baru turun dari angkot. Sang ibu tampak kebingungan. Melihat kiri-kanan dan meraba-raba kantongnya. Tasnya pun di bongkar. Tapi tetap saja dompet itu tak tampak. Rupanya ibu itu habis kecopetan. Dia bingung, dompetnya hilang.
“Kenapa Bu?” tanya Markonah.
“Ini lho Mbak, saya habis kecopetan. Padahal masih harus naik angkot sekali lagi Mbak. Mana uang tinggal seribu Mbak. Perlu uang dua ribu lagi Mbak” jawab si ibu. Rupanya ongkos angkot dua ribu seorang. Anak kecil di pangku jadi hanya bayar seribu. Total yang harus di bayar empat ribu. Si ibu hanya punya seribu.
Markonah meraba kantongnya. Ditariknya uang seribuan dua lembar yang sisa tadi. Diberikannya ke si ibu.
“Terimakasih Mbak. Mudah-mudahan Mbaknya dimurahkan rejekinya ya..” Ibu itu tersenyum. Sebuah angkot kosong datang. Ibu itu naik bersama anaknya. Markonah kembali berjalan. Tak dilihatnya kalau angkot itu perlahan-lahan menghilang.

Markonah merasa senang. Uang yang ditemukannya bisa digunakan untuk membantu banyak orang. Membantu bocah berkaki buntung. Membantu lelaki tua yang belum makan. Membantu seorang ibu dan anaknya yang habis kecopetan dengan memberikan tambahan uang angkot. Markonah lega. Uang itu dipakai untuk kebaikan. Markonah berjalan pulang.
Kedua malaikat tampak berkomunikasi. Tapi kali ini dengan senyum. Lalu keduanya mengangguk-angguk. Keduanya pun menghilang.

Markonah melintas di sebuah gang sepi. Gang itu menuju rumahnya. Masih lega perasaan Markonah. Membantu banyak orang dengan berbuat kebajikan. Rumahnya sudah tampak. Markonah berjalan cepat-cepat. Hari sudah mulai mendung setelah seharian panas. Tiba-tiba kakinya menyentuh sesuatu. Di lirik Markonah ke bawah. Markonah kaget bercampur bingung. Di depan kakinya kini tampak uang lima ribuan. Bukan hanya satu tapi dua lembar.

Markonah menghela nafas panjang. Mau diapakan lagi uang ini? Pikirnya. Samar-samar tampak kedua malaikat tadi. Kali ini kedua malaikat itu tampak tertawa.

Membuat cerpen ini (Markonah dan Uang Lima Ribuan) merupakan pengalaman seru. Tidak hanya menuliskan atau mengetikkan saja tetapi juga harus berhitung. Kalau salah hitung nanti pembaca bisa protes.
 
 
http://goo.gl/bohHSm

MENYIKAPI ERA DAN KEBUTUHAN INFORMASI
02 Oktober 2007 – 12:10   (Diposting oleh: Editor)

“We are drowning in information and starved for knowledge. – Kita tenggelam dalam informasi dan haus akan ilmu pengetahuan,” ~ Anonymous
Di zaman yang penuh gerak ini, perubahan dapat terjadi dalam waktu sangat cepat. Informasi menjadi sesuatu yang sangat penting. Tanpa informasi, berupa data, info atau pengetahuan dan lain sebagainya sesuai dengan kebutuhan masing-masing, maka kita akan kesulitan menentukan keputusan paling tepat. “As a rule, he or she who has the most information will have the greatest success in life. – Sudah menjadi aturan main, siapapun yang mempunyai informasi terbanyak akan mencapai kesuksesan besar dalam hidupnya,” kata Benjamin Disraeli.

Karena itu informasi terus diburu sebagai upaya menciptakan solusi. Saya pun selalu berusaha mendapatkan informasi terbaru dalam hampir setiap aktivitas yang saya lakukan. Contohnya dalam aktivitas berolah raga di atas treadmill di sebuah pusat kebugaran. Saat itu di depan saya terpampang 10 buah televisi yang menyiarkan program tayangan dari 6 channel televisi Indonesia. Selama ini saya memperhatikan tayangan televisi lokal kurang berkualitas. Saya sangat prihatin karena mayoritas tayangan-tayangan tersebut tidak bersifat mendidik, tidak memberikan inspirasi yang mencerahkan paradigma berpikir dan berperilaku.

Contohnya banyak sekali tayangan sinetron yang tidak layak untuk dikonsumsi terus menerus, karena sering menampilkan konflik, kekerasan dan gaya hidup serba mewah dan lain sebagainya yang tidak bersifat menyejukkan dan memotivasi. Jelas tayangan-tayangan tersebut tak hanya dikonsumsi orang dewasa, melainkan anak-anak dan remaja. Lalu bagaimana dengan nasib generasi muda kita?

 ... baca selengkapnya di :  http://goo.gl/nwt6Pn

Domba
Pada waktu lampau jauh sebelum Abraham, di suatu daerah berdiri sebuah kerajaan. Raja memerintah dengan sangat baik. Rakyatnya makmur dan bahagia. Setiap hari raja dan rakyat berkumpul dan pesta bersama. Sungguh suatu kerajaan indah tanpa dukacita.

Raja mempunyai putra, pangeran ini penuh dengan rasa ingin tahu. Dia berpikir adakah yg lebih baik dari yang selama ini dia rasakan? Adakah sesuatu yang lebih indah dari kerajaannya? Pangeran ini makin hari rasa ingin tahunya semakin besar, hingga suatu hari dia memutuskan untuk mencari jawaban atas ingin tahunya itu. Dia mengutarakan keinginannya kepada ayahnya, dia tetap tidak percaya ketika ayahnya berkata Kerajaan inilah yang terbaik. Karena sang Raja sangat sayang kepada putranya ini, maka diijinkanlah dia untuk pergi mencari jawaban atas pertanyaannya. Dibekalinya sang anak dengan uang yang berlimpah, dan apapun yang ingin dibawa oleh anaknya. Kepergian sang pangeran ini membuat sedih sang Raja dan seluruh rakyat, tetapi apa boleh buat sang pangeran tetap pada keyakinannya untuk pergi mencari hal yang lebih baik.

Sang Pangeran akhirnya pergi meninggalkan kerajaannya, dia pergi ke kota sebelah. Di sana dia melihat keadaan yang hampir sama dengan kerajaannya. Rakyat di sana juga bahagia dan makmur, tetapi dia merasa ada yang kurang. Rakyat di sana tidak tahu siapa raja mereka, dan bagaimana rupanya. Mereka tidak mengenal raja mereka sendiri. Pangeran merasa kerajaannya masih lebih baik dan diapun kembali meneruskan perjalanannya.

Semakin jauh dia meninggalkan kerajaannya, hal yang dilihat adalah semakin buruk. Orang-orang semakin murung, malas, dan tidak ada gairah hidup. Dalam hatinya dia mulai merasa bahwa perkataan ayahnya adalah benar. Akhirnya sampailah dia di sebuah kota yang sepi. Penduduknya semua bermuka muram dan penuh rasa curiga. Dia mulai merasa putus asa dan ingin segera kembali ke kerajaannya. Dia merasa perjalanannya sebulan ini sia-sia saja. Dalam keletihannya dia menemukan sebuah penginapan dan memutuskan untuk tinggal di sana sehari dan kembali ke kerajaannya esok hari.

Di dalam penginapan itu, dia bertemu dengan seseorang yang terlihat sangat gembira. Sangat mencolok sekali dibandingkan kebanyakan orang yang ada di kota itu. Pangeran merasa keheranan, bagaimana dia terlihat begitu gembira dalam semua kemurungan yang ada di kota ini? Dia mulai mendekati pemuda itu dan berbincang-bincang dengannya. Mereka mulai saling menceritakan diri mereka masing-masing dan mengapa ada di kota ini. Pangeran juga menceritakan tujuan dari perjalanannya selama ini untuk mencari sesuatu yang lebih dari yang ada di kerajaannya, tetapi sampai saat ini belum juga menemukannya dan akan kembali ke kerajaannya esok hari. Pemuda itu ternyata berasal dari arah yang berlawanan dari kerajaan sang Pangeran. Dia menceritakan bahwa di tempatnya semua orang merasa gembira dan tidak ada kesedihan, itulah mengapa dia terlihat selalu tampak gembira. Dan kepergian pemuda itu untuk mencari teman baru dan mengajak orang untuk tinggal di kotanya.

Pangeran tertarik dengan cerita pemuda itu tentang kotanya, dia merasa tempat itulah yang selama ini ia cari. Dia merasa sangat beruntung di saat dia sudah mulai putus asa dan ingin kembali, ada pemuda itu yang memberikan secercah harapan atas pencariannya selama ini. Pangeran itu menyatakan keinginnannya untuk melihat kota pemuda itu. Dan tentu saja pemuda itu menyanggupinya. Keesokan harinya mereka mulai perjalanannya menuju kota pemuda itu.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/9Ev7IL

Friday, 26 December 2014

Batu Kecil {#1}


Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak,tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Tuhan kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Seringkali Tuhan melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Tuhan sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.
... baca selengkapnya di : http://goo.gl/HlThtV
Suara Sumbang
Matahari siang ini masih saja terik seperti biasanya, rasanya hanya beberapa jengkal saja dari kepala. Keadaan ini membuat kerongkonganku kering kerontang sehingga memaksa tubuhku untuk dipenuhi haknya. Kuputuskan untuk rehat sejenak di pos satpam sebuah restoran yang sering kulewati. Karena satpam yang menjaga tersebut sudah lama mengenaliku, jadi mudah saja bagiku untuk mendapat ijin darinya.

“Siang ini kita makan apa ya?” seloroh seorang lelaki berdasi kepada kedua rekan sejawatnya ketika turun dari mobil jeep hitam yang mereka kendarai.
“Saya tahu restoran Jepang yang menyajikan makanan lezat di sekitar sini, beberapa minggu lalu saya pernah mencobanya.” Jawab rekannya sambil membetulkan letak kaca mata minusnya.
“Baiklah kalau begitu, kita akan makan siang di sana” sahut rekan lainnya.

Setelah memarkirkan mobil, bapak-bapak yang diperkirakan berprofesi sebagai pejabat tersebut berjalan bersama menuju restoran yang dimaksud sambil membicarakan berbagai hal. Birokrasi, manipulasi, paradigma, otoritas, eksploitasi dan sederet istilah-istilah asing yang mereka lontarkan entah apa artinya aku tak tahu atau lebih tepatnya aku tak mau tahu apa maksud dari istilah-istilah yang mereka bicarakan itu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah bagaimana caranya agar bisa mendapatkan beberapa lembar rupiah untuk membelikan makanan kedua adikku di rumah yang sedari kemarin pagi perut mereka belum terisi makanan secuil pun. Batu kerikil kecil yang biasanya ku ikatkan pada perutnya tampaknya sudah tidak bisa lagi merekayasa rasa lapar sehingga membangkitkan rasa ibaku untuk mencarikan sesuatu yang bisa untuk mengganjal perut mereka.

Sebenarnya sehari-hari aku bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Induk, tetapi entah mengapa seharian itu barang ibu-ibu di pasar seolah lari dan tak ingin di sentuh olehku. Alhasil tak ada selembar pun uang yang berhasil aku bawa pulang.

Dengan sedikit berlari aku bergegas mengikuti mereka sambil membunyikan kerecek yang aku pegang, sambil menyanyikan sebuah lagu dari salah satu band ternama di negeri ini. Satu menit berlalu aku mengikutinya, namun yang kutuju tak jua bergeming seakan suaraku hanya angin lalu saja. Mereka masih saja khusyuk dengan pembicaraan mereka. Menit kedua, salah satu dari mereka yang kuketahui bernama Pak Sarto dari tanda pengenalnya menoleh ke arahku menyodorkan lembaran dua puluh ribu rupiah sambil tersenyum dan berucap
“ini nak buatmu, semoga bermanfaat.”

