Friday, 30 January 2015

Ibuku Arti Sahabatku


Waktu semakin cepat berlalu. Itulah rangkaian kata kata yang membebani pikiran Lisa saat ini. Lisa adalah siswa yang sedang duduk di kelas satu SMP. Kebetulan hari ini Lisa genap berumur 13 tahun. Ia hanya bisa berharap dengan bertambahnya usianya bertambah juga kebijakan dalam memilih apapun dan semoga bisa membahagiakan kedua orang tuanya.

Ia selalu berharap ingin melihat kebanggaan dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah ayahnya. Meski ia tahu bahwa itu hanya mimpi. Ayah Lisa meninggal dunia setahun yang lalu karena penyakit stroke yang dideritanya. Tetapi keadaan ini tidak membuat Lisa dan ibunya terpuruk dan larut dengan kesedihan. Mereka justru berusaha tabah dan tawakal menerima suratan takdir dari Sang Ilahi Robbi. Lisa juga begitu bangga dengan ibunya. Karena ibunya dapat memerankan dua peran sekaligus, yaitu menjadi ayah dan ibu walaupun belum sempurna tetapi Lisa tetap bangga kepadanya.

Pagi yang cerah, matahari bersinar sangat bersahabat. Pagi ini sebelum Lisa berangkat sekolah ibunya tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
“selamat ulang tahun, Nak” kata ibu sambil memeluk Lisa.
“terima kasih, Bu. Ulang tahunku kali ini sangat berbeda. Tiada lagi senyuman manis dari Ayah” kata Lisa dengan wajah yang murung.
“ini..” sambil memberikan sebuah gelang.
“apa ini, Bu?” tanya Lisa.
“ini gelang untukmu. Sebelum ayahmu meninggal ia berpesan pada ibu untuk memberikan gelang ini padamu ketika kamu genap berusia 13 tahun. Ternyata jauh-jauh hari ayahmu telah mempersiapkan itu untukmu.”
“aku pasti akan menjaga gelang ini baik-baik”
“maafkan, Ibu. Ibu tidak bisa memberimu apa-apa”
“ibu tidak perlu meminta maaf padaku. Cukup sisipkan namaku dalam doa ibu”
“kamu memang anak yang baik Lisa”
“ibu kan pernah bilang, mensyukuri nikmat yang ada akan lebih membahagiakan dari pada sibuk dengan keinginan yang belum tentu bermanfaat untuk kita”
Setelah itu, Lisa pamit kepada ibunya untuk berangkat sekolah.

Kesabaran, kebijakan, dan pengorbanan ibunya dalam menghidupinya seorang diri menjadi inspirasi bagi Lisa untuk menghadapi masalah yang telah menantinya. Karena selama kita hidup selama itu pula kita menghadapi masalah. Jika ada orang yang tidak mau memiliki masalah sama saja ia ingin menutup matanya untuk selama-lamanya. Itu juga kata-kata yang sering terucap dari mulut ibunya.

Sembilan kilo meter harus ditempuh Lisa untuk sampai di sekolahnya. Cuaca cerah yang bersahabat membuat Lisa semakin kencang mengayuh sepedanya. Tetapi sepertinya ada yang mengganjal di hati Lisa. Akhir-akhir ini sifat teman-temannya banyak yang berubah. entah apa kesalahan ang telah Lisa perbuat. Padahal selama ini Lisa selalu berpkir sebelum bertindak. Tetapi ia menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna, semua manusia asti mempunyai keselahan termasuk Lisa. Ia hanya bisa berharap semoga teman-temannya bisa memaafkan keselahannya.

Sesampai di sekolah Lisa langsung memasuki kelas. Jantung Lisa serasa berhenti berdetak. Tiada seorang pun yang berada di kelas. Saat ini kelas bagaikan pemakaman yang gelap, sunyi dan sepi. Bulu kuduk Lisa mulai merinding. Ia pun mencoba berlari keluar dari kelas. Akan tetapi entah apa yang terjadi, kakinya terasa berat untuk diangkat sepertinya ada yang menahan kakinya. Tapi siapa? Bukankah di sini tidak ada orang selain Lisa. Ia sekarang tak punya nyali untuk melihat ke belakang dan melihat siapa sebenarnya yang menahan kakinya. Kini yang bisa ia lakukan hanya berteriak dan terus berteriak agar ada orang yang mendengarkan suaranya. Tanpa terasa perlahan air mata mula menetes dan mulai menggenangi pipinya yang chabi. Ia hanya memikirkan kejadian-kejadian buruk yang menimpanya jika ia tidak segera keluar dari sini.

Tiba-tiba lampu mulai menyala, dan terdengar suara serentak dengan ucapan “selamat ulang tahun, Lisa”. Ternyata suara itu adalah suara teman-teman Lisa yang telah merencanakan ini jauh-jauh hari. Sebagian besar teman-temannya memberikan kado padanya. Tanpa sengaja Ricky temannya, melihat gelang yang indah dan melingkar di tangan Lisa. Ricky adalah teman sekelas Lisa yang sangat jahil. Hampir semua temannya ia jahili tak ketinggalan Lisa. Dengan sengaja lucky menyenggol Lisa dan membuat Lisa terjatuh. saat ia jatuh, Ricky segera mengambil gelangnya dan ketika ia ingin mengambilnya Ricky justru melempar gelangnya ke arah Lucky. Itu pun berlangsung cukup lama. Ketika Lisa berhasil merebut gelangnya dari Lucky, Ricky justru berusaha mengambilnya kembali. Hingga gelang itu menjadi rebutan mereka berdua. Ricky tetap berusaha keras mempertahankan gelang itu pada genggamannya. Hingga tak disangka gelang itu putus. Lisa tak lagi bisa menahan amarahnya. Ia kecewa pada Ricky dan Lucky, karena mereka telah menghancurkan gelang pemberian ayahnya.

Tet… tet… tet… tet…
Bel berbunyi panjang tanda kegiatan di sekolah telah usai. semua anak-anak langsung berlari pulang. Tetapi tidak untuk Lisa. Melihat Liss kebingungan mencari salah satu manik-manik yang hilang, Ricky dan Lucky merasa iba. Ketika Ricky ingin menghampiri Lisa, ia merasa kakinya menginjak sesuatu. Ternyata benda yan diinjaknya adalah manik-manik yang sedang dicari Lisa. Ricky akhirnya memberikan manik-manik itu pada Lisa dan meminta maaf.
“maafin kami, ya” kata Ricky
“kami tidak bermasud membuatmu sedih” kata Lucky
“kalau hanya bicara itu memang mudah, tetapi coba kalan yang ada di posisiku” Jawab Lisa
“kami mengerti perasaanmu, mungkin jika kami yang berada di posisimu pasti kami akan melakukan hal yang sama” kata Ricky
“kalian tak kan pernah engerti perasaanku! Asal kalian tahu gelang ini pemberian dari Ayahku dan hanya ini yang aku punya” jawab Lisa dengan nada tinggi
“berapa sih harganya? Gelang murahan seperti itu saja diributkan. Masih mending aku mau minta maaf.” Kata Lucky dengan angkuh.
“memang ini gelang murahan bagi kalian tetapi ini sangat berharga bagiku!” Lisa pun segera meninggalkan tempat itu. Ricky sangat kecewa dengan perkataan Lucky pada Lisa mereka pu bertengkar hebat.

