Thursday, 26 February 2015

RAIHLAH MIMPIMU

Ini adalah sebuah lirik lagu,sebuah lagu yang menggugah hati dan menggambarkan dari perjalanan derita dan perih berkepanjangan yang tak dapat di tolong secara materil hanya sugesti doa dan motivasi sebagai pendorong semangat hidup di dalam hati insan tuk tetap bertahan dan masih berjuang tuk meraih mimpi.
Lagu ini tercipta dari sebuah band yaitu: SUPERMAN IS DEAD dengan judul "SUNSET DI TANAH ANARKI" Dan di bawah ini liriknya......bila definisi saya tidak klop mohon maaf dan pencerahannya .......
SUNSET DI TANAH ANARKI
Andai ku malaikat ku potong sayapku
dan rasakan perih di dunia bersamamu
perang kan berakhir, cinta kan abadi
di tanah anarki romansa terjadi
desing peluru tak bertuan, hari-hari yang tak benderang
setiap detik nyawa ini ku pertahankan untukmu
alasanku ada di sini dan parasmu yang ku rindukan
di neraka kan ku menangkan hariku bersamamu
andai ku malaikat ku potong sayapku
dan rasakan perih di dunia bersamamu
perang kan berakhir, cinta akan abadi
di tanah anarki romansa terjadi 
dalam gelisah ku menunggu berita tentang gerilyamu
semerbak rindu kuasai udara panas ini
sepucuk surat telah tiba dan senja pun ikut berdebar
kalimat indah dan kisahmu tentang perang dan cinta
andai ku malaikat ku potong sayapku
dan rasakan perih di dunia bersamamu
perang kan berakhir, cinta akan abadi
di tanah anarki romansa terjadi
ku basuh luka dengan air mata
oh hatimu beku serta jiwamu yang lelah
tak henti lawan dunia dengan mimpi besar untuk cinta
dan jalanmu tuk pulang, di ujung waktu kan ada cahaya
itulah aku, raihlah mimpimu
andai ku malaikat ku potong sayapku
dan rasakan perih di dunia bersamamu
perang kan berakhir, cinta akan abadi
di tanah anarki romansa terjadi
andai ku malaikat ku potong sayapku
dan rasakan perih di dunia bersamamu
perang kan berakhir, cinta akan abadi
di tanah anarki romansa terjadi
itulah aku, raihlah mimpimu
Artis        : Superman Is Dead
Album     : Sunset Di Tanah Anarki
Label       : Sony Music Entertainment
Pencipta : Jrx, Bobby Kool
Sumber:
https://liriklaguindonesia.net/superman-is-dead-sunset-di-tanah-anarki.htm

Monday, 23 February 2015

Mawar Dari Surga


14 Februari 2006

Dua minggu yang lalu pesawat yang ditumpangi Arga telah dinyatakan hilang, hingga hari ini pesawat yang ditumpangi Arga belum ditemukan. Arga adalah suamiku, kami menikah sekitar tiga bulan yang lalu. Saya mulai pasrah menerima keadaan ini. Beberapa kerabat sering datang ke rumah untuk memberi dukungan doa dan penguatan.

Kupandangi seikat bunga layu di dekat foto Arga. Bunga layu itu adalah hadiah valentine dari Arga untukku setahun yang lalu. Sekalipun Arga bukan sosok yang romantis, ia sering memberi kejutan-kejutan kecil kepadaku. Memberi bunga padaku saat Valentine adalah salah satu hal wajib bagi dia.

Hari ini sebenarnya adalah Valentine pertama bagi pernikahan kami. tapi Arga malah ?pergi? meninggalkan aku.

...

?Permisi..? kudengar suara orang mengetuk pintu. Segera aku menuju pintu dan membukanya.

?Apakah ini rumah Ibu Arga ?? tanya orang itu.