Sambil membungkuk ku terima uang itu sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih seraya membayangkan betapa bahagianya wajah adik-adikku melihat aku membawakan sesuatu yang bisa dimakan untuk mereka sebentar lagi.
Tiba-tiba saja dengan pandangan sinis salah satu dari mereka berucap.
“Buat apa Bapak memberikan uang sebanyak itu kepada pemalas seperti dia? Dia hanya pemuda gelandangan yang mengharapkan datangnya rupiah tanpa harus memeras keringat. Dasar pemalas.”
Bagaikan ditimpa tujuh lapis langit, dadaku terasa sesak karena menahan amarah mendengar kata-katanya. Bagaimana mungkin dia menyebutku ‘pemalas’. Padahal dia tidak pernah tahu bagaimana aku harus berjuang untuk mendapatkan uang hanya untuk bertahan hidup hari ini saja. Kalau saja aku tidak memandang Pak Sarto yang baru saja menunjukkan rasa ibanya kepadaku, ingin rasanya aku mendaratkan bogem mentah tepat di mulutnya.

Sambil tersenyum Pak Sarto menjawab
“ jangan berburuk sangka dulu Pak Roy, bisa saja prasangka Bapak itu keliru. Ia mungkin tidak punya pilihan lain selain mengamen di jalanan seperti ini. Bukankah lebih baik jika ia mengamen daripada ia merampok atau bahkan yang lebih parahnya lagi membunuh?”
Dengan sisi-sisa kesabaran yang ku punya, ku beranikan diri untuk membalas ucapan Bapak tersebut.
“Maaf sebelumnya kalau sekiranya kehadiran saya mengusik kegiatan Bapak-bapak.”
Dengan nada tinggi Pak Roy menanggapi ucapanku “siapa yang menyuruhmu bicara? Orang sepertimu tidak punya hak untuk berbicara di hadapan orang-orang seperti kami.” Orang-orang yang lewat di sekitar tempat itu melihatku dengan rasa iba.

“Tenang Pak Roy, biarkan ia berbicara. Kapan lagi kita bisa mendengarkan secara langsung ada rakyat yang mau berbicara seperti sekarang ini?” kata temannya yang sedari tadi hanya bertindak sebagai pendengar yang setia.
“Iya Pak, biarkan saja dulu ia berbicara” timpa Pak Sarto.
“Silahkan nak.” “Ada beberapa hal yang ingin saya katakan. Dulu, Ibu saya pernah bilang kepada saya jika suatu saat kamu jadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang menjadi pelayan bagi rakyatmu. Bukan malah engkau yang minta untuk dilayani. Pemimpin adalah panutan bagi rakyatnya. Wibawa seorang pemimpin tidak di ukur dari berapa banyak orang yang takut kepadanya, akan tetapi berapa banyak orang yang hormat sekaligus segan kepadanya. Dan apakah Bapak pernah berpikir kalau semakin banyak orang miskin seperti saya, maka itu adalah sebagai bukti nyata kegagalan pemimpin-pemimpin seperti anda? Silahkan saja Bapak berbuat sesuka hati. Tapi satu hal yang perlu di ingat, spanduk dan baliho yang bapak pampang pada saat kampanye akan menjadi saksi atas sikap anda ini nantinya.”
Tanpa memperdulikan ocehannya, aku segera mengambil langkah seribu menjauhi mereka semua. Dalam hati rasanya puas sekaligus lega karena telah berhasil memukulnya dengan cara yang elegant.
... baca selengkapnya di : http://goo.gl/pWJkWM
Kristal Bening
Melihat mata polos tanpa dosa selalu membuat ada suatu glenyar aneh dalam dadanya. Seolah-olah ada yang mendorong hatinya, ia rela mengorbankan separuh hidupnya demi melihat si mata polos tak berdosa itu menjadi dewasa. Mata polos itu pulalah yang membuat ia terus berjuang untuk bertahan hidup.

Ia bernama Ati, dan suaminya bernama Ato. Suaminya hanya sebagai pedagang jeruk nipis. Setiap hari ia dan suaminya harus mengengkol sepeda untuk berdagang. Walau lelah, dia selalu mempunyai alasan untuk terus berjuang. Yaitu si mata polos yang tertidur pulas di rumah.

Setiap malam, Ati selalu berdoa dalam sujudnya. Agar Tuhan memberikannya kekuatan dan kesabaran. Air mata itu selalu mengalir menanti titik kehidupan yang lebih indah.

Hingga perjuangannya tak sia-sia. Si suami mempunyai modal untuk berdagang buah yang lainnya. Sementara si mata polos semakin tumbuh menjadi balita yang imut. Ati selalu menemaninya bermain lumpur, bermain petak umpet. Setiap si suami pulang. Ia tak lupa membelikannya sebuah coklat untuk si mata polos tanpa dosa itu.

Dan tibalah saatnya si Polos untuk sekolah. Ati mendaftarkannya ke sekolah terdekat. Mengantarnya setiap pagi. Melakukan apapun agar si polos dapat tersenyum dengan senang. Hal yang sangat menyejukkan hatinya sebagai seorang ibu. Di sisi lain, Ati selalu khawatir setiap malam menunggu suaminya yang selalu pulang larut. Hingga suatu hari datanglah sesuatu itu. Sesuatu yang hanya Tuhan yang tahu.

Si polos kini telah tumbuh, matanya pun kini tidak sepolos dulu lagi. Ati memandangi wajah anak satu-satunya yang mirip dengan suaminya itu. Hafa, itulah nama anaknya yang kini kelas 5 SD. Setiap malam, Hafa dan suaminya selalu berebut untuk dipijat. Namun entah mengapa malam ini Ati hanya ingin memijati suaminya yang terlihat lelah.

“jangan ganggu Ayahmu, Fa. Ayahmu capek,” ucap Ati sambil memijati kaki suaminya.
Hafa langsung merengut. Wajahnya cemberut di tempat. Ati tak menghiraukan Hafa yang memang manja. Beberapa menit kemudian Hafa tertidur di depan TV...................................
... baca selengkapnya di :  http://goo.gl/jFbCBJ

Tuesday, 23 December 2014

JANGAN PERNAH TERLALU BERHARAP! {#1}


17 Desember 2007 – 14:11   (Diposting oleh: Editor)

Anita Roddick adalah perintis perusahaan waralaba The Body Shop yang kini sudah mendunia. Sebelum perusahaan The Body Shop dikenal seperti sekarang, Anita pernah berinisiatif menggerakkan seluruh karyawannya yang berada di kantor pusat untuk melakukan bakti sosial dalam rangka Hari Dunia. Bentuk bakti sosial tersebut adalah membersihkan sebuah pantai di Inggris.
Tetapi inisiatif Anita tidak direspon positif oleh mayoritas pegawainya. Hanya sebagian kecil karyawan, yaitu sekitar 13 orang, yang bersedia berpartisipasi dalam bakti sosial tersebut. 

Sedangkan mayoritas pegawainya memilih untuk menghindar dengan berbagai alasan. Anita sangat kecewa atas penolakan yang ditunjukkan oleh mayoritas karyawan.Tetapi dalam perjalanan menuju pantai yang akan dibersihkan, Anita merasa sedikit terhibur. Pasalnya, ia berpapasan dengan seorang pengendara sepeda yang ramah. 

“Mau kemana?” tanya pengendara sepeda itu kepada dirinya dan rombongan.

“Hari ini adalah Hari Dunia. Kami akan ke pantai untuk membersihkan pantai itu,” jawab Anita Roddick antusias sambil menunjuk sebuah pantai indah di depan mereka.

“Luar biasa! Kemauan Anda semua sangat mulia. Saya sangat senang ada orang yang bersedia turun tangan membersihkan pantai ini, karena memang sudah sangat kotor,” lanjut pengendara sepeda itu tak kalah bersemangat dibadingkan dengan Anita.

“Kalau begitu, mari bergabung bersama kami membersihkan pantai,” ucap Anita girang karena merasa berhasil mendapatkan simpati dan dukungan dari pengendara sepeda itu.

“Jangan pernah harap ya!” cetus pengendara sepeda itu mengejutkan. Tanpa basa-basi pengendara sepeda itu langsung mengayuh sepedanya kencang sekali. Anita dan rombongan ternganga tak percaya pada respon yang sedemikian negatif.

Pengalaman pahit tersebut memberi sebuah pelajaran berharga bagi Anita, bahwa kesadaran orang lain terhadap lingkungan tak mudah diketuk hanya dengan himbauan. Ia berpikir mungkin kesadaran untuk mencintai lingkungan akan tumbuh, bila himbauan itu terus didengungkan lewat berbagai macam media, misalnya poster, brosur, kampanye secara langsung, dan lain sebagainya.

Karena itu dalam setiap pertemuan bersama para stafnya, Anita selalu berkata, “Menciptakan keuntungan dari segi keuangan saja tidak cukup, kita harus menciptakan kemajuan dalam segi spiritual!” Anita sangat serius dengan apa yang ia ucapkan itu. Di bawah kepemimpinannya The Body Shop mencapai kemajuan luar biasa, sudah tersebar di lebih dari 50 negara dengan 1.900 gerai di dunia. Meskipun demikian, perusahaan tersebut masih memegang teguh sebuah visi, yaitu kepedulian terhadap lingkungan.

Pesan:

Kisah di atas menunjukkan bahwa kepedulian itu sangat penting. Bahkan hampir semua agama di dunia menandaskan tentang pentingnya kepedulian. Kepedulian adalah sumber kebaikan.

Meskipun masih sangat sulit dibudayakan, tetapi kepedulian dapat ditumbuhkan hingga akhirnya membudaya dalam kehidupan kita. Langkah pertama guna menumbuhkan kepedulian adalah menjadi panutan. Dengan kata lain kepedulian itu dimulai dari diri kita sendiri.

Langkah selanjutnya adalah mengkomunikasikan dengan orang-orang yang besangkutan tentang solusi-solusi dari masalah yang sedang dihadapi bersama. Jika perlu prinsip-prinsip kepedulian yang dapat dijadikan solusi tersebut dicetak dalam ukuran besar atau cukup menarik perhatian. Dalam kisah di atas Anita berinisiatif mensosialisasikan kepedulian melalui seruan-seruan misalnya dalam bentuk spanduk atau papan iklan, disiarkan lewat media elektronik, cetak, dan lain sebagainya.

Dalam periode tertentu sebaiknya hasil dari kepedulian tersebut disiarkan untuk diketahui bersama. Misalnya sumbangan sukarela dari penduduk di kampung-kampung sebagai bentuk kepedulian disiarkan berapa uang yang sudah terkumpul dan yang sudah digunakan, perubahan yang dihasilkan sekaligus anggaran yang dibutuhkan untuk program selanjutnya. Keterbukaan seperti itu menjadi sumber motivasi bagi setiap individu dari lapisan masyarakat yang lebih luas untuk berpartisipasi, apalagi jika kepedulian tersebut ditujukan untuk memperbaiki keadaan, mengatasi masalah, dan mewujudkan harapan mereka semua.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/PzY6I8

Kabar Baik: Anda Dapat Mengubah Dunia!
Oleh: Victor Asih
Banyak orang yang merasakan bahwa situasi disekelilingnya tidak nyaman, tidak sesuai dengan keinginannya, dan perlu diubah menjadi lebih baik. Mereka berharap dan bahkan kerap kali memaksa orang-orang lain disekitarnya untuk berubah sesuai keinginannya.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa kunci untuk mengubah situasi itu ada pada dirinya sendiri, bukan pada orang lain. Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah dua kali saya dengar sejak beberapa tahun yang lalu. Saya akan coba ceritakan kembali dalam tulisan saya agar dapat memberi inspirasi dan motivasi pada para pembaca artikel ini.


Seorang wanita yang telah lanjut usia tinggal di rumah seorang anak lelakinya. Sejak wanita ini tinggal di rumah tersebut sang menantu wanita merasa tidak nyaman. Dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran sang ibu mertua. Seringkali terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dengan sang ibu mertua. Sang ibu mertua merasa dirinya benar dan harus dihormati sebagai orang tua yang sudah memiliki banyak pengalaman. Sedangkan sang menantu merasa bahwa ibu mertuanya masih berpikir kolot (jadul) tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman sekarang.

“Mertua saya cerewet, suka ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, biang protes, judes, dan juga sok ngatur, termasuk dalam hal mendidik anak-anak saya”, kata sang menantu.