Ketika ibu sedang menyiapkan makan siang, tiba-tiba Lisa datang dengan air mata yang tak henti menetes. Lisa akhirnya menceritakan semuanya kepada ibunya.
“kamu tidak boleh seperti itu! Ibu yakin mereka tidak sengaja”
“kenapa ibu jadi membela mereka? Ibu tidak merasakan apa yang aku rasakan”
“kamu salah, ibu merasakan apa yang kamu rasakan. Kalau ibu di posisimu pasti ibu akan memaafkan mereka.”
“tapi kenapa, Bu?”
“karena mencari sahabat seperti mereka itu sangat sulit berbeda dengan mencari musuh”
“Yang harus kamu ingat sahabat itu takkan sirna oleh amarah dan sahabat itu sedetik di mata selamanya di jiwa”
“aku baru mengerti arti sahabat yang sesungguhnya. Seharusnya aku bisa menahan amarahku”
“air tak selau jernih begitu pula perbuatan mereka padamu”
“iya bu, aku berjanji akan meminta maaf pada mereka. Terima kasih, Bu telah Mengajarkanku arti persahabatan”
Ibu hanya bisa tersenyum dan memeluk Lisa.

 http://goo.gl/z8Co8y

Wiro Sableng #145 : Lentera Iblis


Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : PERJANJIAN DENGAN ROH

PAGI ITU Patih Kerajaan Sawung Giring Bradjanata baru saja selesai sarapan. Dia akan segera berangkat menuju Keraton untuk menemui Sri Baginda. Banyak hal penting yang akan dibicarakan. Salah satu diantaranya menyangkut gerakan orang-orang yang menamakan diri dan mengaku berasal dari Keraton Kaliningrat. Saat keluar dari ruang makan seorang pengawal datang memberi tahu bahwa Danang Kaliwarda, kepala pengawal Gedung Bendahara ingin menghadap.

"Danang Kaliwarda....." Patih Kerajaan menyebut nama itu. "Aku pernah melihatnya beberapa kali. Tapi tak pernah bertegur sapa. Pengawal, apa kau tanyakan maksud kedatangannya?"

"Memang ada saya tanyakan. Katanya ada hal sangat penting ingin disampaikan. Namun dia hanya mau bicara langsung dengan Kanjeng Patih," menerangkan pengawal Gedung Kepatihan.

Setelah berpikir sebentar Patih Kerajaan akhirnya berkata pada pengawal. "Aneh juga. Kalau ada sesuatu urusan penting seharusnya Bendahara Wira Bumi yang datang menghadap. Kepala Pengawal itu datang seorang diri atau ada yang menemani?"

"Dia datang seorang diri, Kanjeng Patih."

"Baiklah, suruh dia menunggu di pendopo sebelah timur. Suguhkan kopi jika dia belum sarapan. Aku akan segera menemuinya."

Gedung Kepatihan memiliki dua buah pendopo.

Pendopo besar di sebelah barat, pendopo ke dua di sebelah timur, lebih kecil dan memiliki dua dinding penutup terbuat dari papan jati berukir pemandangan gunung Merapi. Di tempat ini Patih Kerajaan biasanya menemui tamu-tamu tertentu.

Danang Kaliwarda yang duduk bersila di lantai batu pualam bersih dan licin berkilat cepat-cepat berdiri begitu Patih Sawung Giring Bradjanata muncul, melangkah menaiki anak tangga pendopo timur.

"Hormat untuk Patih Kerajaan. Saya Danang Kaliwarda, Kepala Pengawal Gedung Bendahara." Danana Kaliwarda berucap lalu membungkuk dalam-dalam.

Patih Kerajaan menyilahkan tamunya duduk kembali.

Keduanya kemudian bersila berhadap-hadapan. Seorang pelayan datang menating secangkir kopi hangat, diletakkan di depan Danang Kaliwarda.

"Danang Kaliwarda, waktuku tidak banyak karena harus segera menghadap Sri Baginda. Ceritakan apa maksud kedatanganmu. Apakah Bendahara Wira Bumi yang mengutusmu datang menghadapku? Sebelum kau menjawab silahkan meneguk kopi lebih dulu."

"Terima kasih Kanjeng Patih. Saya minum." Selesai meneguk kopi hangat Kepala Pengawal Gedung Bendahara itu meluruskan duduknya lalu berkata. "Kanjeng Patih, saya mohon maaf kalau kedatangan saya begini mendadak, apa lagi sampai mengganggu dan menyita waktu Kanjeng Patih. Saya datang dengan kemauan sendiri. Tidak diutus oleh Raden Mas Wira Bumi."

Sawung Giring Brajanata mengangguk. "Langsung saja pada maksud kedatanganmu."

"Saya datang untuk menyampaikan satu hal yang sangat rahasia, Kanjeng Patih."

Patih Kerajaan angkat kepala sedikit, dua mata menatap lekat-lekat ke wajah tamunya. "Satu hal yang sangat rahasia katamu. Bagiku ini agak mengejutkan. Hal sangat rahasia macam apa? Menyangkut pribadi atau ada hubungannya dengan Kerajaan?"

"Dua-duanya, Kanjeng Patih," jawab Danang Kaliwarda. "Terlebih dulu saya mohon maaf. Kejadiannya berlangsung kemarin malam. Terjadi di halaman belakang gedung kediaman Kanjeng Bendahara. Semula saya merasa bimbang apakah akan memberitahu hal ini pada Kanjeng Patih atau tidak. Kalau saya memberi tahu berarti saya melangkahi atasan saya Raden Mas Wira Bumi. Kalau saya tidak memberi tahu sebagai seorang prajurit saya merasa berdosa pada Kanjeng Patih dan Kerajaan ...."

Patih Kerajaan berusia enam puluh tahun tapi masih berwajah segar dan klimis usap dagunya yang ditumbuhi janggut halus dan rapi.

"Teruskan ceritamu, Danang Kaliwarda."

"Malam itu gedung kediaman Bendahara kedatangan tamu seorang lelaki tinggi kurus dengan penampilan serba merah mulai dari rambut sampai ke kaki. Walau dia tidak menyebut nama namun Saya tahu siapa dia karena sebelumnya sudah pernah datang menemui Raden Mas Wira Bumi. Orang itu saya kenal dengan nama Eyang Tuba Sejagat. Pada kedatangannya yang kedua kali ini saya lihat ada sesuatu yang terjadi dengan tubuhnya sebelah luar dan sebelah dalam. Agaknya dia menderita luka dalam parah. Seperti mengalami keracunan yang sangat hebat. Mungkin saya menyalahi adat, namun entah mengapa saya begitu ingin mengetahui apa yang dibicarakan sang tamu dengan Raden Mas Wira Bumi.

Ternyata kecurigaan saya ada hikmahnya. Rupanya, sebelumnya Raden Mas Wira Bumi telah memberi tugas pada Eyang Tuba Sejagat untuk membunuh dengan cara meracuni seorang Kiai yang diam di puncak Gunung Gede bernama Kiai Gede Tapa Pamungkas ....."

Sikap dan air muka Patih Kerajaan langsung berubah mendengar ucapan Danang Kaliwarda itu.

"Kiai Gede Tapa Pamungkas adalah seorang suci berilmu tinggi yang dianggap setengah Dewa. Dia banyak membantu Kerajaan. Kalau ada orang jahat ingin membunuhnya pasti ada satu masalah besar dibalik perbuatan keji itu. Danang, teruskan keteranganmu."

"Ternyata Eyang Tuba Sejagat gagal melaksanakan tugas. Dua pembantunya tewas. Dia malah dicekoki Racun Akar Bumi miliknya sendiri oleh Kiai Gede Tapa Pamungkas. Untuk mengobati dirinya yang keracunan dia harus membeli obat dari seorang tabib. Obat itu mahal sekali. Eyang Tuba Sejagat minta agar Raden Mas Wira Bumi mau memberikan sejumlah uang. Dia berjanji kalau sudah sembuh akan segera melaksanakan tugas berikutnya." Sampai di situ Danang Kaliwarda tidak meneruskan ucapan, dia menatap sang patih dengan bayangan rasa takut pada wajahnya.