?Ya saya sendiri.? Jawabku

?Ini bu.. cuma mau mengantar kiriman bunga dari Bapak Arga.? Katanya sambil menyodorkan seikat Bunga Mawar yang sangat indah. Aku baca tulisan di kertas kecil, terdapat tulisan ?Semoga aku mencintaimu lebih lagi di tahun ini.. (Arga)?

Aku menerimanya sambil melongo?

?Tapi.. tapi.. Bapak Arga telah hilang ..dan mungkin telah tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu.. ? Kataku pada pengantar bunga itu setengah tidak percaya.

?Lho kok bisa ?? kata pengantar bunga itu. Kemudian dia mengambil HP dari saku dan menelepon atasannya. Mungkin dia ingin memastikan bahwa itu bukan bunga salah alamat atau kiriman orang iseng.

Agak lama dia menelepon. Aku juga tidak begitu jelas mendengar percakapannya dengan atasannya.

?Begini bu, ini memang benar-benar bunga dari Bapak Arga.? Pengantar bunga itu akhirnya berkata, ?Bapak Arga sendiri yang memesan bunga ini sekitar tiga bulan yang lalu, dan dia ingin agar bunga-bunga ini di antar pada tanggal 14 Februari?

Dia melanjutkan, ?Bapak Arga telah memesan sepuluh ikat bunga kepada kami, dia ingin kami mengantarkannya kepada anda setiap tahun pada tanggal 14 Februari, hingga 10 tahun ke depan. Bapak Arga juga telah menulis 10 kartu ucapan dengan kalimat-kalimat yang berbeda untuk diselipkan dalam setiap ikatan bunga pesanannya.?

Tiga bulan yang lalu.. setahuku itu adalah bulan saat kami menikah.

...

14 Februari 2007

Hari ini bunga mawar itu dikirim lagi oleh pengantar bunga itu. Aku tersenyum saat pengantar bunga itu menyodorkan bunga itu kepadaku.

Setelah meletakkannya di dekat foto mendiang suamiku, aku potong salah satu bunga itu, dan memegangkannya ke tangan mungil anak pertamaku. Bayi kecil lucu itu, yang mewarnai hari-hari indahku akhir-akhir ini.

?Ini nak.. ada bunga dari Bapak..? kataku lirih.

Aku sengaja memberinya nama ?Arga Samudra? ? sama persis dengan nama bapaknya, agar kelak dia punya kekuatan untuk mencintai, setulus bapaknya.
 
 
 http://goo.gl/N2jUae

 Faktor ?R?
Membaca sejumlah tulisan saya mengenai resep sukses, seorang kawan mengirimkan sandek alias sms ke telepon seluler saya. Bunyinya demikian : ”Halo Bung. Tulisan Anda seputar kiat sukses banyak menginspirasi saya. Akhirnya saya menyadari bahwa penting sekali memahami cara menyingkirkan keyakinan negatif, ketakutan berlebihan, dan kebiasaan yang menghambat perkembangan saya. Ibarat mengendarai mobil sambil menginjak rem, berbagai rintangan dapat memperlambat kemajuan saya. Saya perlu belajar melepaskan pedal rem, atau saya akan sering mengalami kehidupan sebagai perjuangan dan gagal mencapai impian hidup, cita-cita, atau target saya. Terima kasih sudah menyapa kehidupan saya. Teruslah menulis.” (Namanya sandek, kok malah panjangnya sampai 557 karakter, termasuk spasi. Mungkin namanya harus diubah menjadi sanjang alias pesan panjang hahahaha).

Wah, mendapat sandek yang demikian, kepala saya jadi agak membesar. Rupanya ada juga—tentu saja pasti ada—yang terinspirasi dengan gagasan-gagasan sederhana yang saya bagikan di berbagai forum dan media. Bagi seorang pembelajar sekolah kehidupan yang mendedikasikan sebagian hidupnya untuk menyebar harapan kepada banyak orang—lewat berbagai seminar, pelatihan, dan tulisan—tanggapan semacam itu sungguh seperti siraman air yang menyegarkan.