“Sejak dia tinggal di sini, saya merasakan situasi rumah tangga saya menjadi seperti di neraka!”, tambahnya lagi. Memang, sempat terjadi juga beberapa pertengkaran besar dengan suaminya yang membela ibunya saat sang istri ingin agar sang mertua segera dipindahkan ke panti jompo.

Akhirnya dengan merasa begitu putus asa dan sangat membenci sang ibu mertua, sang menantu pergi menemui seorang sinshe (ahli pengobatan tradisional Cina) bernama Ling yang juga adalah sahabat karibnya. Dia berkeluhkesah kepada sahabatnya itu mengenai berbagai masalah yang dideritanya setelah sang ibu mertua tinggal di rumahnya.
“Sebagai sesama wanita,.....................................

 ... baca selengkapnya di : http://goo.gl/q3JdUF

Perbedaan Jadi Tidak Berarti
Nama saya Arini Destianti. Aku dilahirkan dari seseorang yang berhati malaikat yang sering ku panggil IBU. Terlahir sebagai anak yang tidak normal bukanlah keinginanku. Siapapun itu, pasti tidak ingin bernasib sama sepertiku. Memiliki jari tangan yang tidak sempurna, pernah membuatku merasa minder dan menganggap bahwa Tuhan tidak adil terhadapku.

Meskipun saya memiliki keterbatasan, tetapi aku tetap berusaha hidup normal seperti anak-anak yang lain. Sejak kecil, saya selalu mendapat cemohan dan ejekan dari teman-teman. “Si Alien”, itulah julukan yang aku sandang. Bahkan setiap hari ejekan itu selalu saya dengar. Kadang saya tidak bisa membendung air mata saya mengalir di pipi. Sampai suatu saat suara-suara mereka sudah membuatku kebal.

Meskipun saya tidak sempurna seperti anak-anak lain yang seusiaku, tetapi saya sangat bersyukur masih bisa di terima sekolah seperti anak-anak normal lainnya. Sekarang saya sudah duduk di bangku kelas 3 SMP. Sejak masih duduk di Sekolah Dasar, saya sering pulang sekolah dengan air mata yang membasahi pipiku. Kala ketika saya pulang sambil menangis, ibu selalu menasehati dan menyemangati saya. “Sayang kamu tidak usah bersedih dengan omongan teman-teman kamu, di mata ibu kamu adalah anak yang sempurna, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan hambanya, dan ibu sangat bangga terhadapmu, kamu adalah anak spesial yang Tuhan titipkan ke ibu dan ayah, kamu telah membuktikan bahwa kamu itu tidak beda dengan yang lainnya, di sekolah kamu bisa berprestasi dan mengalahkan teman-temanmu yang normal lainnya”. Ibu selalu menangis sambil mengusap kepalaku ketika sedang menasehatiku.

Yah, meskipun terlahir dengan keterbatasan yang kumiliki, tetapi itu sama sekali tidak menghalangiku untuk berprestasi dan mencapai cita-citaku. Tentu saja saya harus belajar dengan tekun dan giat serta tidak lupa untuk berdoa kepada Tuhan.

Hari ini saya memasuki dunia baru. Sekarang saya tidak memakai seragam putih biru lagi, kini telah berubah menjadi putih abu-abu. Yah, katanya waktu SMA tidak dapat terlewatkan begitu saja. Di lingkungan yang baru ini saya harus menyesuaikan diri lagi dengan teman-teman baru. Tidak sedikit sayup-sayup terdengar bisikan tentang aku dari orang-orang sekitar. Berusaha tegar dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan hanya berusaha tampak terlihat ceria di depan semua orang, itulah yang saya lakukan.

Saat pengenalan sekolah dan ektrakulikuler, aku terdiam dan berpikir, ekstrakulikuler mana yang nantinya saya mau ikuti. Apakah orang-orang itu bersedia menerimaku dengan keterbatasan ini?.................

... baca selengkapnya di :http://goo.gl/4PG0mw
 

Saturday, 20 December 2014

Pesan Ibu


Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, “Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

“Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak.

Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang.”

Sambil berkukuh mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. “Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.”

Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, “Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

“Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.”

Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

Teman-teman yang luar biasa,

Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

... baca selengkapnya di http://goo.gl/GHoztP


Local Wisdom: Sing Jembar Segarane, Luaskan Lautanmu
Oleh: Agung Praptapa

Saya terkejut dengan datangnya telepon yang mengaku dari Gedung Putih. “Ini dari asisten pribadi Presiden Obama, beliau minta disambungkan pada Anda” kata suara seorang wanita dalam bahasa Inggris yang temponya dipelankan karena sadar sedang berbicara dengan seseorang yang berbicara bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Tentu saja saya setuju. Suatu kehormatan yang luar biasa ditelpon oleh seorang presiden Amerika. Dan ternyata benar, ini memang telepon dari Obama. Saya sangat kenal dengan suaranya, termasuk diucapkannya “kata-kata sandi“ yang sering kita jadikan sebagai guyonan. Saya cukup heran karena dia masih ingat dengan baik beberapa istilah yang sering kita gunakan saat itu. Setelah berbasa-basi dengan Obama karena sudah hampir 10 tahun kita tidak saling berjumpa, dia masuk pada pokok persoalan.
 
“Kamu kan orang jawa, saya ingin dengar saran kamu yang khas seperti kamu sampaikan sewaktu kamu masih di Amerika dulu” katanya. Saya jadi ingat, sewaktu sama-sama kuliah di Amerika memang saya dan Obama sering terlibat obrolan, bertukar pikiran tentang falsafah manajemen Jawa. Dia sangat antusias bila saya mulai mengusulkan beberapa alternatif pemecahan masalah ekonomi dan bisnis Amerika dengan pendekatan manajemen jawa. Obama juga sangat cerdas dalam membandingkannya dengan pola manajemen barat.

Pertama-tama yang dia sampaikan adalah soal krisis keuangan dunia, yang bermula dari Amerika, dan mau tidak mau harus dia terima sebagai warisan yang tidak menyenangkan dari pemerintahan sebelumnya. Sejak dia terpilih jadi presiden sampai sekarang harga saham menurun tajam sampai 3.000 poin. Kemudian dia juga mengeluhkan dukungan kongres yang setengah-setengah tentang kebijakan pemulihan ekonomi Amerika. Dia sampaikan pula bahwa sudah mulai banyak pelobi Amerika yang merasa dibatasi ruang geraknya, sehingga diam-diam mereka mulai membatasi pula dukungannya kepada pemerintahannya. Belum lagi serangan tersembunyi dari staf gedung putih yang gajinya sempat ia pangkas. Yang paling menjengkelkan, adalah celotehan seorang penyiar radio yang bernama Rush Limbaugh, yang karena kepiawaiannya mengolok-olok sang presiden, dia justru mendapatkan bayaran sampai Rp.300 milyar! Masih banyak lagi yang dia sampaikan yang terlampau panjang kalau saya tulis disini.

“Mr. President,” begitu saya memulai saran saya, “yang pertama saya sampaikan adalah sing jembar segarane”. Itu adalah kalimat dalam bahasa jawa yang terjemahan langsungnya adalah “luaskan lautanmu” Ini falsafah jawa untuk menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya adalah seperti sebuah pasir kecil ditengah samudera yang luas. Manusia bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan jagad raya ini. Sangat sombong buat seorang manusia bila dia merasa dirinya besar dan bisa berbuat sekehendak hatinya. Manusia adalah bagian dari alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan, yang apapun gerakannya tak akan lepas dari irama alam, yang dikendalikan oleh Tuhan Sang Pencipta.

Kalau dilihat dari sisi manajemen, ini mengisyaratkan bahwa kita adalah bagian dari suatu sistem manajemen, yang harus kita ikuti iramanya, sesuai dengan pola dan aturan yang telah ditetapkan dalam manajemen itu sendiri. Tidak pada tempatnya bila seseorang merasa bahwa sistem manajemen selalu bisa diatur. “Sistem yang harus mengikuti apa yang saya mau, bukan saya yang harus mengikuti sistem.” Paham yang keliru inilah yang membuat konsisi sosial ekonomi kita porak poranda karena semua sistem yang ada banyak ditinggalkan oleh orang-orang yang sebetulnya harus mentaatinya. Sistem memang ‘hanya’ buatan manusia, tetapi begitu ditetapkan, harus kita patuhi bersama.

Hal kedua berkaitan dengan “jembar segarane” adalah kita harus memiliki kesabaran dalam menghadapi masalah. Kesabaran disini bukan berarti bergerak pelan-pelan, tetapi harus memiliki pemahaman yang kritis terhadap masalah yang dihadapi. Segalanya harus ditempatkan sebagaimana mestinya. Termasuk diri kita sendiri. Mengambil keputusan harus berdasarkan data yang akurat, atau setidak-tidaknya adalah alasan yang masuk akal, yang kita yakini kebenarannya.

Aspek ketiga tentang “jembar segarane” adalah kita harus memperluas cakrawala, memperluas wawasan kita, dan memperdalam pemahaman kita tentang diri kita maupun orang lain. Kita tidak cukup hanya memahami diri sendiri, walaupun itu juga tugas yang tidak mudah. Memahami diri sendiri berarti kita harus rela menempatkan diri kita sebagai bagian dari proses pembelajaran. Memahami orang lain tidak kalah pentingnya. Dalam dunia bisnis, barang siapa pandai memahami orang lain, merekalah yang akan berhasil menempatkan produknya. Dengan kata lain, mendapatkan pasar. Sangatlah lucu apabila kita menuntut kustomer untuk memahami kita. Kitalah yang harus memahami kustomer!

Selanjutnya, “jembar segarane” berarti kita harus siap menjadi sorang “pemaaf yang baik”. Seorang pemaaf yang baik bukanlah orang yang selalu mentolerir segala bentuk kesalahan, namun adalah seorang yang bijak dalam memahami batas-batas kemampuan manusia. Manusia tidak ada yang lepas dari kesalahan, tetapi bukan berarti kesalahan adalah suatu hal yang selalu harus dimaklumi dan dimaafkan. Kesalahan harus dipandang sebagai pembelajaran, sehingga tidak terulang kembali dimasa datang.

Apa yang saya katakan tadi tentunya tidak pantas disampaikan secara langsung kepada sang presiden, yang saya yakin sudah sangat paham tentang hal-hal seperti itu. Namun apa salahnya kalau saya berbagi, dan saling mengingatkan, untuk suskes kita semua. Toh itupun hanya percakapan imaginer saya dengan Obama. Yang penting disini adalah mari kita tidak henti-hentinya memahami posisi kita didunia ini, termasuk ditempat kita bekerja. Selanjutnya kita tingkatkan kesabaran kita, dengan tetap teguh menjaga stamina kita untuk mendapatkan yang kita mau. Memahami diri sendiri dan orang lain adalah kunci sukses untuk bisa memenangkan persaingan, dan yang terakhir, kita harus memahami dengan baik bahwa hidup adalah belajar. Maka “sing jembar segarane!”

Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Saat ini sedang merintis profesi baru sebagai penulis manajemen populer.

Alumni Writer Schoolen Batch VIII.
Website: www.praptapa.com
Blog: www.praptapa.unsoed.net
Email: praptapa@yahoo.com.

http://goo.gl/McA6Ex

Monday, 15 December 2014

Senja di Tepi Pantai


“Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku”

Aku masih ingat awal aku bertemu dengan gadis berambut panjang, bermata belo, berbibir tipis dan kulit kuning langsat. Langit berwarna biru bersih, mentari pagi yang menghangatkan badan, kicauan burung yang merdu dan sejuknya alam, Menjadi saksi bisu pertemuan kita. Waktu itu hari kedua aku memasuki Masa Orientasi Siswa di SMP Bunda Citra, saat aku ingin memasuki halaman sekolah aku mendengar teriakan wanita dari seberang jalan SMP Bunda Citra “Hey kamu”, aku merasa teriakan itu tertuju padaku, saat aku menoleh aku melihat seorang gadis sedang mendekatiku di gerbang sekolah yaitu kamu. “Ini” Tiba tiba kau memberiku sebuah dompet berwarna hitam, aku merasa pernah memilikinya!
“Tadi saat kamu turun dari angkutan umum aku melihat dompetmu terjatuh, aku sudah memanggilmu sedari tadi tetapi kau tak menoleh sedikit pun” Jelasnya
“Ohh trimakasih banyak, kau baik sekali, maaf tadi aku tak mendengar kau memanggilku” aku berterimakasih padamu, kau hanya tersenyum manis padaku.
“Siapa namamu?” kau menjulurkan tangan kananmu dan bermaksud berkenalan denganku, Aku pun membalas tangan mungil yang jari jemarinya ramping dan lentik.
“Ikhlas Prasetya, dan namamu?” Jawabku
“Aku Kasih Anggraini” jawabmu “kau sekolah disini juga? murid baru ya?” katamu melanjutkan.
“Iya, sepertinya kau juga murid baru disini!” kataku.
“Wahh kebetulan sekali, berarti kita bisa sering bertemu donk, satu angkatan pula!” jawabmu riang.