"Kepala Pengawal, kau kelihatan seperti bimbang atau takut meneruskan ucapan ...."

"Maafkan saya Kanjeng Patih. Terus terang saya memang merasa takut karena apa yang hendak saya katakan menyangkut langsung diri Kanjeng Patih."

"Katakan saja. Mengapa harus takut?"

"Tugas berikut yang dikatakan oleh Eyang Tuba Sejagat itu adalah membunuh Kanjeng Patih." Walau suaranya agak bergetar meluncur juga ucapan itu dari mulut Danang Kaliwarda.

Sosok Patih Kerajaan seolah berubah menjadi patung, diam tak bergerak. Air mukanya berubah. Namun sesaat kemudian seringai muncul di wajahnya.

"Apakah ucapanmu bisa aku percaya Danang Kaliwarda?"

"Demi Gusti Allah saya bersumpah saya tidak berdusta."

 ... baca selengkapnya di : http://goo.gl/SDwqoq

Monday, 26 January 2015

Takdir Sukri


Hilir mudik, mondar-mandir, semua bergerak berusaha mengejar roda putaran waktu yang bergulir dengan sangat cepat, pepatah bahwa waktu adalah uang, waktu adalah seperti pisau yang memiliki 2 mata yang tajam dan tumpul, waktu adalah senjata yang harus pintar-pintar di gunakan dsb-dsb, rupanya benar-benar mereka hayati dengan sangat baik, memang siapapun yang tidak mampu mengimbangi cepatnya putaran sang waktu akan tertinggal, tergilas, amblas lenyap di telan masa dan zaman. Tapi apakah sebenarnya hakikat dari semua ini, mengejar sang waktu, mengimbangi sang waktu, menguasai waktu, memanfaatkan waktu, dsb-dsb, untuk apa?.
 
“Sekian dulu pak, interview kita hari ini, untuk hasilnya bapak akan kami hubungi lagi seminggu kemudian”, kalimat itu masih terngiang di telinga Sukri, sambil duduk di tembok pembatas taman di pinggir trotoar, dia masih termenung, termangu, terpaku dsb-dsb, dia ingat dengan pasti kalimat yang barusan keluar dari mulut sang Hrd perusahaan tadi, itu adalah yang ke 10 atau mungkin malah lebih dia mendengar kalimat itu, tapi anehnya setelah seminggu menunggu, tak ada satupun dari perusahaan yang dia lamar menghubunginya lagi, tidak jelas maksud kalimat itu, apakah dia memang tidak di butuhkan, kenapa harus memberi harapan, apakah itu model baru dari pengusiran secara halus atau kode etik dari para Hrd untuk menolak para pelamar yg tidak memenuhi syarat secara halus.

Sekilas pandangan kosong, raut muka sayu duduk termenung, dia memandang hilir mudik, mondar-mandir, lalu-lalang orang-orang & kendaran di depannya, “kenapa!?” teriaknya dalam hati, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat tenggorokannya yang sedari tadi kering tercekat, “orang-orang ini enak sekali, bisa beli mobil mobil mewah, handphone mahal, dan pake baju-baju yang bagus”, Sukri mengumpat, meracau, berserapah dalam hatinya melihat kenyataan yang bersliweran di depannya, tapi yang semakin membuat dia sakit hati sekaligus iri adalah mereka semua adalah para pekerja kantoran, sesuatu yang sangat dia dambakan selama ini. “Kenapa mereka bisa, kenapa aku tidak”. Sebenarnya Sukri tidak sendirian bersumpah serapah, mengutuk, mengumpat soal kenapa dirinya susah mendapatkan pekerjaan, di negeri ini dia punya jutaan kawan senasib dalam kesialan dan ketidak-berumtungan, padahal Sukri dan temannya yang jutaan itu juga lulusan S1, seolah pengorbanan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit itu musnah, memudar tiada arti, di telan realitas kehidupan.

Gontai dia berjalan, lemas di tumpuaan lututnya, dengan sisa tenaga mencoba berjalan pulang, dia tahu rumah kosnya 5 km jauhnya dari tempat dia berdiri sekarang, tapi Sukri cukup sadar dia tidak mungkin naik kendaraan umum, bejak, bajaj, ojek apalagi taxi, selama ini sukri hanya mengadandalkan uang saku kiriman ibunya di kampung yang hanya penjual kue serabi keliling. “Apa yang harus kulakukan sekarang”, Sukri merebahkan tubuhnya, di kamar kos nya yang kecil, kasur kapuk yang sudah jelek di atas dipan kecil yang seukuran tubuh satu orang, “semua lamaran itu, sia-sia” resah Sukri dalam hati, matanya terpejam, tapi tidak ngantuk, mencoba menenangkan perasaan tapi hati kecil nya tetap resah, pikirannya mulai melayang, menerawang, ke masa-masa ketika dia masih di duduk di bangku kuliah, Sukri ingat betul bagaimana dia bekerja keras demi membiayai kuliahnya dengan bekerja sambilan menjadi tukang parkir di salah satu komplek ruko di kawasan Surabaya timur, bagaimana dia harus berusaha keras mengatur waktu antara kuliah, belajar, tugas kuliah dan kerja sambilan, seolah waktu 24 jam sehari tidak cukup baginya, bagaimana dia sering kesulitan menghadapi omelan pemilik kos, karena sering terlambat bayar kos, “hemm, problem yang terakhir masih jadi masalah sampai saat ini, meski aku sudah pindah kos”, tanpa sadar senyum kecil tersungging di bibir, mencoba mentranformasikan penderitaan menjadi sedikit lelucon penghilang resah.

“Rina”, kenangan itu, “Rina, Rina”, sejenak hati Sukri seperti di injak seseorang, beban yang sakit tiap kenangan itu muncul kembali di benak Sukri. Yah, Rina adalah gadis yang pernah mengisi hati Sukri, dia jugalah salah satu alasan kenapa Sukri bisa bertahan menghadapi bermacam kesulitan selama di bangku kuliah, Rina adalah gadis manis, pintar, dan sangat peduli kepada dirinya. Rina, gadis yang di kenalnya secara tidak sengaja ketika dia memarkir mobilnya di ruko yang tempat parkirnya di jaga Sukri, Rina tidak canggung untuk menyapanya terlebih dahulu meskipun Sukri sempat Minder luar biasa. Rina, gadis yang akhirnya membuat hati Sukri tertambat dan dia memutuskan untuk mengutarakan perasaannya pada gadis itu, setelah selama dua bulan mereka dekat satu sama lain. “Seandainya aku kaya, kau pasti masih ada di sampingku sekarang, Rina”, setelah masa berpacaran selema dua tahun Rina secara tiba-tiba memutuskan hubungan kasih mereka, tepat setelah acara wisuda, Sukri shock dan sempat tidak percaya, tapi dia tepaksa, di paksa menerima kenyataan bahwa gadis baik, lembut dan penuh pengertian itu, tak lebih baik dari gadis-gadis terpalajar lainnya, materi, kemapanan, kenyamanan, prestasi, itulah yang mereka inginkan dari para lelaki kalau ingin menjadi suami mereka, sayang dalam takdir sukri, tidak satupun tertulis deretan kalimat tersebut, Yah Rina ternyata lebih memilih Steven, lulusan cumlaude Fak teknik, anak orang kaya yang dengan hebat mengembangkan usahanya sendiri itu ternyata juga memgincar Rina sejak lama, dan ternyata diam-diam Rina selama ini melayani perhatiannya. Sukri ikhlas, legowo, sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa membahagiakan gadis yang sangat di cintainya itu. “Semoga kau bahagia bersama laki-laki itu”, doa sukri, meski dia merasa ada sesuatu yg tiba-tiba menekan dadanya, sakit.