Kesegaran batin dari tanggapan kawan tersebut terutama bukanlah karena ia berterima kasih pada saya. Untuk hal yang satu ini, saya punya banyak pengalaman. Hampir dalam setiap kesempatan berbagi pesan-pesan kehidupan, sejumlah orang berterima kasih pada saya. Dan saya pun, dalam banyak kesempatan, berterima kasih kepada mereka atas undangan dan kesempatan menyampaikan pesan-pesan itu secara lisan maupun menyapa mereka lewat tulisan. Jadi, soal saling berterima kasih itu adalah hal biasa.

Kalau ada kawan-kawan yang agak berlebihan dalam menyampaikan terima kasihnya, saya tak jarang mengingatkan bahwa kalau mau jujur, dalam hidup ini kita menjadi murid dan guru sekaligus. Tidak benar bahwa saya sebagai narasumber, sebagai trainer, sebagai pembicara motivasi, sebagai fasilitator pembelajaran, atau sebagai penulis, selalu dalam posisi pengajar atau guru. Lewat proses mengajar, memotivasi, memandu proses pembelajaran, atau menulis, saya juga sekaligus belajar. Tidak benar kalau hanya orang-orang yang mendengarkan dan membaca tulisan saya saja yang belajar kepada saya. Saya pun, dengan cara saya, menarik pelajaran dari tanggapan-tanggapan mereka.

Ibarat setiap atasan yang membutuhkan bawahan dalam bekerja (atau sebaliknya), demikianlah pembicara dan penulis membutuhkan audiens pendengar dan pembacanya. Hubungan di antara keduanya bersifat resiprokal, timbal balik. Jadi, sangatlah wajar jika masing-masing menunjukkan rasa terima kasih dengan cara-cara tersendiri.

Yang menyegarkan batin saya dari sandek kawan satu ini bukan terima kasihnya, melainkan isi sandeknya yang merupakan resep sukses tersendiri.

Untuk mudahnya, resep sukses kali ini saya sebut Faktor R alias rem.

Faktor Rem ini mencakup tiga komponen penting, yakni : pertama, menyingkirkan keyakinan negatif; kedua, mengatasi ketakutan berlebihan; dan ketiga, membuang kebiasaan yang menghambat perkembangan. Ketiga komponen ini bersifat menghambat laju gerak langkah meraih sukses. Dan ketiga komponen ini biasanya justru saling terkait, saling terhubung, tidak berdiri sendiri.

  ... baca selengkapnya di : http://goo.gl/OPzyRc

Wednesday, 11 February 2015

Sacrifice of Love


Pagi ini hari pertama Senandung masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Seperti biasa sahabatnya Fira selalu menghampirinya untuk berangkat ke SMAN Bina Bangsa. Sekarang mereka sudah naik ke kelas 11. Saat Fira datang “Senandung.. kelas kita diacak!” kata Fira dengan nada khawatir kepada Senandung yang sedang memakai sepatu.
“Hah..? diacak!!? Yang bener kamu!?”
“Iya, beneran!?”
“Trus kita sekelas nggak?!”
“Sekarang kita sekelas”
“Trus dia sekelas sama kita nggak?”
“Iya.. sekelas”
Senandung hanya tediam dengan muka yang agak gelisah. Fira dan Senandung adalah sepasang sahabat tapi beda kelas mereka adalah anak kelas imercy (kelas unggulan). Lalu batin Senandung hanya mengeluh “Oh.. dear kenapa harus satu kelas?”
“Fira, sebenernya aku udah denger desas desusnya kalau waktu kelas 11 ini kelas kita bakal diacak..”
“Trus kamu gimana?”
“Gimana apanya?”
“Ya itu..”
“Oh.. itu, ya.. aku harus bisa membaur lah.. kan satu kelas,” Dengan muka tersenyum tidak bahagia.
“Ya udah berangkat yuk..”
Lalu Senandung segera beranjak dari posisi duduknya dan pamit dengan orangtuanya lalu berangkat.