Aku mengajakmu berjalan bersama, menyusuri lorong sekolah..
“Apakah kau sudah mendapatkan teman baru di sini?” Aku bertanya padamu.
“Sudah” jawabmu singkat.
“Siapa?” kataku yang senang mendengar jawabanmu dan sedikit penasaran.
“Kamu” jawabmu singkat dan tersenyum manis, senyuman paling indah yang belum pernah aku lihat dari siapapun.

Waktu terus berjalan dan tak terasa aku sudah bersahabat dengan Kasih hampir 3 tahun lamanya dari MOS SMP sampai kelulusan SMP. Hari ini, hari dimana kelulusan diumumkan, seragamku akan berubah menjadi putih abu-abu.

Aku melihat dari kejauhan anak-anak yang sedang bergerombol mengelilingi papan pengumuman, yang aku yakin itu hasil dari nilai ujian. Aku dan Kasih langsung berlari menghampiri kerumunan dan melihat apakah Nomor ujianku dan Kasih terpampang disitu yang artinya aku dan kasih lulus. Jantungku berdegup sangat kencang, keringatku bercucuran, nafasku terengah-engan, aku masih terus memburu nomor ujianku, jantungku terasa berhenti berdetak beberapa saat, tak lama kemudian, aku bersorak kegirangan disusul sorakan teman-temanku yang lain dan tentu juga Kasih, kami semua lulus. Lapangan penuh dengan anak-anak agkatanku yang berhambur dan mencoret-coret baju dengan Pilok, maupun spidol.

Merasa sudah puas dengan merayakan kelulusan di lapangan SMP Bunda Citra, aku mengajak Kasih menuju kantin, siang itu matahari sangat panas, panasnya membakar kulit, aku memesan es teh manis dan Kasih memesan Jus jeruk kesukaannya.

Aku mulai membuka pembicaraan, aku baru sadar sedari tadi Kasih hanya diam saja, matanya menerawang entah kemana.
“Kasih setelah ini kamu ingin melanjutkan ke SMA mana?” tanyaku.
“Aku takkan melanjutkan Sekolah lagi” jawabnya sambil merunduk.
Aku langsung tersendak mendengar jawaban Kasih.
“serius?, Pasti kau sedang bergurau kan? tak lucu gurauanmu itu” balasku
“Aku serius dan amat serius Ikhlas, kau tahu sendiri orang tuaku, ayahku baru saja di PHK, ibuku hanya penjual nasi uduk, aku puya 2 adik yang masih memerlukan pendidikan. Apakah biaya untuk menyekolahkanku cukup? Melihat keuangan keluargaku saja, aku sudah tak sanggup. Aku tak mau merepotkan mereka Ikhlas” jelas Kasih.
Hening beberapa saat, awan hitam mulai menutupi langit, matahari bersembunyi tepat saat aku melihat Kasih mulai menangis, miris memang melihat keadaan Kasih dan keluarganya yang hidup pas-pasan.
“Lalu bagaimana dengan cita-citamu yang ingin menjadi Penulis terkenal? apakah kau ingin mengurungkan cita-citamu dan membatasi pengetahuanmu? Kasih, kau ini termasuk perempuan pandai dan rajin, kau bisa mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah, Jangan biarkan uang menjadi penghambat cita-citamu Kasih” balasku.
Kali ini aku melihat kebimbangan di wajah kasih, kebimbangan yang baru aku lihat dari seorang Kasih yang selalu teguh terhadap pendiriannya.
“Demi semesta yang menghidupiku, Matahari yang menjadi pencerahku, aku amat tak suka jikalau aku harus menghentikan pendidikanku. Malang nian nasibku, tetapi apalah boleh buat, fikiranku sudah buntu ditutupi masalah ekonomi dan masa depanku yang tak tahu apa jadinya nanti” kata kasih yang mulai putus asa.
“Beasiswa? Aku tak pernah berfikir sejauh itu, aku tak pandai, sepandai yang kau fikirkan terhadapku Ikhlas. menulis?, oohh aku tak sanggup pula membayangkan jikalau aku harus mengurungkan niatku untuk menjadi seorang penulis” sambung Kasih.
“Kau sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang kau fikiran Kasih, kini tinggal kau yang menentukan mana yang akan kau pilih, kau belum pernah mencari beasiswa, setidaknya kau bisa mencobanya, aku ingin melihat Kasih yang kuat dan tak gampang rapuh oleh keputusasaan, aku ingatkan sekali lagi jangan biarkan uang menjadi penghambat cita-citamu, masih banyak jalan menuju Roma Kasih, Kau harus pula mengingat pepatah. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” balasku lagi.



Jam dinding di kamarku sudah menunjukan pukul 00:00 malam, Bulan semakin tinggi, Burung Hantu sudah terdengar suaranya, Kelelawar pun mulai keluar dari sarangnya, tetapi aku tak jua bisa tertidur, karena memikirkan pembicaraan aku dan Kasih siang tadi di kantin. Aku sungguh sedih melihat sahabatku ditutupi kebimbangan. Aku tahu sedari kecil ia memimpikan ingin bersekolah sampai sarjana dan kali ini dia harus menghadapi persoalan yang menjadi penyuram impiannya. Aku ingin melihat Kasih memakai toga dan menjadi penulis terkenal. Mengingat persahabatan yang aku jalin bersama Kasih selama ini, jahat sekali rasanya jika aku membiarkan dan tak melakukan apa-apa saat sahabatku mengalami kesulitan, Tetapi apa yang harus aku lakukan sekarang?



Aku amat beruntung memiliki sahabat seperti Ikhlas yang selalu memberikanku semangat dan kepercayaan. Aku tak ingin mengecewakan Ikhlas. Akupun ingin mengubah kehidupan keluargaku kelak, aku tak mau membiarkan diriku rapuh oleh keputusasaan. Benar kata Ikhlas masih banyak jalan menuju Roma. Baru sekecil ini masalahku masa iya aku sudah menyerah, sementara aku yakin di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dariku dan mereka selalu berusaha. Mungkin aku bisa memakai saran Ikhlas untuk mencari beasiswa dan aku bisa melanjutkan sekolahku tanpa merepotkan orang tua. Aku juga bisa bekerja sambilan sehabis pulang sekolah. Yahhh aku pasti bisa, Terimakasih Ikhlas karena kau selalu ada setiap aku membutuhkanmu.



Liburan panjang kali ini aku mengajak Kasih untuk menikmati indahnya Pantai di waktu senja, sambil menghilangkan sejenak beban fikiran yang aku dan Kasih rasakan.

Semerbak harum air laut merasuk ke dalam hidungku, angin yang menarik-narik rambuatku tak henti-hentinya mengeluh, mataku terus menerawang Pantai yang ada di depanku di temani mentari yang mulai tenggelam di tempatnya, sesekali ku melihat kawanan burung menuju pohon-pohon kelapa yang rimbun di pulau yang ada di bagian timur tempat aku dan Kasih duduk, entah pulau apa namanya. Buih-buih lembut air laut bergoyang di tabrak ombak dan menggelitik kakiku. Tak sengaja mataku mendapati Kasih yang disirami sisa-sisa cahaya mentari yang mulai menghilang, sungguh Elok rupa Kasih.

“Kasih tau kah kau bahwa ini adalah senja terbaik yang pernah aku rasakan seumur hidupku?” kataku sambil menggenggam tangan Kasih
“Entahlah, tapi aku mersakan hal yang sama sepertimu” Kasih membalasnya dengan tangan yang lebih dieratkan padaku
“Memandang agkasa luas, menghirup harum semerbak air laut, dan di temani oleh sahabatku, itu membuatku terbuai akan senja hari ini”
“tau kah kau Ikhlas? Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku” ucap kasih dengan sungguh-sungguh.
Aku setengah ternganga mendengar perkataan Kasih, aku lalu tersenyum bahagia.
“hahaha… ada satu kejutan untukmu Ikhlas” kata kasih yang membuatku penasaran.
“kejutan apa? Kau membuatku penasaran, ayo cepat katakan” kataku
“hahaha… aku mengajukan Beasiswa untuk masuk ke SMA Negeri Unggulan, seantero negri ini.”
“Serius kau Kasih? Aku sungguh bahagia, amat bahagia jika itu memang benar” kataku yuag tak sedikit percaya
“Masa aku tega membohongimu, kau tak percaya padaku?” balas Kasih yang sedikit cemberut.
Aku tersenyum jahil padanya, ada sedikit senyum mengembang di ujung bibirnya. Lagi-lagi buih-buih air laut menggelitik kakiku, seakan merayuku untuk menikmati air laut saat senja, aku mendorong Kasih hingga ia sedikit terjungkal, setengah pakainnya basah. Aku berlari kecil membiarkan tanganku terbentang. Kutengok Kasih yang sedang berlari memburuku, aku terbahak melihatnya.

Tawaku dan tawanya terlebur menjadi satu, Deburan Ombak di karang, nyanyian para burung, dan angin yang berhembus, menjadi penerus setiap langkah yang aku lewati bersama Sahabatku, Kasih. Air di laut menjadi alur persahabatan yang aku dan Kasih jalani, takkan pernah Habis dimakan waktu.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/4S0S0R

Antara Aku, Tukang Cukur dan Tuhan 
 

Sudah panjang. Aku harus memotongnya. Aku langsung mengambil motorku dan pergi ke tukang cukur terdekat.

Kuhentikan motorku di depan toko itu. Tokonya sederhana, menggabung dengan rumah si tukang cukur. Cat warna hijau dengan jendela besar di depan toko itu yang ditulisi dengan cat warna merah, tulisannya adalah “POTONG RAMBUT. RAPI. MURAH. DIJAMIN PUAS”.

Aku langsung mengambil kunci motor dan berjalan masuk ke dalam. Ruangannya sederhana, tembok yang di cat senada dengan luarnya, meja dan kursi yang berwarna putih tanpa pemakai, alat-alat cukur lengkap dengan sisir bermacam-macam, ada yang kecil, ada juga yang besar. Ada yang warna hitam, sampai warna oranye pun ada.
Namun di sini sepi. Tidak ada pelanggan sama sekali, mungkin hanya musik dangdut yang dinyalakan si tukang cukur.