Mata Sukri semakin berat, rasa lelah dan kantuk bercampur, pelan dia menutup mata, angannya kembali melayang, kali ini kembali ke masa ketika dia masih sma, Sukri ingat benar masa itu, “Budi, teman ku” dia masih ingat dengan teman sma nya itu, mereka berdua adalah teman senasib, kemanapun mereka berda selalu bersama. Budi sama seperti Sukri, berasal dari keluarga miskin, tapi beda dengan Sukri, Budi adalah pribadi yg periang dan selalu optimis, Budi juga seorang cuek, dia tidak pernah peduli pada setiap ejekan, hinaan, cibiran dari teman-teman satu sekolahnya dia sadar betul bahwa dia miskin, spp juga serlambat, tapi dia tak pernah perduli, dia selalu berkata pada Sukri, “yang penting kita bukan maling, dan kita bisa tetep sekolah”, Budi juga selalu membantu kesulitan Sukri, walaupun kadang malah menyusahkan dirinya sendiri, “aku masih ingat saat aku ketahuan di minimarket itu Bud, terima kasih”, gumam Sukri, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian itu, saat itu Sukri benar-benar dalam hilang akal, gelap mata, irasional, kenyataan bahwa ibunya sedang sakit keras, sehingga dia terpaksa mencuri di minimarket yang ada di perumahan dekat kapungnya, naas Sukri terpergok karyawan minimarket itu, lagi pula dia tidak sadar ada cctv yang terpasang di tiap sudut minimarket. Budi lah yg menyelamatkannya dia yang berbicara sekaligus meminta maaf atas ulah sukri, saat itu kebetulan budi yg penjual gorengan lewat di depan mini market itu, dan dia kenal dengan salah satu pegawainya, Budi lah yg menyelesaikan semua kekacauan yang di timbulkan Sukri, kalau saja tidak Budi mungkin sekarang Sukri adalah seorang narapidana, tapi itulah Sukri terakhir kali Sukri melihat Budi, tiga hari kemudian Sukri mendapat kabar bahwa teman terbaiknya itu meninggal saat berjualan pisang goreng karena tertabrak mobil saat menyebrang jalan, seperti tersambar petir, Sukri benar-benar shock saat mendengar kabar itu, dia adalah satu-satunya orang terus mengalir air matanya saat prosesi pemakaman Budi berlangsung, bahkan keluarga Budi sendiri, tidak ada yg sesedih Sukri. Sepeninggal Budi, segala segalanya menjadi lebih sulit bagi Sukri, dia harus menghadapi segala kesulitan sendirian. “terima kasih Bud, semoga Allah membalas semua amal baikmu”, doa Sukri dalam hati.

Tak terasa hari semakin larut, meski perut mulai berisik tapi Sukri malas beranjak dari ranjang karena tubuh nya sangat lelah, lagi pula memang tidak ada makanan dan tidak ada uang, matanya semakin mengantuk, tapi pikirannya tetap melayang ke masa lalunya, kali ini ingatannya kembali ke masa ketika dia masih kecil, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Masa kecil seharusnya menjadi masa-masa yang ceria bagi kebanyakan orang, tapi itu tidak berlaku bagi Sukri.

Sukri kecil harus susah payah bekerja ikut berjualan pisang goreng membantu ibunya, dia ingat ketika ayahnya meninggal karena penyakit kanker paru, sepeninggal ayahnya, terpaksa ibu Sukri yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa harus turun tangan mencari nafkah untuk menyambung hidup dengan berjualan pisang goreng. “Pak, bu aku kangen kalian” tanpa terasa air mata meleleh membasahi pipi Sukri. Sukri juga masih ingat ketika dia baru pulang dari sekolah ia ingin mampir ke kios ibunya di pinggiran sungai di sekitar panjang jiwo, tapi alangkah terkejut Sukri ketika dia melihat banyak orang-orang berseragam dengan membawa beberapa alat berat, mereka merusak kios-kios yang ada di pinggir sungai, dia melihat cak Sarno berteriak marah kepada orang-orang berseragam itu, dia juga melihat warung cak Sarno sudah ambruk, rata dengan tanah, seketika Sukri panik dia segera ingat nasib ibunya, Sukri kemudian berlari mencari cari ibunya, sambil berteriak-teriak memanggil nama ibunya, setelah beberapa saat dia menemukan sosok wanita paruh baya yang menangis histeris di depan reruntuhan kios, Sukri segera berlari kearah ibunya, wanita paruh baya itu segera memeluk Sukri dan mereka berdua pun sama-sama menangis meratapi kios warisan dari mendiang ayah Sukri.

Tanpa kios untuk berjualan terpaksa ibu sukri berjualan dengan cara keliling untuk menyambung hidup mereka berdua, Sukri pun juga juga ikut membantu ibunya berjualan, sepulang sekolah dia pun berkililing berjualan pisang goreng keliling menggantikan sang ibu, terkadang Sukri kecil merasa iri dengan teman-teman sebayanya yang sepulang sekolah leluasa untuk belajar, bermain dan berkumpul dengan keluarga mereka. “hhmm”, Sukri, menghela nafas, dia merasa samgat mengantuk tapi sulit untuk tertidur, “apa ini sudah takdirku ya Allah”, Sukri bangun dan terduduk diranjang, “apakah aku harus mengalami seluruh kesialan dan ketidak beruntungan ini ya Allah”, ratap Sukri dalam hatinya, “sampai kapan nasib ku seperti ini terus, apakah selamanya aku akan seperti ini”, Sukri sadar dan bener. benar mengerti, semasa kecil dia sering ikut pengajian di langgar kampung bersama cak Sarno, dia mengerti betul bahwa sebagai hamba yang beriman tidak sepatutnya dia mempertanyakan qada’ dan qadarNya, juga bagaimana alam semesta beserta seluruh isinya ini menjalani takdirnya masing-masing adalah hak prerogatif dari Nya, hanya Allah yang maha menentukan segalanya. Dengan sisa tenaga Sukri berusaha bangun dari ranjang, dia melangkah dengan gontai menyeret kakinya ke kamar mandi, “ya Allah, malam ini aku datang padamu dengan ikhlas dan penuh pengharapan”, batin Sukri. “Aku adalah hambamu yang lemah dan banyak khilaf, aku mengharap ampunanMu yang luas dan juga ridha Mu atas hidup dan juga qada’ dan qodar yang kujalani ini, hanya kepadaMu aku berdoa’ dan memohon pertolongan ya Robbal Alamin”.

http://goo.gl/dxq6I8

Gadis Tompel
Berkali-kali gadis melirik cermin yang ada di hadapannya. rasanya ingin sekali gadis itu memaki wajahnya.Baginya wajahnya adalah anugrah terburuk yang ia dapatkan dari sang pencipta. Bagaimana tidak di pipi kanannya terdapat tompel selebar tutup botol.Hal ini membuat gadis tak percaya diri.. ia selalu menjadi bahan olok-olok dari masa SD sampai sekarang ia duduk di kelas XI SMA. Gadis selalu menjadi bahan tawaan teman-temannya di kelas.