Sampai di sekolah. Dan bel 3 kali berbunyi menandakan masuk kelas.
Sekarang memang Senandung masih di kelas A, tapi ada bagian baru dan bagian yang hilang dari kelasnya. Teman teman Senandung di kelas 11 ini memang lebih asik dibanding saat dulu ia kelas 10. Pada awalnya ia sangat malu untuk berbicara dengan Aldo, dan teman teman dari lain kelas yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, telah berlalu selama 2 bulan
Senandung sudah merasakan rasa ini sejak kelas 10, rasa itu selalu muncul saat menatap mata Aldo. Tapi Aldo adalah laki-laki yang ramah kepada semua orang sekalipun orang itu sangat dibencinya. Dan Senandung sering melihat pemandangan yang membuat hatinya merasa sebal saat Vio bercanda dengan Aldo. Vio terlihat sangat agresif terhadap Aldo. Dan parahnya Aldo sepertinya merespon sikap-sikap Vio. Tapi Vio termasuk teman dekatnya di kelas. dan Senandung selalu mencoba untuk melupakan Aldo tapi sangat susah.

Saat pulang sekolah
Ada yang memanggil Senandung dari belakang “Senandung..!” Ooh.. dear suara itu selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat sendirian. Senandung langsung menengok ke arah suara itu, benar saja itu memang suara Aldo. Aldo menyusul Senandung yang sedang berjalan ke arah gerbang yang sepi. Ya.. mereka pulang lebih sore karena kebetulan jadwal piket mereka di hari yang sama. “eh.. do, ada apa?” jawab Senandung dengan nada yang berusaha datar.
“Pulang bareng yuk, rumah kita kan searah?” Deg.. pertanyaan itu membuat jantung senandung terasa sangat berat.
“Mmhh.. kan searahnya, Cuma sampe perempatan depan situ! Gak usah lah aku nunggu angkot aja.”
“Jam segini udah susah nyari angkot, kamu kemaren nunggu sampe 2 jam kan!”
“Iya sih, tapi gak susah juga kok”
“Beneran? Ya udah deh kalau kamu gak mau, ak pulang dulu ya.. “
“Ya..”
Sambil melihat Aldo dari kejauhan, di dalam hati Senandung menyimpan sedikit penysalan dan rasa senang, karena Aldo juga memperhatikan Senandung.

Esok harinya di sekolah
Aldo sama sekali tidak mengungkit hal itu, dan Senandung pun juga. Hari itu, tidak tau kenapa Senandung merasa badannya terasa agak lemas. Dan saat pelajaran sepanjang hari Senandung merasa pusing. Lalu saat pulang sekolah, dia pulang dibonceng Fira.

Dan esok harinya Senandung tidak masuk sekolah selama satu hari itu saja karena ia sakit. Saat di sekolah mama Senandunglah yang menyampaikan surat izin Senandung. Lalu setelah Senandung kembali ke sekolah esok harinya, ia disapa oleh Aldo yang sedang berdiri sendiri di depan pitu kelas.
“Hey.. Senandung!”
“Eh.. apa?”
“Kami kenapa kemarin gak masuk”
“Oh.. sakit biasa, Cuma kecapekan”
“Oo.. ya sukur deh hari ini bisa masuk”
“Ya.. makasih” dengan senyum khasnya.
Senandung hanya menganggap perhatian kecil Aldo hal yang remeh.

Hingga pada satu hari
Pada hari itu hari mendekati hari penerimaan rapor kenaikan kelas, Senandung mendengar kabar bahwa Vio sudah berpacaran dengan Aldo. Ketika mendengar kabar itu seperti terasa meleleh hati Senandung. Tapi Senandung berusaha menutupi kesedihannya dengan terlihat tegar, dia memendam kesedihannya, karena dia memang orang yang cukup tertutup.
Saat pulang sekolah, Senandung pulang bersama Fira.