Sesaat aku melihat-lihat, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Refleks aku langsung berbalik dan melihat sesosok pria hitam kurus berkumis dengan pakaian merah dan celana hitam. Lalu dia tersenyum kepadaku dan berkata, “Mau potong Mas?”. Aku mengangguk dan duduk di kursi putih. Kursi si pelanggan.
“Sepi, Mas?” Tanyaku sambil melihat bayangan si tukang cukur yang sedang mencari guntingnya lewat cermin di depanku ini. Cermin.
“Iya nih, Mas. Mungkin para pelanggan sudah bisa potong rambut sendiri.” Jawabnya sambil memasangkan kain plastik ke tubuhku.
“Mungkin ya, Mas.” Kataku dan bersiap-siap untuk dipotong rambutku. Saatnya untuk say goodbye pada rambut tersayang.
“Ini rambutnya mau diapain, Mas?” Tanyanya.
“Dirapiin aja, Mas.” Jawabku singkat. Si tukang cukur memulai ritual potong rambut dengan memotong rambut samping kananku, dan melanjutkannya dengan teliti dan penuh dengan Kesenian ala tukang cukur.
“Tuhan ternyata nggak ada, Mas.” Katanya secara tiba-tiba di tengah aku yang sedang asyik melihatnya yang ahli memotong rambutku.
“Maksud Mas?” Tanyaku bingung.
“Iya, Tuhan itu tidak ada.” Katanya sambil menatap mataku melewati perantara cermin.
“Kok bisa Mas bilang kayak begitu?” Tanyaku
“Kalau Tuhan itu ada, mengapa ada rakyat yang miskin, hidup menderita di pinggir jalan, meminta-minta. Iya, kan?” Jelasnya. Aku langsung diam. Hanya diam selama ritual ini berlangsung. Melihat kembali keahlian si tukang cukur.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/W8hTCB

Berteman dengan Kekurangan, Membangun Kepercayaan Diri
Setiap manusia mempunyai kekurangan sekaligus bakat, kemampuan dan keunikan tersendiri. Sayangnya, tak cukup banyak orang mempunyai kepercayaan diri dan hidup bahagia. Bagi saya, liputan seputar pesta pembukaan Paralympic ke 13 di Beijing-Cina bulan Agustus 2008 lalu memberi pelajaran berharga tentang bagaimana berteman dengan kekurangan dan pentingnya kepercayaan diri untuk meraih kebahagiaan.

Pembukaan acara tersebut diawali oleh aksi Hou Bin, yaitu seorang pemegang 3 medali emas lompat tinggi paralympic. Semula ia duduk di kursi rodanya. Dengan penuh percaya diri ia menarik tambang hingga posisi tubuhnya sedikit demi sedikit terangkat.

 
Sekali waktu ia mencoba istirahat. Sementara itu tepukan dan teriakan penonton semakin membahana untuk memberinya semangat. Perjuangan yang tak kenal lelah membuatnya sampai di ketinggian 40 meter dan berhasil menjalankan misinya menyalakan obor pembukaan Paralympic ke 13 Beijing 2008.

Sesudahnya acara diisi dengan tarian para penari tuna runggu. Diantara mereka ada seorang gadis kecil berusia 11 tahun. Li Yue, kakinya cacat tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa bumi di propinsi Sichuan 12 Mei 2008, menari dengan penuh semangat dan senyum yang terkembang indah.

Sekalipun hanya duduk di kursi roda, ia mencoba mengikuti alunan musik dengan tariannya. Li Yue kemudian berkata, ”Gempa bumi bisa menghancurkan tubuh badan saya, tapi ia tidak bisa membinasakan impianku. Saya akan terus menjadi seorang manusia yang penuh semangat juang!” Ucapan gadis kecil itu secara eksplisit menggambarkan rasa percaya diri yang luar biasa.

Ade Adepitan, seorang atlit paralympic asal Inggris, mengakui dirinya tak mudah mengagumi prestasi orang lain. Tetapi pada kesempatan tersebut dengan terbuka ia menyatakan bahwa hatinya begitu tersentuh oleh semangat Li Yue. “This is more than just sports. It’s about life, hope and not giving up. – Ini bukan sekedar olah raga. Ini tentang kehidupan, harapan dan tidak menyerah,” katanya.

Semua media yang meliput acara tersebut melontarkan pujian pada semangat kepada 4.200 atlet peserta olimpiade paralympic, karena cacat sama sekali tidak mengurangi kepercayaan diri mereka untuk menggali hal yang terbaik di dalam diri mereka sendiri. Mereka menularkan semangat kepada dunia untuk bangkit, melawan keterbatasan, dan berprestasi. Seorang pembawa acara dari sebuah stasiun televisi Perancis berkomentar, ”Inilah hadiah terindah dari China untuk dunia.”

Dari momen tersebut saya dapat merasakan bahwa penerimaan terhadap kekurangan dan kepercayaan diri mereka sangat penting untuk mencapai prestasi demi prestasi dan hidup lebih bahagia. Bagaimana dengan kita? Sebenarnya kita juga mempunyai kemampuan untuk menerima kekurangan diri kita sendiri dan memiliki kepercayaan diri. Tetapi seiring waktu berlalu dan beberapa hal, maka penerimaan dan rasa percaya diri itu mulai berkurang. Beberapa hal berikut ini mungkin dapat membantu Anda untuk berteman dengan kekurangan dan membangun kepercayaan diri.

Pertama, definisikan arti kesuksesan menurut versi Anda sendiri. Sebab rasa percaya diri berkaitan erat dengan konsep tentang arti kesuksesan. Konsep yang jelas tentang arti kesuksesan akan membantu Anda menemukan gambaran tentang beberapa hal yang Anda butuhkan atau langkah-langkah yang harus Anda lakukan.

Selanjutnya biasakan untuk selalu berpikir positif akan segala kelebihan dan kekurangan yang Anda miliki. Semakin positif yang Anda pikirkan, semakin positif pula hasil yang akan Anda dapatkan. Tidak ada yang lebih kuat dan kreatif dibandingkan dengan pikiran Anda.

Kemudian, milikilah visi, karena visi dapat meningkatkan energi dan semangat. Semakin besar energi dan semangat yang Anda miliki, semakin mudah meningkatkan rasa percaya diri dan kecintaan terhadap diri Anda. Umumnya orang-orang yang mencintai diri mereka selalu mempunyai visi dan tertantang untuk meningkatkan visi mereka.

Milikilah rasa syukur kepada Tuhan YME, bahwa Tuhan YME menciptakan segala sesuatu yang terbaik untuk setiap manusia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ia miliki. Jangan mengeluh, karena hidup adalah hadiah terindah dari Tuhan YME. Dengan demikian Anda akan dapat menerima kekurangan, dan merasa nyaman dengan diri Anda dengan segala keunikan yang tidak dimiliki orang lain.

Menerima kekurangan dan meningkatkan kepercayaan diri sangat bermanfaat untuk meningkatkan 4 hal, yaitu vitalitas, semangat, energi, dan kegigihan. Empat hal tersebut sangat kita perlukan untuk melakukan hal-hal positif untuk diri sendiri maupun orang lain. Jadi jangan pernah mengabaikan diri sendiri, karena bagaimanapun juga masing-masing diantara kita berhak hidup senang dan bahagia.

*Andrew Ho adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/O7OrLv 
 

Wednesday, 10 December 2014

EXPERIENTIAL MARKETING TUKANG OJEK


17 November 2008 – 06:20 (Her Suharyanto)   Diposting oleh: Hendri Bun

(Rate: 0 / 0 votes)

Ini adalah cerita teman lama saya, Beni namanya, yang tinggal di perumahan di pinggiran Jakarta.

Suatu pagi dia keluar rumah dengan mobil untuk mengantar istrinya ke terminal shuttle bus yang menghubungkan perumahan kami dengan sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Teman ini sendiri seorang pekerja freelance yang sibuk, tapi selalu menyempatkan diri mengantar anak-anaknya ke sekolah dan istrinya ke terminal, khususnya kalau tidak ada pekerjaan di luar kota atau luar negeri.

Begitu roda mobilnya berputar, dia melihat Irma, tetangganya, baru saja menutup pintu pagar. Tumben berangkat pagi, begitu pikir teman saya. Biasanya Irma berangkat siang. Belum sempat melihat Beni, Irma sudah melambai ke arah tukang ojek yang mangkal di ujung tikungan. Sedetik kemudian, mobil Beni sudah berada di dekat Irma. Esther, istri Beni, langsung heboh berhai-hai dengan Irma. Dan apa yang terjadi?

“Gue nebeng aja ya, ke terminal shuttle bus…” teriaknya. Kemudian dia berteriak kepada si tukang ojek, “Pak, maaf ya… nggak jadi.”

Mobil pun bergerak. Tetapi sekejap kemudian Beni sempat beradu pandang dengan si tukang ojek. Ada rasa kecewa sekaligus rasa jengkel di mata tukang ojek itu. Bukankah juga ada sebersit rasa benci dalam tatapan itu? Begitu pikir Beni. Cara tukang ojek itu memandang terus terbayang di kepala Beni. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah telah merampas rejeki tukang ojek. Padahal jangan-jangan Irma adalah calon penumpang pertamanya, yang akan memberinya uang untuk membeli beras hari ini. Jangan-jangan dia sudah menunggu penumpang sejak subuh. Jangan-jangan sampai sore nanti dia tidak dapat penumpang…

Terganggu dengan rasa bersalah itu, Beni memutuskan untuk menemui tukang ojek yang sering mangkal di dekat rumahnya itu. Dia menyiapkan uang sepuluh ribu rupiah untuk “ganti rugi plus”. Sebab tarif normal dari bloknya ke terminal shuttle bus adalah enam ribu rupiah.

Di tikungan dekat rumahnya tukang ojek itu masih di sana, Ketika Beni lewat, mata tukang ojek itu memandangnya . Beni menerjemahkan pandangan itu sebagai teriakan, “Kamu sudah merampas rejeki anak istriku.”

Maka Beni memilih tak menunda waktu. Begitu memarkir mobil, dia langsung mendekati si tukang ojek. Dengan setulus hati dia minta maaf, dan bermaksud memberi uang “ganti rugi plus” itu kepada si tukang ojek.

Namun reaksi si tukang ojek sungguh di luar perkiraannya.

“Kantongin aja deh pak,” katanya dengan wajah dingin.

Tentu saja Beni kaget bukan main. Tapi dia berusaha tenang, dan terus berusaha bicara baik-baik dengan si tukang ojek. Dia yakin, si tukang ojek pasti akan memahami dan menerima niat baiknya. Hanya harus sabar.

Benar, lama kelamaan si tukang ojek mau buka mulut, bahkan kemudian cenderung curhat. Selama ini, katanya, dia merasa warga kompleks Beni, terutama kaum ibu, cenderung menghindari dirinya. Kalau ada pilihan, warga kompleks, begitu istilah yang dia pakai, akan memilih tukang ojek lain, dan menghindari dirinya.

“Mungkin karena tampang saya sangar, Pak. Tapi mau gimana lagi, tampang saya memang begini,” katanya.

Tetapi hal itu tidak membuatnya surut langkah. Sebaliknya, dia justru berpikir bagaimana cara membuat para ibu dan remaja putri di kompleks itu merasa nyaman memakai jasanya. Wajah boleh sangar, tetapi sebagai penyedia jasa dia ingin profesional… begitulah kira-kira kalau kata-katanya diterjemahkan dalam bahasa bisnis.

Menurut si tukang ojek, satu-satunya cara untuk menunjukkan bahwa dia tidak berbeda dengan tukang ojek lain, bahkan lebih baik, adalah metode experiential (ini bahasa saya). Ketika ada ibu-ibu yang terpaksa, karena tidak ada pilihan lain, untuk memakai jasanya, dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa yang sangar hanya wajahnya.

“Saya usahakan bawa motor setenang mungkin, nggak ngebut,” katanya. Dia juga akan memancing penumpangnya dengan obrolan ringan. Kalau penumpangnya senang ngobrol dia akan meladeni sekaligus untuk menunjukkan jati dirinya. Tapi kalau sang penumpang tidak suka ngobrol, dia akan diam, tetapi dia akan menjaga kesopanan dan keramahannya. “Saya satu-satunya tukang ojek yang nggak pasang tarif,” katanya.

Beni menjadi lebih paham. Tukang ojek itu kecewa bukan semata-mata kehilangan uang enam ribu rupiah, tetapi kehilangan peluang melakukan experiential marketing dengan pelanggan potensialnya. “Ibu itu belum pernah pakai saya…” tuturnya.

Maka Beni kemudian bilang, “Pak, tolong ini terima saja. Cuman ini. Tapi saya janji, saya akan bilang ke ibu-ibu kompleks ini tentang siapa sebenarnya Bapak.”

Beni memenuhi janjinya. Sasaran promosi pertamanya adalah Esther, kemudian Irma, dan kemudian dua orang ini menjadi seperti aktivis MLM yang haus downline. Dan cerita bermuara pada happy-ending, walau ini bukan bagian dari cerita film Hollywood.