Gadis memang tergolong siswi yang cerdas, buktinya ia selalu mendapat peringkat di kelas, gadis tinggi, putih, berambut panjang dan body seperti model. namun ia selalu tak pernah percaya diri dengan adanya tpmpel di pipinya.mamahnya yang mantan model itu pernah berkata.. “gadis kamu harus bersyukur apa pun yang tuhan beri untuk kamu. kamu harus mensyukurinya ini anugrah sayang..” Begitulah berulang-ulang mamah menasehati gadis.
Gadis sadar ini pemberian tuhan untuknya tapi kenapa harus di pipi? Kenapa tidak pada bagian anggota tubuh yang tersembunyi? Begitu juga dengan papah.. “nak, gak baik kamu terus menerus mengeluh dengan ketidak sempurnaan kamu.. banyak yang lebih tidak sempurna dari kamu.. masa Cuma karna satu tompel yang menempel di pipi kamu jadi seperti itu, mengeluh, tidak percaya diri.. kamu itu pintar, cantik, kurang apa lagi??”

“papah dan mamah gak tau, gara-gara tompel ini gadis selalu jadi bahan tawaan teman-teman di kelas. Meraka selalu menyapa gadis dengan sapaan “gadis tompel” gara-gara tompel ini cowok yang gadis sukai juga ikut ilfil dengan tompel ini.. gadis benci tompel ini..!” Gadis bangkit dari depan cerminnya. Meski pun gadis membetulkan ucapan papahnya..

@di sekolah
siswa baru ini bernama raja sangat manis terlihat ketika tersenyum. Lesung pipinya sangat menggoda. Yang lain pada sibuk berkenalan dengan raja namun raja hanya tersenyum. Saat istirahat di kantin.. gadis yang biasaa sendiri, dan tengah asyik menikmati mie ayam dan segelas es jeruk.. tiba-tiba raja mendekati gadis.. Ia tersenyum menyapa, sontak gadis kaget. “kenapa tiba-tiba ada orang yang mau mendekat dengannya. biasanya mereka-mereka pada gak PD duduk dekat dengan gadis. Jangankan duduk bersama menyapa pun mereka-mereka jarang lakukan terkecuali bila mendesak seperti tugas kelompok itu pun sepenuhnya gadis yang mengerjakan, nasib, nasib.. mungkin ini sudah takdir bagi gadis, gara-gara tompel semua jadi berubah 100%. “sial-sial..!”
“tapi kok cowok manis ini mau sih dekat-dekat?”
 
Tanpa berucap apa pun cowok itu hanya tersenyum lalu duduk di samping gadis..
 
Ia membuka bekal yang mungkin ia bawa dari rumah dan mencoba membaginya dengan gadis..
 
 ... baca selengkapnya : http://goo.gl/HDofwV

Wednesday, 14 January 2015

Tujuan Hidup Seorang Gadis Kecil


Seorang gadis kecil tinggal di suatu kota di Negara Indonesia. Dia mempunyai satu orang kakak perempuan dan kedua orang tua. Sekarang, gadis kecil itu menginjak kelas XII di SMA favorit di kotanya.

Suatu hari yang berbahagia, gadis kecil itu sedang memperhatikan seorang guru yang sedang menerangkan sesuatu di depan kelas. Setelah menerangkan sesuatu, guru itu bertanya kepada setiap murid tentang suatu hal termasuk pada gadis kecil itu.

“Fatimah, apa cita-citamu kelak?” Tanya Pak Guru.
“Saya tidak mempunyai cita-cita yang pasti seperti teman yang lainnya, Pak. Seperti dokter, insinyur, arsitektur, dan lain-lain. Tetapi saya memiliki tujuan hidup yang semaksimal mungkin harus saya lakukan. Tujuan itu adalah saya hidup hanya untuk ibadah kepada Allah, menjadi khalifah fil ard, dan kehidupan saya di dunia ini harus berguna untuk manusia. Itulah tujuan hidup saya. Apa pun profesi yang saya geluti nanti, saya akan menjalankannya dengan baik, yang penting profesi itu sesuai dengan kemampuan dan kecocokan saya dalam bidang tersebut dan tidak terlepas dari tujuan hidup saya.” jawab Fatimah.

“Jawaban yang bagus Fatimah, tapi kenapa Fatimah bisa memiliki tujuan hidup seperti itu? Tidak seperti teman yang lainnya yang mempunyai cita-cita setinggi langit?” tanya Pak Guru.

“Saya memang tidak punya cita-cita setinggi langit, tapi saya yakin, Pak. Saat saya memiliki tujuan hidup dan saya memaksimalkan usaha dan kemampuan yang saya punya, tanpa bermimpi atau menarget pasti hasilnya akan lebih baik. Mungkin saya bisa melebihi cita-cita teman saya yang setinggi langit yaitu menjadi seluas alam semesta.” jawab Fatimah.

“Wah, bagus kamu, Fath. Tak sangka ternyata di zaman seperti ini masih ada seorang remaja yang memliki pola pikir seperti itu.” Kata Pak Guru.

Bel berbunyi, tandanya waktu pulang tiba. Semua murid bersiap-siap untuk pulang. Fatimah tidak pulang, dia pergi ke tempat lesnya. Di tempat lesnya terpampang sebuah poster yang isinya menjelaskan tentang beasiswa untuk siswa yang kurang mampu, kalau siswa tersebut lolos dalam tahap-tahap penerima beasiswa, maka siswa tersebut dibebaskan biaya saat dia kuliah nanti. Fatimah tertarik dengan beasiswa itu, dia pikir jika dia diterima menjadi salah satu siswa penerima beasiswa pasti kedua orang tuanya akan tersenyum penuh dengan kebahagiaan. Fatimah pun menulis syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengikuti beasiswa tersebut.
 
***

“Mah, tadi di tempat les Ade ngeliat poster beasiswa. Ade mau ikut beasiswa itu, syarat-syaratnya ini, diusahain besok udah ada. Nanti sama Ade syarat-syarat dan formulirnya dikasih ke tempat les.” kata Fatimah. “Emang beasiswa apa, Fath?” Tanya Mamah.

“Beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, nanti kalau Ade lolos seleksi, Mamah enggak usah bayarin Ade kuliah.” jawab Ade sambil tersenyum.

“Ikutan aja, Fath. Biar Mamah yang ngumpulin syarat-syarat untuk beasiswanya. Kalau kamu nanti lolos, mamah sangat terbantu sekali.” kata Mamah. “Siap deh, Mah. Makasih ya, Mah.” Kata Fatimah sambil memeluk Mamahnya.

“Sama-sama, Fatimah sayang.” Kata Mamah.

***
Ada beberapa tahap untuk bias mendapatkan beasiswa itu. Tahap pertama adalah tes akademik I, tahap kedua adalah wawancara, dan tahap ketiga atau akhir adalah tes akademik II. Tahap pertama yaitu tes akademik I dilaksanakan di Ganesha (tempat dilaksankanannya setiap tahap beasiswa), banyak sekali siswa yang mengikuti beasiswa tersebut. Kurang lebih ada sembilan ratus orang yang mengikuti beasiswa itu. Fatimah menempati duduk di belakang, dengan persiapan tes yang kurang maksimal, Fatimah tetap berdoa agar diberikan kelancaran dan kemudahan oleh Allah dan diberikan hasil yang terbaik oleh Allah.

Tes akamedik I pun dimulai, semua siswa mengerjakan soal yang diberi oleh panitia. Satu menit, dua menit, tiga puluh menit, waktu berlalu begitu cepat.

“Waktu yang tersisa lima belas menit lagi.” kata panitia. Dan waktu untuk mengerjakan soal pun habis. Fatimah mengerjakan soal itu semampunya, semampu yang bisa dia kerjakan. Hasil yang nanti dia dapati, baik buruk maupun baik. Dia serahkan semuanya pada Allah.

***

Pengumuman siswa yang lolos beasiswa pun dibuka. Dengan cepatnya, Fatimah melihat hasilnya. Syukur Alhamdulillah, Fatimah lolos tahap pertama. Tak ada kata yang bisa Fatimah ucapakan selain ucapan terima kasih kepada Allah atas jalan yang Dia beri untuk Fatimah. Siswa yang lolos tahap pertama kurang lebih tiga ratus orang.