“Senandung, kamu yang sabar ya”
“Kenapa sabar?” dengan mata sedikit berkaca
“Lhoh kamu tau kan tentang..”
“Iya, aku tau..” matanya semakin berkaca
“Kamu gak usah nutup-nutupin kalau kamu memang sedih! Kamu jangan bohongin perasaanmu!”
“Fira, kalau aku gak berusaha bohongin perasaanku kelas kita bisa bubar” Senandung menitikan air matanya
“Enggak gitu juga donk!”
“Iya, aku memang masih nyimpen perasaan, tapi dia aja udah punya pacar sekarang, dan dia enggak pernah ngelihat aku, dan seberapa besar perasaanku” tangis Senandung semakin menjadi
“Hhmm.. kamu yang sabar ya mungkin dia bukan yang terbaik buat kamu..”
“Iya, makasih Fira”

Saat akhir semester 1 kelas 12, Saat hari ulang tahun Aldo
Pagi hari itu Aldo membuka ponselnya, tertera nama Si Cantik, mengirim pesan pada pukul 12.00, pesannya berisi “Happy birthday Aldo, wish you all the best ya..” dan Aldo membalas “Thank’s ya Senandung” dijawab “Ya sama-sama.” Pagi itu Aldo menunggu SMS Vio, tapi tak kunjung masuk ke ponsel Aldo.

Saat di sekolah
Semua mengucapkan selamat kepada Aldo, tapi saat Vio “Selamat ulang tahun ya.. maaf tadi pagi aku lupa.” dengan nada agak ketus Aldo menjawab “Yaa..” Vio tak menyadari jika pagi itu Aldo merasa sebal dengan Vio yang melupakan hari ulang tahunnya. Memang, itu memang hal yang cukup sepele, tapi perhatian itu berarti besar. Dan Aldo bertanya-tanya, kenapa yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya Senandung, dan bukan malah pacarnya.

Satu hari, saat Senandung sedang duduk santai sendirian waktu istirahat di depan kelas lalu Nina duduk di samping kiri Senandung. Dan tiba tiba Aldo datang dan duduk di samping kanan Senandung, mereka bercanda biasa, lalu datang Fira, Rafi, Cantika, Firman, dan Andika. Mereka makin asik saja bercandanya. Sampai tiba tiba Vio datang dan langsung menarik tangan Senandung, “kamu ngapain dekat dekat sama Aldo?” Vio bertanya dengan Nada meninggi.
“Aku nggak ngapa-ngapain kok, Cuma becanda bareng bareng aja, biasa,” Jawab Senandung dengan halus
“Yang bener?!”
“Iya, menurutmu memang aku ngapain?”
“Kamu pasti mau jadi selingkuhannya Aldo”
“Kamu, kok nuduh aku gitu sih?”
“Aku bukan nuuduh tapi ini fakta! Atau apa selama ini kamu suka ya sama Aldo!”
“Enggak Vio, kamu jangan nuduh gitu dong..!”
Tiba tiba Aldo datang dan menyela pembicaraan..
“Vio! Kamu kenapa sih nuduh Senandung gitu?”
“Aku bukannya nuduh tapi mau ngungkap fakta”
“Tapi kamu itu udah fitnah Vi, aku denger kok apa yang kamu bilang ke Senandung tadi..”
“Trus apa kamu mau komentar apa?”
“Halah Vi, kamu mikirnya yang dewasa dong! Trus bisa-bisanya ya kamu nuduh sahabat kamu kaya gitu Vi?”
“Sahabat!? Kamu bilang aku sahabatan sama Senandung? Yang bener aja?”
“Oh, jadi selama ini kamu sok-sok’an bilang sahabat di depanku itu Cuma bohongan?!” Senandung menyambung dengan nada agak tinggi.
“Kalau iya, kenapa?”
“Kamu tega ya Vi, ternyata kamu itu munafik Vi, gak seperti yang kubayangin. Ternyata selama ini kita pacaran, aku itu belum bener-bener kenal kamu!” sambung Aldo lagi.
“Vi, kamu munafik ya.. sebenernya dari dulu aku udah tau kamu itu bukan bener bener temen yang baik.. dan sekarang udah bener bener kelihatan Vi..”