(Her Suharyanto, her@jurutulis.com)


... baca selengkapnya di : http://goo.gl/4CJcIZ

Mengalir Seperti Air
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati." Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. "Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru. "Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
... baca selengkapnya di : http://goo.gl/l0bqcS
Mutiara Hati
Awan masih diselimuti embun dan udara yang masih menyejukkan badan. Ketika orang-orang masih terlelap tidur dan azan subuh pun berkumandang, aku merasakan kepedihan batin ketika ku lihat ibu yang sudah bangun terlebih dahulu daripada aku. Ia yang seharusnya masih beristirahat di tempat tidur kini sudah harus mempersiapkan segera peralatan untuk membuat kue yang akan ku jajakan nanti. Ingin rasanya aku yang mengerjakannya tetapi, pasti ibu tidak mengizinkannya. Hanya menjajakan kue lah yang bisa kubantu pada saat matahari belum terbit.

Ayam berkokok menunjukkan saat aku harus menjajakan kue buatan ibu yang masih panas. Udara yang begitu sejuk membuat aku bersemangat untuk menjajakan kue buatan ibu. Saat-saat suasana ini lah yang aku suka ketika menjajakan kue yaitu, udara yang begitu segar serta alam-alam yang turut merasakan kebahagiaan dan bertasbih menyebut nama-Nya. Seakan-akan diri ini tidak ingin beranjak dari suasana seperti ini. Aku merasa diri ini sangat beruntung sekali

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/LISM29

Tuesday, 9 December 2014

Jangan Pernah Menyerah


?Aku hanya manusia biasa.. karena aku tidak mampu mengerjakan semuanya, maka aku tidak akan menolak mengerjakan apa yang mampu aku lakukan.. ?

(Albert Everett Hale)

Aku adalah seorang perawat yang khusus merawat penderita stroke. Ada dua karakter khas yang aku temui dari penderita stroke, mereka sangat ingin hidup ? atau justru ingin segera mati. Salah satu pasien yang cukup berarti bagiku ialah Albert.

Saat berkeliling melakukan pemeriksaan di rumah sakit, aku melihat Albert, dalam posisi meringkuk dalam posisi seperti janin dalam kandungan. Ia seorang pria setengah baya. Tubuhnya ditutupi selimut ? dan kepalanya hampir tidak kelihatan di balik selimutnya. Ia tidak bereaksi saat aku memperkenalkan diri.

Di ruang jaga perawat aku mendapatkan informasi bahwa umur Albert tidak panjang lagi. Ia hidup sendirian, istrinya telah meninggal, dan anak-anaknya entah berada dimana. Mungkin aku dapat menolongnya. Meskipun aku seorang janda, tubuhku bagus dan wajahku masih cantik. Aku jarang bergaul dengan pria di luar rumah sakit. Anggap saja terapi ini adalah sebuah petualangan bagiku.

Keesokan harinya, aku mengenakan pakaian putih ? tetapi bukan seragam perawat seperti biasanya. Aku masuk ke kamar Albert. Albert langsung membentak, menyuruhku keluar. Tetapi aku justru duduk di kursi di dekat tempat tidurnya. Aku berusaha memberinya senyuman sesempurna mungkin.

?Tinggalkan aku ! Aku ingin mati !? seru Albert.

?Apa tidak salah ? di luar banyak wanita cantik menunggumu.? sahutku.

Ia tampak tersinggung. Tetapi aku terus berbicara panjang lebar tentang betapa senangnya aku bekerja di rumah sakit khusus rehabilitasi stroke ini. Aku menceritakan betapa bangganya aku saat dapat mendorong seseorang untuk mencapai potensi maksimum mereka. Aku juga mengatakan, bahwa ini adalah tempat yang penuh kemungkinan. Ia tidak menyahut sepatah kata pun.

Dua hari kemudian aku mendapatkan kabar dari teman perawat bahwa Albert menanyakan kapan aku bertugas di kamarnya lagi. Kawan-kawan mulai mengedarkan gosip bahwa ia adalah ?pacar?-ku. Aku tidak membantah gosip itu, bahkan aku selalu berseru kepada orang lain untuk jangan mengganggu ?Albert?-ku saat keluar dari kamar Albert. Hal ini memang sengaja kulakukan agar Albert mendengarnya.

Satu minggu kemudian Albert mau belajar duduk dan melatih keseimbangan. Ia juga bersedia mengikuti latihan fisioterapi asalkan aku mau datang lagi untuk mengobrol. Dua bulan kemudian, Albert sudah mampu menggunakan sepasang alat bantu berjalan. Dan pada bulan ke-3, ia sudah meningkat ke penggunaan sebatang tongkat penyangga.

Pada hari ketika Albert diijinkan pulang, kami merayakannya dengan sebuah pesta. Aku mengajaknya berdansa. Ia memang bukan pria yang romantis, tapi ia mampu untuk berdansa dengan baik. Aku tak dapat menahan air mataku saat berpisah dengannya.

Beberapa waktu setelah perpisahan itu, secara berkala aku selalu mendapatkan kiriman bunga dari Albert. Dan kadangkala disertai dengan sekantung kacang. Ia mulai berkebun lagi seperti dulu.

Beberapa tahun kemudian, pada suatu siang, seorang wanita cantik datang ke rumah sakit. Ia meminta untuk bertemu dengan ?si penggoda?. Waktu itu aku sedang memandikan seorang pasien.

?Oh, jadi itu Anda ?? Wanita itu bertanya. Ia mengatakan bahwa Albert adalah seorang pria sejati. Ia juga menceritakan bagaimana Albert telah menjadi seorang motivator yang sangat terkenal di kota tempat tinggalnya.

Senyum wanita itu mengembang ketika ia memberiku sebuah undangan untuk datang ke pesta pernikahan mereka.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/y82kEt
 
 
BELAJAR MENANGGUNG RISIKO KEHIDUPAN DARI ANAK KECIL
16 November 2006 – 10:52   (Diposting oleh: Editor)

“Remember that great love and great achievements involve great risk. – Ingat! Cinta yang besar dan prestasi tinggi melibatkan resiko yang besar pula.” ~ Anonim

Risiko memiliki komponen ketidakpastian. Seumpama seseorang meloncat dari gedung berlantai 21 dan mengenakan parasut di punggungnya, ia tidak punya kepastian apakah nantinya parasut itu terbentang dengan baik ataukah tidak. Jika parasut itu gagal di kembangkan, dia berisiko terluka atau meninggal. Tetapi jika ia terjun tanpa parasut, jelaslah ia pasti meninggal dan berarti ia sama sekali tidak menghadapi risiko. Karena risiko itu ditandai dengan berbagai kemungkinan atau ketidakpastian.

Risiko juga bersifat perorangan. Kalaupun misalnya terjadi luberan lumpur panas seperti yang terjadi di Porong – Jawa Timur itu pasti tak hanya dihadapi perusahaan pengebor gas bumi. Tetapi risiko luberan lumpur panas tersebut juga menimpa semua komponen, diantarnya para pemegang saham, kreditur, dewan direksi, pegawai, terlebih penduduk sekitar yang harus mengungsi meninggalkan rumah dan harta benda karena terendam lumpur panas, dan lain sebagainya.

Kita menghadapi risiko setiap hari entah pada saat kita menyeberang jalan, makan, sekolah atau mengejar angkutan kota untuk berangkat kerja atau bahkan pada saat tidur. Beberapa sikap hati-hati sekalipun juga mengandung risiko. Contoh kita mencuci buah-buahan dan sayuran dengan larutan khusus supaya terhindar dari dampak penggunaan pestisida yang melekat pada buah-buahan dan sayuran. Tetapi ternyata langkah tersebut juga memiliki konsekuensi negatif yaitu berkurangnya vitamin dan mineral yang terkandung di dalamnya.

Dengan kata lain, risiko menguasai berbagai area dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan profesional dimanapun kita berada. Kendati demikian, jangan sampai kita berkeinginan untuk tidak menghadapi risiko, karena hal itu sangatlah tidak produktif. Segala risiko tak harus mengganggu kelangsungan aktifitas kita sehari-hari ataupun upaya kita untuk menjadi lebih baik.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/jcBQAT
 
 Mesin Pemahat Mimpi
“Sial!” Danu mendesis kesal. Ia membungkukkan badannya sampai sembilan puluh derajat, dengan napas yang belum stabil. Keringat mulai membasahi tempatnya berpijak. Bagai gutasi di ujung daun, peluh itu turun satu-satu dari rambutnya yang meruncing karna basah. Terik matahari membakar lintasan lari yang berwarna kemerahan.

“Latihan lagi ya Dan. Kalau di dalam sekolah saja kalah dengan Topan, apa kabar di tingkat Provinsi minggu depan? Ini baru simulasi tingkat kota Dan. Di tempat kedua saja tidak cukup. Rekor larimu masih kalah jauh dengan Topan.” Seorang laki-laki paruh baya menepuk punggung Danu. Danu lantas berdiri dengan tegak, menghadap laki-laki itu. Namanya Setya dia pelatih tim atletik di SMA. “Kita beruntung, sekolah kita punya dua kandidat yang lolos. Memang lebih beruntung lagi kalau kita dapat dua tempat di podium juara. Tapi, lakukan saja sebisamu.” Kata Setya lalu beranjak menuju Topan. Mereka saling berpelukan. Ish berasa sudah menang?! Percaya diri sekali. Pikir Danu kesal.
Danu melangkah gontai menyambar tasnya yang tergeletak di pinggiran lintasan, Ia bergegas pulang. “Dan!” Tanpa menoleh Danu sudah tahu suara siapa itu. “Apa?” Jawabnya malas. Topan menghampirinya dengan senyum lebar. “Bagaimana simulasi kali ini?”, “Biasa saja.” Danu melanjutkan perjalanan. Topan berjalan mengimbangi.

“Tadi ada wartawan Majalah Remaja, katanya mereka akan mewawancarai pemenang lomba lari 800 meter minggu depan. Haha aneh ya belum lomba tapi mereka sudah menemuiku. Aku jadi tidak enak. Maksudnya apa ya?” Katanya santai. Tidak terdengar angkuh tapi kata-katanya seperti pemandu sorak yang sedang menyoraki kekalahan Danu.
“Mungkin mereka takut kau mati sebelum tanding.” Kata Danu ketus. Topan memperlambat langkahnya. Lalu kembali mengimbangi Danu. “Hey hey jangan ketus begitu. Mungkin mereka masih punya rubrik yang kosong, seperti ‘Sebuah Kekalahan’ atau ‘Depresi Remaja’. Dan kau bisa jadi narasumbernya.” Kata Topan meledek. Kali ini Danu yang berhenti melangkah. Lalu menatap Topan. “Aku lebih suka mengisi harian kriminal, dengan headline tebal bertuliskan ‘Mutilasi Rival Mulut Ember’. Bahkan aku tidak keberatan wajahku tidak diblur sebagai cover.” Kata Danu dingin. Topan diam tak berkutik. Kata-kata Danu cukup mengerikan.

“Hey, jangan sombong begitu. Selamat kalah ya minggu depan!” Topan berteriak mengiringi Danu yang semakin menjauh. Danu hanya menggerutu, tidak menyahut lagi.
 
 “Brak.” Suara pintu dibanting. Karin tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton drama di TV dengan suara pelan. Karin hendak melihat siapa yang akan lewat. Sejujurnya ia sudah bisa mencium bau adiknya dari sini. Karin memeluk kaleng kue dan mengambil satu buah kue dari dalamnya.
Danu grasak-grusuk masuk ke ruang keluarga lalu membanting badannya di sofa, tepat di sebelah Karin. Kemudian ia merampas kaleng kue dari Karin. Mengobok-obok isinya dan memakannya rakus, meskipun terlihat kesal. Ia meletakkan kaleng itu di meja kaca dengan kasar.Karin memelototi adiknya. Kalau sudah begini, berarti adiknya sudah ngamuk sekali. Karin memberanikan diri untuk bertanya. “Kalah lagi?”
 
 ... baca selengkapnya di : http://goo.gl/iTi44L

Saturday, 6 December 2014

Inspirasi Dalam Gelap


Aku mempunyai sebuah kisah untuk siapapun yang mau menyimaknya. Ini kisah yang mungkin saja tidak terlalu penting untuk sebagian orang, namun bisa saja menjadi menarik untuk sebagian yang lain. Sebuah kisah tentang diriku dan perjalanan seorang wanita tua yang berusaha keras melawan rasa sepi dan kebingungan dalam dirinya, serta rasa lain yang mungkin terus-menerus menggelayuti dinding hatinya setiap saat di tempat itu. Di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Kota Cirebon.