Siswa yang lolos tahap pertama, diminta untuk datang ke Ganesha untuk pendataan dan ada beberapa hal yang akan disampaikan kepada siswa yang lolos.

***
Semua siswa pun berkumpul di Ganesha pada hari yang telah ditentukan. Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa tahap kedua yaitu wawancara telah dilalui, mereka mewawancarai peserta melalui formulir yang diisi oleh peserta.

Tersisa satu tahap lagi untuk mendapatkan beasiswa tersebut, tahap ini adalah tes akademik II yang akan diselenggarakan berbarengan dengan gelombang kedua beasiswa tersebut. Pada bulan Desember, tahap ketiga ini akan dilaksanakan. Supaya para siswa mempunyai bekal ilmu yang cukup untuk tes akademik II, siswa diberi les gratis oleh Yayasan Ganesha dan salah satu tempat les di kota itu.

Para siswa diberi secarik kertas, di sana tertulis jadwal yang akan dipilih untuk les. Fatimah pun memilih hari-hari yang tidak bentrok dengan kegiatannya.

***

Saat itu Fatimah merasa bebannya mulai bertambah, dia harus meluangkan banyak waktu untuk belajar. Padahal sudah cukup baginya les sepulang sekolah yang dia lakukan dua kali seminggu. Entah mengapa hatinya tak menerima dirinya disibukkan oleh hal seperti itu. Dia lebih baik disibukkan dengan kerjaan organisasi atau disuruh pergi kesana kemari. Beban yang Fatimah rasakan saat ini membuat dirinya menjadi stres, akhirnya Fatimah pun jatuh sakit. Sangat jarang Fatimah sakit dua kali dalam satu bulan. Dia pun bingung, kenapa dirinya sakit lagi? Pada hari Minggu, Fatimah bertemu dengan seseorang yang suka memberinya solusi. Sebut saja orang itu Kakang. Fatimah pun menceritakan semua bebannya pada Kakang. Dengan bijak, Kakang memberikannya solusi.

“Tidaklah satu pun makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah. Semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur oleh-Nya. Mungkin saja pandangan kita buruk terhadap suatu hal, tapi ternyata hal itu adalah hal yang baik bagi kita. Allah sudah merencanakan semua hal yang terbaik bagi kita. Janganlah kita selalu suudzan pada-Nya. Sekarang yang Fatimah alami adalah ketidaksukaan Fatimah disibukkan dengan banyaknya tambahan belajar di luar jam pelajaran sekolah. Namun mungkin dibalik ketidaksukaan itu, terdapat suatu hal yang baik bagi Fatimah. Sekarang yang perlu Fatimah lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah, Dialah yang mengatur kehidupan kita, baik atapun buruknya hanya Dia yang tau. Pahamilah diri Fatimah bahwa Fatimah sedang berada ditempat yang mengharuskan Fatimah untuk selalu belajar. Mungkin ini juga salah satu doa Fatimah yaitu semoga selalu diberikan yang terbaik oleh-Nya. Mungkin inilah yang menurut-Nya terbaik untuk Fatimah saat ini. Setelah berbaik sangka, yakinkan pada diri Fatimah bahwa ini adalah kesempatan Fatimah untuk memaksimalkan kemampuan dan usaha yang Fatimah lakukan.

Teruslah berjuang untuk tujuan hidup yang telah Fatimah pilih. Jangan pernah Fatimah mengeluh akan suatu hal, karena itu tak ada gunanya. Tak ada bedanya kok, setelah atau sebelum Fatimah mengeluh akan suatu hal. Nah terus, sakit yang Fatimah alami sekarang bukan karena Fatimah cape melakukan suatu aktivitas. Tapi Fatimah lelah dengan perasaan Fatimah sendiri, Fatimah stress menghadapi ini semua. Itu bisa membuat seseorang atau Fatimah jadi sakit. Oleh karena itu, kendalikan stres itu. Kakang yakin, Fatimah pasti bisa. Semangat!”

Satu, dua, tiga tetes air mata mengalir di pipi Fatimah. Fatimah sadar semua hal yang dikatakan Kakang adalah benar. Kalaulah aku menjadi seorang yang mengeluh, apa gunanya juga?

Solusi yang Kakang berikan pada Fatimah membuat Fatimah menjadi lebih yakin bahwa ini bukanlah suatu beban tapi inilah jalan dan takdir Fatimah. Oleh karena itu, Fatimah harus memaksimalkannya.

***

Sekolah, les, dan les, itulah rutinitas yang Fatimah lakukan tiap harinya. Hari ini, ya, hari ini mungkin Fatimah sampai pada titik jenuh dia untuk belajar. Walau begitu, Fatimah tetap istiqomah untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan memaksimalkan waktu yang ia punya untuk hal yang berguna, salah satunya yaitu untuk belajar.

***

Beberapa bulan kemudian, bulan Desember. Tahap ketiga atau akhir yaitu tes akademik II telah tiba. Fatimah telah duduk menunggu soal yang datang untuk dia isi. Soal pun dibagikan, Fatimah mengerjakan soal-soal itu dengan teliti dan cermat.

Beberapa jam setelah tes, hasil dari tahap ketiga itu dipampang di sebuah mading di Ganesha. Pada tahap ketiga ini hanya 150 orang yang lolos. Fatimah pun berburu dengan siswa lainnya untuk melihat hasil tahap ketiga.

“Fatimah Azzahrah LOLOS”

Rasa syukur dia panjatkan kepada Allah SWT, tak ada kata yang dia ucap selain Alhamdulillah. Hanya Allah yang dapat memberikan semua ini padanya.

***

Bulan Maret.
Tak terasa bulan yang ditunggu oleh para siswa se-Indonesia akhirnya datang juga. Setelah usaha yang telah mereka lakukan, belajar setiap hari agar dapat mengerjakan ujian nasional dengan lancar dan mereka akan merasakan hasilnya pada hari-hari ujian ini. Tetapi ada beberapa oknum yang mengandalakan kunci jawaban yang telah mereka beli sebelum UN dilaksanakan. Oknum tersebut membagikan kunci jawaban pada semua siswa termasuk Fatimah. Tetapi dengan keyakinan yang kuat Fatimah menolaknya.

“Fatimah ingin mengerjakan ujian ini dengan jujur, tanpa kecurangan sedikit pun. Bukan nilai atau kelulusan yang Fatimah diinginkan, tapi yang Fatimah inginkan adalah mental baja seorang pemuda Indonesia di masa mendatang. Bukan para pemuda yang bermental tempe yang tak siap mengahadapi dunia dan malah melakukan korupsi kecil-kecilan seperti ini.

Kalau kalian masih melakukan hal semacam ini, tak salah kok kalau negara kita tidak akan pernah maju. Kenapa? Karena pemuda penerus bangsanya sudah diajarkan sejak dini, bagaimana caranya untuk melakukan kecurangan atau korupsi?” kata Fatimah dengan nada yang tegas.

Semua oknum yang mendengar ucapan Fatimah seketika terdiam membisu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Akhirnya, oknum penyebar kunci jawaban UN pun mengambil semua kertas kunci jawaban yang sudah ditulis oleh siswa dan membuangnya.