Bel masuk berbunyi, perdebatan mereka terhenti. Saat pelajaran suasana pelajaran di kelas terasa tidak nyaman untuk mereka bertiga.
Saat pulang sekolah Aldo mengajak Vio bicara berdua, tapi mereka tidak hanya berdua saja, saat itu Aldo mengajak Senandung juga. Vio tentu saja langsung menolak tapi keinginan Aldo sangat keras, jadi Vio tidak bisa membantah.

Perbincangan mereka bertiga dimulai, Vio yang memulainya..
“Kamu mau apa lagi sih Do? Kamu kenapa gak minta maaf ke aku?”
“Minta maaf?!” Aldo menjawab dengan mata melotot
“Iya, kamu masa’ gak ngerasa sih?”
“Minta maaf apanya coba?! Setelah aku udah tau belangnya kamu, trus kaamu ngarepin aku buat minta maaf? Nggak akan ya Vi!”
“Tuh kan, kamu sekarang pasti seneng kan Aldo marah marah sama aku!” Nadin berbicara mengarah pada Senandung
“Kamu kenapa ngomongnya gitu sih Vi!”
“Kamu selama ini suka kan sama Aldo!”
“Ah ya udahlah Vi kalau kamu nuduh aku gitu terus mending aku pulang.” Saat itu juga Senandung meninggalkan Vio dan Aldo.
“Senandung..” teriak Aldo
“Kamu kenapa sih malah manggil Senandung?!”
“Kamu tega Vi, aku nyesel Vi pernah suka sama kamu, pernah muji kamu, pernah pacaran sama kamu! Kalau gitu aku pengen kita putus!”
“Ya gak bisa gitu dong!”
“Aaaah.. udah terserah pokoknya sekarang kita putus!” sambil berlari meninggalkan Vio

Sementara itu Aldo mencari Senandung di parkiran tapi ternyata Senandung sudah pulang. Lalu Aldo memutuskan untuk pergi ke rumah Senandung. Saat Aldo sampai di rumah Senandung, pintu rumah Senandung terbuka, dilihatnya di dalam ada Senandung yang duduk sendiri di ruang tamu sambil menangis. Aldo masuk ke rumah Senandung dan berbicara dengannya. Aldo menceritakan bahwa ia putus dengan Vio, Senandung kaget mendengarnya. Senandung menangis dan dia juga bercerita kaalu dia sangat sedih dan sakit hati dituduh seperti itu oleh Vio. Aldo menenangkan Senandung dan merangkulnya. Mereka berdua hari itu menghabiskan sore berdua sambil menghilangkan sedih dan marah di hati mereka.

Setelah Vio putus dengan Aldo, hubungan Aldo dan Senandung dengan Vio kurang baik. Tapi hal baik dari kejadian itu, lama lama Aldo dan Senandung semakin dekat saja. Memang betul, mereka semakin dekat tapi Aldo tidak tahu kalau selama ini Senandung menyukainya, dan Senandung takut jika Aldo tahu nanti Aldo akan menjauhinya. Sampai akhirnya mereka lulus mereka masih saja dekat. Tapi saat mereka sudah menjadi mahasiswa mereka hilang kontak.

Satu hari Senandung mendapat kabar kalau Aldo sudah punya pacar lagi. Ia mendapat kabar itu dari temannya. Sakit sekali hati Senandung, tidak terasa saat ia memikirkan hal itu air matanya sudah membasahi pipinya. Ia berpikir, untuk apa dia memikirkan orang yang tak memikirkannya. Senandung sudah berusaha melupakan Aldo, tapi saat sudah mulai lupa bayang bayang Aldo pasti kembali.