Aku pertama kali melihatnya saat dia sedang duduk bersandar di salah satu tiang sudut masjid, dengan raut muka kosong menatap ke depan namun seolah bukan sesuatu yang terlihat yang sedang dipandanginya. Aku hanya berlalu saat itu, karena kupikir pemandangan seperti ini -orang tua, pengemis, dan lainnya- biasa kulihat di tempat ini, sehingga hal tersebut tidaklah menarik untuk kuperhatikan. Namun di saat yang lain, saat aku kembali melihatnya, baru kusadari bahwa wanita tua ini memiliki banyak cerita kehidupan yang dapat kujadikan pelajaran untukku. Pelajaran tentang arti rasa syukur terhadap apa yang aku punya.

Sebelum kuceritakan wanita tua ini lebih lanjut, aku ingin sedikit memberikan gambaran bagaimana diriku memandang kehidupan serta permasalahan yang kualami sebelum bertemu dengannya. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara dalam keluargaku, laki-laki, usia 22 tahun dan bisa dibilang pengangguran. Aku bukannya tidak mencari pekerjaan, namun jiwa ini lebih senang melakukan wirausaha, Sayangnya semua yang kuusahakan gulung tikar karena tidak adanya keseriusan serta malas menjalankannya. Akhirnya aku merasa gagal serta depresi karena beban omongan keluarga serta orang sekitar tentang status hidupku itu. Selain itu hubunganku dengan teman maupun lingkungan sekitar juga tidak bisa dibilang bagus. Aku menutup diri karena malu serta lebih banyak menyendiri dibanding bersosialisasi. Akibat dari sikapku itu, tidak sedikit teman-temanku yang akhirnya merasa untuk apa bergaul denganku, karena aku seringkali tidak menanggapi mereka, dan akhirnya aku merasa kesepian akibat ulahku sendiri, namun tidak pernah kusadari itu.

Puncak dari semua rasaku yang tidak beraturan itu, membuatku menjadi menyalahkan keadaan dan tidak pernah mensyukuri hidup yang aku jalani. Aku menjadi mudah iri dengan kesuksesan orang lain, aku juga menjadi minder bila harus berinteraksi dengan teman-teman karena terbayang mereka memiliki kehidupan sempurna tidak seperti diriku, serta aku mulai menuduh tuhan tidak adil dalam memberikan kehidupan pada hambanya. Aku menganggap segalanya serba kurang tidak pernah cukup, dan sangat sengsara. Sedangkan kenyataannya bila dilihat secara sadar, aku tidak semenderita itu, semuanya hanya karena akulah yang menjadikannya begitu. Pikiran dan hatiku sudah tertutup oleh sesuatu yang entah apa hingga membuatku merasa selalu tidak beruntung, namun aku masih juga tidak menyadarinya.

Kian lama kehidupanku makin tidak terarah, seolah aku jauh tersesat ke dalam dunia yang hampa akan segalanya, hanya tanah gersang dan pepohonan kering saja yang kulihat setiap hari. Aku merasa bagai mati walau raga ini hidup. Aku kehilangan semangat hidup, serta semua hal yang membuatku mau untuk tetap hidup. Aku terpuruk dalam diriku sendiri dan tidak tahu bagaimana harus keluar dari itu semua. Hingga akhirnya aku bertemu dengan wanita tua yang kuceritakan di awal.

Semuanya terjadi ketika aku merasa lelah berjalan kaki sore itu, sebuah kegiatan rutin yang sering kulakukan semenjak rasa gelap menimpa diri ini. Aku memutuskan beristirahat di Masjid Agung Kesepuhan, sekaligus ingin menenangkan pikiran yang kacau terus-menerus. Di saat itulah kulihat dia sedang bersandar di salah satu tiang masjid, namun tidak terlalu kupedulikan. Aku berlalu begitu saja dengan segala rasa yang ada di hati ini. Hingga suatu saat, sebuah keadaan memaksaku untuk kembali melihatnya di hari yang lain. Saat itu aku tidak pulang ke rumah, dan menginap di Masjid Agung. Dalam kelenggangan ruang masjid, dia terbaring rapuh di pojokan beralaskan sajadah serta kain-kain yang entah didapatnya darimana sebagai selimut. Aku mencoba melihat sekeliling masjid untuk memastikan apakah ada pengemis lain yang tidur di situ, ternyata tidak ada. Barulah kusadari bahwa wanita tua ini berbeda dengan yang biasa kulihat. Bahkan bisa jadi dia bukan seorang pengemis, hanya seorang wanita tua yang tidak mempunyai rumah.

Hari-hari berikutnya tanpa kusadari aku jadi sering mengunjungi Masjid Agung hanya untuk memperhatikan lebih seksama wanita tua itu. Sekaligus menjawab rasa penasaran siapa sebenarnya dia, dan mengapa selalu ada di tempat ini. Tidakkah mempunyai keluarga atau sanak saudara yang mengurusnya. Semua pertanyaan itu tidak berani kuungkapkan langsung padanya, karena selain terasa kurang sopan bagiku, dia juga sepertinya menderita stress yang cukup berat atau mungkin bisa dikatakan setengah gila. Sering kulihat dia berbicara sendiri atau meracau tidak henti-hentinya saat ada anak-anak nakal yang menggodanya. Namun di lain waktu, dia bisa tersenyum kepada orang yang ramah padanya, dan bisa berinteraksi walau dengan keterbatasan. Dia juga cukup fasih membaca ayat suci Al-Qur’an, aku tahu karena setiap selepas sholat isya dia membacanya, seolah ingin mengisi kesendirian yang menderanya. Walau begitu, tidak pernah sekalipun kulihat dia mengeluh dengan keadaannya, sangat berbanding terbalik denganku.

Sejak itulah aku mulai sadar bahwa selama ini aku sudah dipermainkan oleh pikiranku sendiri bahwa aku menderita, padahal kenyataannya tidak begitu dan masih banyak orang lain yang benar-benar menderita serta memiliki kekurangan seperti wanita tua itu. Bila aku melihatnya dengan kacamata normal kehidupan, keadaanku puluhan kali lebih baik dari dia. Aku memiliki rumah, keluarga, serta hampir segalanya. Selain itu otakku juga masih berfungsi 100 % tidak setengah gila. Sedangkan wanita tua itu, apa yang dia miliki selain segala yang melekat pada tubuhnya serta mungkin sedikit semangat untuk tetap hidup. Sungguh sebuah hal yang aneh jika aku masih saja berkutat pada pikiran kelam terus-menerus setelah secara sadar mengetahui semua hal tersebut.

Aku membayangkan bagaimana jika aku menjadi wanita tua itu terutama dalam hal keadaannya yang serba kekurangan. Mungkin setiap hari hanya harapan yang menyelimuti diri ini, berusaha menunggu sebuah keajaiban yang mungkin datang secara tiba-tiba. Walau aku tahu semuanya bisa saja tidak pernah datang, karena hidupku sebatang kara. Mungkin juga aku akan selalu menangis dalam hati, saat angin malam berhembus menusuk kulit, saat nyanyian malam mulai berdendang dalam kesunyian hingga fajar menghentikan semuanya, dan saat matahari kembali membakar bumi ini.

Saat pagi datang aku akan selalu berjalan sendirian kemanapun kaki ini melangkah, yang benar-benar sendirian bukan ilusi pikiran karena depresi. Melangkah tidak tentu arah dan tujuan, mencari sesuatu namun tidak pernah ditemukan apa yang kucari, karena itu semua hanya sebuah ilusi yang berkembang menjadi harapan-harapan kosong. Aku mungkin akan merasa iri seiri-irinya saat melihat sebuah keluarga utuh tengah bercengkrama di tempat yang kulewati. Mereka tampak bersih, segar, serta merona wajahnya dengan balutan pakaian bagus yang harum baunya. Di samping mereka terhampar karpet dengan pola-pola gambar yang lucu dengan banyak jenis makanan dan minuman layak di atasnya, siap untuk disantap kapanpun mereka mau. Dan bila mereka sudah merasa puas dengan kegiatannya itu, mereka membereskan semuanya lalu masuk ke dalam rumah. Sementara aku hanya bisa berlalu masih tanpa arah tujuan hingga akhirnya keadaan mengembalikanku pada kenyataan bahwa masjid-masjid adalah rumahku, tempatku berlindung dari kerasnya dunia serta ganasnya kejahatan malam saat pekat telah turun menyelimuti.

Hari demi hari kulalui hanya dengan kegiatan yang itu-itu saja, tanpa ada perubahan maupun perbedaan. Sebesar apapun aku berharap, sekeras apapun aku berusaha, dan sejauh apapun aku melangkah, kenyataan tetap akan mengembalikanku pada kesunyian, kesepian, dan kesendirian ini. Aku hanya seorang pemimpi kehidupan dengan kenangan tersisa yang hampir menghilang. Kenangan akan kehangatan cinta dari orang-orang terdekat yang saat ini entah berada dimana, atau mungkin sebenarnya orang-orang itu tidak pernah ada. Hanya anganku saja yang menciptakan mereka untuk menutupi rasa sepi ini. Setiap detik yang kutempuh bagai berjalan di atas panasnya bara api namun tidak membuat kulit kaki ini terbakar, melepuh, dan terkelupas. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini, kemana aku harus bergerak, dan kemana aku harus pulang? Mungkin aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Sampai tuhan menentapkanku untuk menyatu dengan alam raya ini, dan memberikanku cinta sejati serta kehidupan ramai yang penuh keceriaan. Dimana aku bisa melihat indahnya warna-warna dunia yang meyatu dalam satu jiwa. Entah kapan masa itu akan datang. Semoga tepat pada waktunya.

Aku tersadar dari lamunanku dan menyeka air mata yang sudah membasahi pipi sejak tadi. Rupanya aku terlalu terhanyut dalam bayangan kelam karena membayangkan jika aku menjadi wanita tua itu. Aku berpikir bahwa betapa bodohnya aku karena selama ini sudah merasa menderita padahal sama sekali tidak. Aku sama sekali tidak bersyukur dengan apa yang aku punya, malah dengan sengaja aku membuat diriku depresi hanya karena angan-angan yang tidak jelas tentang kehidupan. Sedangkan kenyataannya orang yang benar-benar bisa dikatakan menderita tidak terlihat rona penderitaannya.

Aku beranjak dari tempatku duduk bersandar di tiang masjid, berniat untuk pulang karena malam hampir menjelang. Kupandang lagi wanita tua itu sebelum aku benar-benar pergi, dia masih tetap pada kebiasaannya sehari-hari, bersandar di sudut dengan tatapan kosong ke depan. Setelahnya aku benar-benar pergi dari tempat itu. Setibanya di rumah aku tidak menemukan satu pun anggota keluargaku, kecuali pembantu yang memang bertugas sehari-harinya, rupanya mereka semua sedang ada keperluan masing-masing. Aku pergi ke dapur mengambil makanan ringan lalu membawanya ke kamar. Di kamar kubuka bungkus makanan ringan itu, dan sambil bersandar santai menggunakan bantal aku memakannya sambil mencoba merenungkan kembali perjalanan hidupku selama beberapa waktu kebelakang ini. Bagaimana aku yang tadinya adalah orang seperti orang pada umumnya menjadi pribadi yang menutup diri hanya karena pikiran anehku. Kuingat kembali saat aku mengalami perubahan itu, aku mulai menganggap bahwa aku adalah orang gagal karena omongan orang lain tentangku yang sebenarnya belum tentu benar adanya. Kuingat juga saat aku mulai menjauh dari teman-teman hanya karena rasa minder yang kubuat sendiri hingga akhirnya perlahan namun pasti, semua temanku mulai menjauh karena aku susah diajak berinteraksi. Dan sejak saat itu aku mulai membuat dunia sendiri di dalam dunia nyataku, tempat dimana aku selalu bersembunyi dari kenyataan kehidupan. Dalam dunia itu aku mengkondisikan diriku amat sangat menderita, sengsara, serta selalu tidak beruntung. Aku menganggap bahwa orang lain selalu mendapatkan kebahagiaan dan hidup terbaik sedangkan aku tidak. Aku juga menganggap bahwa semua yang kupunya dan melekat pada diriku tidak berarti dan hanya ilusi semata. Padahal kenyataannya tidaklah begitu, aku tidak semenderita yang kupikirkan.