“Berlakulah adil pada diri kita sendiri, kita selalu mengeluh kalau ada pejabat yang korupsi, padahal secara tidak sadar kita pun melakukan korupsi kecil. Sudah cukup sampai sini kita menyontek dan melakukan kecurangan. Ayo kita maksimalkan kemampuan yang kita punya untuk mengisi soal-soal ujian ini. Buktikan bahwa kita bisa dengan kemampuan yang kita punya.” Kata salah satu oknum kepada teman-teman di kelas. Ujian Nasional pun dilaksanakan, semua siswa di ruangan Fatimah mengisi soal-soal ujian dengan jujur tanpa melakukan kecurangan sedikit pun seperti menyontek.

Hari-hari Ujian Nasional telah Fatimah lalui. Setelah Ujian Nasional, ada ujian berikutnya yang haru Fatimah lalui, ujian itu adalah PMBP ITB.

***

Beberapa hari setelah UN dilaksanakan. PMBP ITB (Penelusuran Minat Bakat Prestasi Institut Teknologi Bandung) sudah di depan mata.

Fatimah mencari tempat duduknya untuk melaksanakan PMBP ITB. Selama dua hari PMBP ITB dilaksanakan. Fakultas yang Fatimah pilih yaitu 3 diantaranya adalah FTI, FTTM, dan FITB. Tak ada yang bisa membantu Fatimah pada saat PMBP kecuali Allah. Fatimah selalu berdoa setelah solatnya.

“ Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba- Mu ini, berilah aku kelancaran dan kemudahan untuk menjalani perjalanan hidup di dunia. Berilah aku jalan terbaik menurut-Mu. Selamatkanlah aku di dunia maupun akhirat. Amin. ”

PMBP pun sudah Fatimah lewati. Walau semua ujian tulis telah Fatimah lalui, Fatimah tak hentinya belajar. Karena dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Apakah dia diterima di ITB melalui jalur PMBP atau tidak? Yang tahu hanyalah Allah SWT.

***

Pengumuman PMPB pun dibuka, Fatimah membuka web ITB dan mengetikkan nama dan nomor peserta ujian pada halaman web tersebut. Setelah menunggu beberapa detik. Keluarlah hasil dari perjuangan seorang gadis kecil.

FATIMAH AZZAHRAH
Selamat Anda
DITERIMA
FTTM ITB

Sujud syukur, hal yang pertama kali dia lakukan setelah melihat hasil tersebut. Berterima kasih kepada Allah yang memberikan dia hasil yang membuat kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Tidaklah satu makhluk di dunia ini yang tidak diberi ujian oleh Allah, hasil yang Fatimah dapati hari ini bukanlah kesenangan belaka. Tapi itu semua adalah sebuah ujian baru yang Allah berikan untuk Fatimah.

***

Beban, ya beban, sesuatu yang Fatimah anggap beban kali ini mulai berkurang. Tersisa satu pengumuman lagi yang Fatimah nanti. Itu adalah hasil Ujian Nasional. Tak terasa, hari pengumuman pun tiba. Sekolah mengirim hasil Ujian Nasional via pos ke setiap rumah. Surat itu pun sampai di rumah Fatimah. Perlahan Fatimah membuka isi surat itu. tertulis disana sebuah kata LULUS, tersenyumlah Fatimah.

***

“ Ya Allah, ya Rabb. Apakah semua ini adalah takdir yang terbaik yang engkau berikan padaku saat ini? Apakah ini jalan yang telah kau berikan agar aku tetap istiqomah pada tujuan hidupku? Jika iya, aku akan berusaha semaksimal mungkin dengan detik-detik terakhir yang aku punya agar aku bisa membuat bumi dan isinya menjadi lebih baik. Terima kasih atas segala yang telah Kau berikan kepadaku ya Allah, tanpa-Mu aku bukan apa-apa di dunia ini. SemogaEngkau selalu menuntun setiap langkah yang aku jalani. Amin. ”

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/9Ev7IL

Lelaki Tua yang Merindukan Bintang
“Ya, tapi entah kenapa untuk itu, Tuhan harus meminta tumbal!”
“Tumbal?”



Malam mengalun.
Lampu pijar menerang susah payah sebuah teras rumah sederhana. Pada sebuah amben reyot seorang lelaki tua dan perempuan tua duduk.

“Ceritakan padaku, apa yang kau lihat?” kata lelaki tua. Perempuan tua tua yang duduk di sampingnya memilin ujung baju abadinya, kebaya usang berwarna pudar.
“Tak ada,” kata perempuan tua. “Gelap saja.”
“Tak ada? Bulan tak ada? Bintang?” lelaki tua merasa tak yakin dengan jawaban yang ia dengar.
“Mestinya ada. Tapi mendung sekarang ini, langit gelap sekali.”
Lelaki tua terbatuk-batuk beberapa lama. Perempuan tua mengangsurkan padanya gelas berisi air teh pahit.

“Aku masih ingat,” lelaki tua kembali berkata-kata di antara sisa-sisa batuknya baru saja. “Dulu aku selalu melihat bintang sampai jauh malam. Bintang adalah makan malam. Tidak benar-benar mengusir rasa lapar, tapi bisa membuat aku melupakan rasa lapar.”
“Kau tadi mengunyah krowodan-mu. Kau tak sedang lapar lagi bukan?”
“Tidak, aku hanya bercerita saja. Dulu perutku lapar sepanjang malam, tapi jiwaku tidak. Sekarang ini mungkin lebih baik, tapi aku rindu kerlap-kerlip bintang dan terang bulan.” Lelaki tua mengelu-elus lututnya.
“Keadaan telah membuatku menjadi sedemikian tangguh untuk rasa lapar. Tapi untuk melupakan bintang yang telah menghiburku dari rasa lapar selama bertahun-tahun, aku merasa sangat lemah. Kau tahu, keadaanku sekarang memaksaku melupakan bintang, melupakan bulan…”

Perempuan tua diam. Ditatapnya lelaki tua yang telah hidup bersamanya puluhan tahun. Lelaki tua yang tangguh dan tak pernah mengeluh bersahabat dengan kemiskinan dan rasa lapar sejak dilahirkan.
Tapi sejak tirai dunia di matanya tertutup rapat-rapat oleh sebab yang sulit dimengerti, lelaki tua itu selalu mengeluh. Hampir setiap waktu.
Seperti malam ini, ia kembali menanyakan bintang, menanyakan bulan.

“Aku tahu, kau akan selalu merindukan bintang-bintang itu.”
“Hidup mengajariku untuk menjadi kuat meski rasa lapar seperti pakaian yang melekat. Tapi hidup tak pernah mengajarkan kepadaku cara melupakan rasa lapar dalam jiwa. Melupakan yang menenangkan jiwa, melihat bintang.” Kata lelaki tua dengan wajah mengarah jauh menembus kegelapan. Sepasang matanya yang disaput habis selaput putih mengerjap, meluruhkan begitu dalam perasaan perempuan tua di sampingnya.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/9fmpLj

Tuesday, 13 January 2015

Malaikat Berseragam


Ini adalah kisah keluarga yang diceritakan ayahku tentang ibunya, yakni nenekku.

Pada tahun 1949, ayahku baru pulang dari perang. Di setiap jalan raya Amerika, terlihat tentara berseragam meminta tumpangan pulang ke keluarganya, seperti kebiasaan di Amerika saat itu.

Sedihnya, kegembiraan reuni bersama keluarganya kemudian dinaungi kegelapan. Nenekku sakit parah dan harus masuk rumah sakit. Ginjalnya sakit, dan para dokter memberitahu ayahku bahwa nenek harus segera ditransfusi darah atau ia tak akan bertahan melewati malam itu. Masalahnya, golongan darah nenek itu AB, golongan yang langka, bahkan juga sekarang, tapi waktu itu lebih sulit lagi diperoleh karena tak ada bank darah maupun pesawat untuk mengirimkannya. Semua anggota keluarga dites, tapi tak satu pun memiliki golongan darah yang cocok. Jadi para dokter tak memberi harapan pada keluarga, nenekku akan meninggal.