Hari itu hari ulang tahun Senandung, tanggal 14 Maret ia mendapat ucapan selamat dari sahabat lamanya yaitu Fira. Senandung bercerita tentang hal hal yang dialaminya selama mereka berpisah tak terkecuali tentang Aldo yang sudah punya pacar. Setelah mendapat kabar itu Fira langsung menelpon Aldo. Ia memarahi Aldo yang tidak peka dan ia memberi tahu kalau selama ini Senandung menyukainya. Saat itu juga Aldo langsug memutuskan pacarnya, karena ia sadar, ia hanya berpacaran karena terpaksa untuk melupakan bayangan lamanya.
Hari demi hari berlalu, lama lama Aldo tersadar ternyata perempuan yang selama ini ada di hatinya itu bukanlah mantan-mantannya.

Pagi hari, tanggal 15 maret 2014
Ada kiriman kado di depan rumah Senandung. Setelah dibuka ternyata isinya teddy bear coklat seperti keinginan Senandung yang dulu pernah ia ceritakan pada Aldo, juga ada surat yang isinya “Selamat ulang tahun ya Senandung. All the best wishes for you. Maaf kadonya telat satu hari, tapi ini kan kado yang kamu pengenin dulu senandung? Oh ya kalau kamu mau tau siapa aku nanti aku tunggu jam 5 sore di taman. Aku pake baju warna krem.” Senandung terkejut dengan hadiah dan surat itu.

Sore hari jam 5 sore Senandung pergi ke taman lalu ia melihat laki laki berbaju warna krem yang duduk menghadap membelakangi Senandung lalu dari belakang Senandung menepuk pundak laki laki itu, dan ternyata ia adalah ALDO. Jelas saja Senandung kaget. Lalu ia bertanya “Do, jadi kamu yang kirim boneka itu?” Aldo menjawab “Iya aku yang ngirim.” Senandung terdiam. Lalu Aldo berkata
“Senandung, aku minta maaf ya..”
“Minta maaf kenapa?”
“Aku selama ini gak peka sama kamu, dan sekarang aku mau jujur sama kamu.”
“Gak peka apa sih trus mau jujur tentang apa?”
“Senandung aku berharap semoga kamu masih punya perasaan yang sama kaya aku ya.. Senandung, aku cinta sama kamu. Kamu mau kan nerima cintaku?”
“Do, perasaanku dari dulu sampai sekarang belum berubah ke kamu “
“Jadi kamu mau nerima aku?”
“Iya aku mau..”
“Makasih ya Senandung..”

Dan akhirnya mereka berdua berpacaran sampai akhirnya menikah, punya anak dan semua cobaan mereka hadapi berdua.

Pesan: saat kamu ngerasa menderita karena cinta berarti kamu salah mengartikan, kesedihan cinta itu bukan penderitaan tapi sebuah pengorbanan cinta dan pengorbanan cinta itu bukan uang atau harta tapi itu adalah perasaan. Sikapi semua kesedihan cintamu dengan bijak maka kamu akan mendapat sesuatu yang indah. Dan semua cinta itu pasti akan indah pada waktunya.


http://goo.gl/eWuLNo

Meski Tanpa Ayah
Pagi ini kusambut mentari pagi. Kulangkahkan kaki menuju sekolah, meski tak ada lagi yang mengantarku. Tak seperti dulu saat ayah di sisi ku Ia akan menyambut pagi ini dengan bunyi klakson motornya yang berisik tanda ia terlalu lama menunggu. Bunda akan melihatku dan mengantarku hingga di depan pintu dengan senyuman hangatnya.
Yahh, tapi itu dulu, saat ayah ada di antara kami, kini tak ada lagi senyuman hangat dari bunda, yang ada hanyalah muka letih karena terlalu lelah bekerja, yang ada hanyalah kerut muka tanda bertambah usia.

Dulu aku berfikir betapa menyebalkan ayah dengan segala peraturan yang dibuatnya, tapi kini aku merindukan segala tutur katanya, betapa lembut belaian darinya, bahkan harum tubuhnya pun kini aku rindukan. Aku menyadari betapa pentingnya ia di hidupku, kini pelita itu telah hilang seolah pergi tanpa bayang. yang kucari tak lagi dapat kutemukan hanya angan yang tersisa.