Kupejamkan mata dan menghela nafas panjang. Sungguh betapa berharganya pertemuanku dengan wanita tua di Masjid Agung Kesepuhan itu, walau aku tidak pernah mengenalnya secara khusus, walau aku tidak pernah sekalipun bericara dengannya, dan walaupun aku masih belum mengetahui bagaimana asal-usulnya. Namun semua cerita perjalanan hidupnya yang terpancar lewat sorot matanya telah menginspirasi dan menyadarkanku dari dunia ilusi yang penuh kebohongan. Aku bangun dari tempat tidur dan menuju jendela, malam sudah turun sejak tadi, samudra bintang telah menampakkan kecantikannya di atas sana. Kutatap gemerlap bintang itu dan bertekad untuk menata ulang kembali kehidupanku. Betapa sebenarnya hidup ini indah jika kita mampu menyadarinya serta bersyukur. Aku terus memandang langit hingga mata ini memaksaku untuk memasuki alam mimpi.

Esok harinya aku pergi mengunjungi temanku, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan semuanya. Lagipula ini kuanggap langkah awal untuk memulai perubahan dalam hidupku yang sebelumnya diselimuti awan mendung. Teman yang pertama kali kukunjungi adalah Yudi, dia teman terdekatku kenal sejak SMA dan di antara semua teman-temanku, Yudilah yang paling mengerti dan memaklumi keadaanku. Aku sampai di rumah Yudi saat dia sedang sibuk mengaduk pupuk organik cair di teras rumahnya, dia memang mempunyai usaha di bidang itu. Saat melihatku, raut wajah Yudi menunjukkan ekspresi heran sekaligus senang. Aku tahu apa yang dipikirkannya, siapa yang tidak heran melihat orang yang sudah “mati” tiba-tiba hidup kembali. Aku langsung menyapanya begitu berada tepat di depannya.
“Sehat Yud, lama kita gak ketemu.”
Yudi diam sebentar, masih memandangku, lalu tersadar dan membalas sapaanku
“Eh.. Iya sehat, ayo masuk Yan” dia beranjak dari duduknya dan menyalamiku lalu mengajakku masuk ke dalam rumah, aku menolak.
“Kita ngobrol di sini aja Yud” ajakku, lagipula suasananya lebih enak untuk duduk santai di teras. Yudi menyetujuinya.
“Ya udah kalo gitu, tapi aku ambil minum dulu ya sebentar” kata Yudi, lalu masuk ke dalam. Selang lima menit dia kembali membawa dua botol minuman dan beberapa makanan ringan.
“Ayo diminum Yan” katanya ramah. Aku tersenyum lalu mengambil botol minuman yang disediakan Yudi.
“Gimana kabar kamu sekarang Yan? Jujur aku kaget kamu datang ke sini, bukannya gak seneng atau gimana. Cuma kan kamu udah lama banget gak kumpul sama aku atau teman-teman lain. Kamu baik-baik aja kan selama ini?” Yudi membuka pembicaraan.
“Iya aku baik-baik aja. Maaf selama ini aku udah menghilang dari kamu dan temen-teman lain. Taun-taun lalu bisa dibilang masa-masa kelam buat aku Yud.” Aku menjelaskan.
“Kelam gimana maksudmu? Emang ada kejadian apa? Kenapa kamu gak cerita ke aku atau yang lain? Padahal siapa tau kami bisa bantu.”
Kuperhatikan ekspresi Yudi saat mengatakan pertanyaan-pertanyaan itu. Sangat polos dan bukan sekedar basa-basi semata, aku juga sangat percaya bahwa dia tidak main-main dengan kekhawatirannya. Namun aku rasa sekarang bukan saat yang tepat untuk menjelaskan semua permasalahanku selama ini.
“Maaf kawan, aku gak bisa cerita sekarang, tapi suatu saat nanti pasti bakal kuceritakan semuanya apa yang terjadi padaku. Sekarang aku cuma ingin memulai kehidupan baru dari awal lagi”
Yudi diam sebentar lalu tersenyum maklum dan berkata
“Ya udah, aku juga gak akan terlalu maksa apa yang jadi rahasia kamu. Lagian yang penting sekarang, kamu sudah ada di sini dan kembali dari menghilang ditelan bumi” Yudi tertawa mengatakan itu, aku pun ikut tertawa.
“Ngomong-ngomong, gimana perkembangan usaha pupuk kamu Yud?” aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan sekaligus memulai topik baru.
“Ah.. iya. Alhamdullilah cukup berkembang, yang barusan kamu lihat itu, aku lagi buat baru. Kalo yang udah jadi ada di belakang, di kebon. Kamu mau lihat Yan?” tanya Yudi bersemangat.
“Ya, aku mau lihat.” Kataku cepat. Kami berdua beranjak meninggalkan teras menuju halaman belakang.

Hari itu aku seharian bersama Yudi membicarakan banyak hal termasuk rencana mengunjungi teman-teman kami yang lain. Aku benar-benar berniat mengubah hidupku dari awal lagi dan menyambut hari-hari cerah. Terima kasih kepada wanita tua yang sudah memberikan kesadaran padaku walau secara tidak langsung. Kudoakan agar dia mendapat keadilan dari tuhan untuk hidupnya, dan bila memang memungkinkan, bisa saja keadilan itu disampaikan padanya melalui tanganku sebagai balas jasa. Semoga saja.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/jvCcoI
 

Misteri Gadis Kecil di Rumah Kosong
Malam yang sunyi itu, Mellyza mengerjakan PR-nya di ruang keluarga. Semua keluarganya sudah tidur, kecuali Mellyza dan kakaknya. Sebenarnya, hari itu adalah hari Kamis, dan lebih tepatnya malam Jumat.

Mellyza hampir menyelesaikan PR-nya saat jam di rumahnya berdentang 10 kali yang menandakan bahwa saat itu sudah pukul 22.00.
“Tok… tok…” Mellyza mendengar bunyi seperti orang memukul palu.
“Siapa yang malam-malam begini memasang paku?” tanyanya bingung.
“Tok… tok…” bunyi itu terdengar lagi. Namun, kali ini bunyi itu disertai dengungan keras. Mellyza yang penasaran, segera naik ke kamar mama-papanya yang ada di lantai 2.
“Ma, Lyza pinjam balkon sebentar!” katanya pada Mama yang masih sibuk dengan laptop. Mama mengangguk.

Angin berhembus kencang saat Mellyza berlari ke balkon kamar mamanya yang sedikit luas. Ia menoleh ke rumah di sebelah kirinya.
Tiba-tiba, “Kyaaa… Setan!!” teriak Mellyza ketakutan. Mama terkejut, dan segera mendatangi Mellyza.
“Ada apa, Sayang?” tanya Mama.
“Ada setan, di kiri rumah kita Ma!” jawab Mellyza masih ketakutan. Mama dan Papa segera melihat ke rumah sebelah. Papa mengantarkan Mellyza ke kamarnya.
Lampu kamar Mellyza dimatikan, kemudian menyala lampu tidurnya.
“Selamat tidur, anak Papa. Mimpi indah!” ucap Papa lembut. Mellyza menarik selimutnya, ketika Papa pergi.
“Tok… tok…” Mellyza merinding, seketika ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Selimut Mellyza tiba-tiba tertarik sendiri. Dan pintu kamarnya terbuka lebar.
“KAKAK!!” jerit Mellyza melihat kakaknya tergantung di depan kamarnya.
“Lyza, ada apa?” tanya kakak Mellyza khawatir akan adiknya itu. Mellyza terbangun, ternyata ia mimpi. Di sekelilingnya sudah ada keluarga besarnya.
“Kak, aku enggak mau tinggal di rumah ini!” jawabnya penuh keringat dingin. Nenek Mellyza dan Tantenya saling berpandangan dengan wajah penuh ketakutan.
“Nenek sama tante tahu sesuatu?” Mellyza bertanya pelan.
“Sebenarnya…”
“Sebenarnya… kamu diincar,” jawab Nenek. Mellyza mengerutkan dahi, ia bingung dengan semua ini.
“Diincar? Siapa dan kenapa?” kakak Mellyza yang sedari tadi diam jadi ikut bingung. Mata Tante Mellyza dan Nenek tampak berkaca-kaca.
“Mahkluk astral… Mereka ingin membawa adikmu, agar mereka bisa hidup ke dunia ini lagi,” jawab Tante Charien. Mellyza tak menyangka mendengar jawaban tantenya. Dengan wajah sedih, ia berlari turun ke bawah untuk menemui ayahnya.
“Mellyza…” panggil kakak Mellyza.

Kenapa aku? Mungkinkah Tuhan menginginkanku pergi? Jika begitu, tidak perlu begini. Aku ketakutan, mereka tinggi dan berdarah…
Itu adalah tulisan Mellyza yang ditulisnya terakhir kali, sebelum ia tidak sadar untuk selamanya.
Mellyza melihat tubuhnya sendiri, ia dikelilingi oleh keluarganya. Isak tangis dari Mama dan kakaknya terdengar. Tiba-tiba ia melayang tinggi, masuk ke dalam lubang dan…
“Di mana aku?” Mellyza mendapati rohnya berada di depan rumahnya. Ia masuk, namun tidak menemukan siapapun. Mellyza naik ke kamarnya, di dalamnya ada boneka patung mirip keluarganya. Ia memeluknya, dan segera pergi dari rumahnya.
“Tok… tok…” bunyi itu terdengar lagi, namun kali ini agak pelan. Mellyza mendekati rumah kosong di samping rumahnya. Kriekk… Mellyza menginjak batang kayu, seseorang yang ada di dalam rumah itu segera keluar. Mellyza dengan cepat bersembunyi agar tidak ketahuan.
“Siapa itu?” orang itu bersuara seperti anak kecil, namun ia tinggi besar dan di tubuhnya penuh darah. Orang itu mendekati tempat persembunyian Mellyza, dan ia sudah amat dekat. Mellyza berdoa supaya ia tidak ketahuan. Tempat persembunyian Mellyza dibuka, namun tidak ada Mellyza di dalamnya. Lalu dimana Mellyza? Seseorang ternyata membantunya. Kini ia aman di dalam gudang di rumahnya.
“Hey, kamu siapa?!” teriak Mellyza kecil.
“Aku Nessyza,” dia dingin sekali, itu membuat Mellyza tak nyaman.
“Aku harus kembali,” katanya.
“Tidak, atau kau mati,” cegahnya. Kali ini Mellyza tak mau menurut, Mellyza memberontak. Dia hendak berlari, namun rasanya kakinya sakit.
“Aku sudah melarangmu kembali, atau kau mati!” ujarnya. Mellyza menangis, ia rindu mama dan papanya.
Krieet… Dorr… bunyi yang pernah didengar Mellyza.
“Pasti di sekitar sini, ada orang mendekat,” gumamnya. Mellyza menarik Nessyza.
“Ada apa?” tanyanya.
“Seseorang datang mendekat,” jawab Mellyza. Mereka pergi secepat mungkin. Surat itu jatuh… Orang itu tahu di mana Mellyza pergi. Ia terus mengincar, hingga…
Hingga orang yang mengincar Mellyza itu tahu dimana tempat Mellyza. Di tempat lain, Mellyza dan Nessyza bersembunyi. Mellyza sangat ketakutan, ia dalam hati ingin kembali ke pada keluarganya.
“Di mana kita?” tanya Nessyza yang belum kenal tempat itu.
“Kita aman di rumah pohonku,” jawab Mellyza. Sreett… Kyaakk.. Doorr… bunyi keras itu terdengar di dekat rumah pohon Mellyza. Mellyza dan Nessyza menutup mata, ketika orang yang mengincar Mellyza tepat berada di depan mereka.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/JB7bes