Sambil menangis, ayahku meninggalkan rumah sakit untuk menghimpun seluruh anggota keluarga, supaya semuanya bisa mendapat kesempatan untuk berpamitan dengan nenek. Saat ayahku mengendarai mobil di jalan raya, ia melewati seorang tentara berseragam yang minta tumpangan pulang. Dengan duka yang dalam, saat itu ayahku tak beniat beramal. Tapi, seakan ada sesuatu di luar dirinya yang menyuruhnya berhenti, dan ia menunggu orang asing itu naik mobil.

Ayahku terlalu sedih untuk menanyakan nama tentara itu sekalipun, tapi tentara itu langsung melihat air mata ayahku dan menanyakannya. Sambil menangis ayahku bercerita pada orang asing ini bahwa ibunya terbaring sekarat di rumah sakit karena dokter tak dapat menemukan golongan darahnya, AB dan jika sampai malam tiba golongan darah itu belum ada, ibunya tentu akanmati.

Suasana di mobil menjadi hening. Lalu, tentara tak dikenal ini menjulurkan tangannya pada ayahku, telapak menengadah. Pada telapak tangannya terdapat kalung tentara dari lehernya. Golongan darah pada kalung itu adalah AB. Tentara itu menyuruh ayahku membalikkan mobil dan membawanya ke rumah sakit.

Nenekku hidup hingga tahun 1996, empat puluh tujuh tahun kemudian, dan sampai saat ini tak seorangpun keluarga kami yang mengetahui nama tentara itu. Tapi ayahku sering bertanya-tanya, apakah orang itu tentara atau malaikat berseragam?

Jeannie Ecke Sowell

http://goo.gl/LgYjYh

Kabar Baik: Anda Dapat Mengubah Dunia!
Oleh: Victor Asih

Banyak orang yang merasakan bahwa situasi disekelilingnya tidak nyaman, tidak sesuai dengan keinginannya, dan perlu diubah menjadi lebih baik. Mereka berharap dan bahkan kerap kali memaksa orang-orang lain disekitarnya untuk berubah sesuai keinginannya.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa kunci untuk mengubah situasi itu ada pada dirinya sendiri, bukan pada orang lain. Saya teringat pada sebuah cerita yang pernah dua kali saya dengar sejak beberapa tahun yang lalu. Saya akan coba ceritakan kembali dalam tulisan saya agar dapat memberi inspirasi dan motivasi pada para pembaca artikel ini.

Seorang wanita yang telah lanjut usia tinggal di rumah seorang anak lelakinya. Sejak wanita ini tinggal di rumah tersebut sang menantu wanita merasa tidak nyaman. Dia merasa sangat terganggu dengan kehadiran sang ibu mertua. Seringkali terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dengan sang ibu mertua. Sang ibu mertua merasa dirinya benar dan harus dihormati sebagai orang tua yang sudah memiliki banyak pengalaman. Sedangkan sang menantu merasa bahwa ibu mertuanya masih berpikir kolot (jadul) tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman sekarang.

“Mertua saya cerewet, suka ikut campur urusan rumah tangga anak-anaknya, biang protes, judes, dan juga sok ngatur, termasuk dalam hal mendidik anak-anak saya”, kata sang menantu.

“Sejak dia tinggal di sini, saya merasakan situasi rumah tangga saya menjadi seperti di neraka!”, tambahnya lagi. Memang, sempat terjadi juga beberapa pertengkaran besar dengan suaminya yang membela ibunya saat sang istri ingin agar sang mertua segera dipindahkan ke panti jompo.

Akhirnya dengan merasa begitu putus asa dan sangat membenci sang ibu mertua, sang menantu pergi menemui seorang sinshe (ahli pengobatan tradisional Cina) bernama Ling yang juga adalah sahabat karibnya. Dia berkeluhkesah kepada sahabatnya itu mengenai berbagai masalah yang dideritanya setelah sang ibu mertua tinggal di rumahnya.

“Sebagai sesama wanita, kamu pasti mengerti kan bagaimana perasaan sakit hatiku pada ibu mertuaku itu, Ling?”, katanya sebagai penutup ceritanya.

“Coba saja kalau ibu mertuaku itu cepat mati, rumah tanggaku akan kembali tentram dan bahagia kembali”, celetuknya.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/MIgGkZ

Kadang sebagian manusia itu lucu juga. Karena biasanya SMS permohonan maaf itu dikirimkan ke keluarga dan sahabat yang belum tentu kita berbuat khilaf. Mungkin saja ada ke-khilafan yang tanpa disadari yang pernah kita lakukan. Tapi yang saya maksud lucu adalah, bagaimana dengan keluarga atau sahabat yang betul-betul memang ada sedikit perselisihan dan kemudian menjadi masalah besar? Apakah mereka-mereka itu juga sudah kita kirimkan SMS permintaan maaf, di saat ramadhan yang sebentar lagi tiba.

Saya sih ndak mau berbicara tentang manfaat dan mudharat ketika memberi dan meminta maaf atau tidak mau memaafkan sama sekali. Biarlah hal itu menjadi urusan para penceramah. Tentunya ada sangat banyak ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat hadis yang berkenaan dengan kata “maaf”. Tapi kali ini saya ingin membahasnya dari sudut pandang teknologi pikiran.

Kenapa sih sulit sekali untuk memaafkan orang lain atau meminta maaf? Dari sudut pandang psiko-analisa, akan dikatakan bahwa kita sudah dari kecil diajarkan untuk merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Sudah terlalu sering diajarkan bahwa meminta maaf akan menjatuhkan harga diri kita, apalagi jika kita merasa bahwa kita-lah yang benar dalam masalah tersebut.

Itu menurut psiko-analisa. Tapi, saya ingin membahasnya lebih kepada cara kerja pikiran kita. Penelitian dibidang neuro-sains semakin membuktikan bahwa “emosi” memegang peranan sangat penting dalam melakukan suatu tindakan tertentu. Emosi kita-lah yang menjadi motivator bagi kita untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, malas. Bukankah salah satu hal yang membuat kita cenderung menunda adalah karena setiap kali kita ingin melakukan action, selalu saja ada emosi tertentu yang membuat kita merasa enggan melakukan action, yang biasanya kita sebut sebagai malas. Tentunya bukan hanya malas, rajin juga merupakan sebuah istilah yang kita sebutkan ketika kita merasakan suatu emosi bahagia campur aduk dengan semangat tinggi untuk melakukan action.

Atau misalkan, di hadapan Anda sekarang ada remote TV dan batu sebesar genggaman tangan. Anda diminta untuk memilih salah satunya saja, untuk melakukan suatu action, yaitu melempar mangga yang letaknya di bagian atas sebuah pohon mangga. Anda pilih yang mana? Kebanyakan orang, tentu akan memilih sebuah batu sebesar genggaman tangan. Walaupun hal ini Anda lakukan tanpa Anda sadari, penelitian sudah membuktikan bahwa terdapat suatu dorongan emosi tertentu yang membuat Anda memilih batu dibandingkan remote TV untuk melempar mangga.

Nah, dorongan yang terjadi tanpa Anda sadari ini merupakan suatu dorongan “emosi” tertentu di dalam diri Anda. Dan “emosi” kita senantiasa mengikuti persepsi/keyakinan kita. Jika di level bawah sadar, tanpa Anda sadari, Anda memiliki keyakinan bahwa meminta maaf itu membuat harga diri kita jatuh, maka akan selalu ada sebuah dorongan “emosi” tertentu yang membuat Anda sama sekali enggan untuk memberi maaf, apalagi meminta maaf terlebih dahulu.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/o8PSVx