Saat kepergian ayah, kurasakan kehilangan yang luar biasa, hatiku bergejolak, tapi kulihat Bunda ia seolah ingin melawan takdir, hatinya begitu tersayat, raungan kepedihan begitu mendalam di hatinya, berkali kali ia pingsan, menyebut nama ayah tanpa sadar.

Yah, lagi lagi itu dulu, kini aku bersama bunda memulai hidup baru, memulai menata hidup kami kembali, kini aku mulai menyongsong masa depan lagi lagi “Meski Tanpa Ayah” di sisi. Bunda mulai menerima kenyataan bahwa ayah telah tiada bersama kami. Bayang-bayang suara ayah akan keinginanya untuk agar aku menjadi dokter semakin membangkitkan emosi. Ayah, lihatlah aku, meski tanpamu kini aku bisa berdiri, dan meraih impian, tapi ini semua tak lepas dari keinginanmu. Love you ayah..

http://goo.gl/O3J7t0

Friday, 6 February 2015

Air Mata Mutiara


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya
sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita,
bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."

Si ibu terdiam sejenak, "Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi
terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi.
Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir
itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan
sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan
alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya
sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa
sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit
menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal
pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air
matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita
bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap
orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Pesan moral:

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong
transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah
"orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka
tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang
bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi
kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil
pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih
sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka
karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap
berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu... "Airmataku
diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."

 
http://goo.gl/Tbddva

Perjuangan Revita
Nama gue Revita, gue tinggal di Jakarta Selatan. Sekarang gue sekolah di salah satu sekolah favorit dan terkenal di Jakarta, yaitu SMA Negeri 1, gue baru masuk tahun kemarin.

Malam minggu ini gue seperti biasa menghabiskan waktu dengan membaca dan membaca. Entah itu pelajaran, komik, ataupun novel. Kalau gak ngebaca ya gue sibukin diri untuk di depan komputer, ataupun berlatih main gitar. Yang penting gue gak ke luar rumah. Awalnya sih bisa dibilang bad mood banget di rumah terus-terusan. Tapi kalau udah terbiasa sih enak aja kok.

Dari gue kelas 2 SMP, gue gak boleh main yang gak jelas sama keluarga gue, yaa bisa dibilang gue dilarang main terus-terusan. Ada waktu buat main dan ada waktu buat belajar. Tapi main juga harus sewajarnya. Awalnya gue tuh ngerasa kesiksa kayak gini terus. Pasti lo pengen tau kan kenapa gue bisa kayak gini? nih ceritanya.

Dulu waktu gue masih duduk di kelas 1 SMP, gue hobi banget yang namanya main, hunting, ngumpul sama temen-temen. Biasanya gue sehabis pulang sekolah suka ke Mall, Main billiard, karaokean bareng temen-temen, hunting ke tempat yang bagus. Kerjaannya gitu-gitu aja.

Mungkin cara main gue udah dianggap jelek. Waktu gue SMP bisa dibilang gue tuh nakal banget, tapi gue rasa nakalnya gue gak lebih dari ini, dan masih ada batasnya. Banyak teman-teman gue yang cara mainnya udah diluar batas.

Akhrinya gue dimarahin abis-abisan sama keluarga gue, keluarga gue ngelarang main sewaktu pulang sekolah, terus kalau main sewajarnya, dan blablablaaa.

Dan yang paling gue heranin itu gue GAK BOLEH PACARAN DULU.

Gue boleh bergaul sama cowok tapi ada batasnya juga. So, kalau sering bergaul sama cowok bakal bahaya di diri gue sendiri. Gue heran sama keluarga gue, kenapa mereka pada gak bolehin gue pacaran? kenapa sih? Aneh.

Gue ngerasa dipenjara! Ga adil, semua stupid! Gak ngerti zaman apa? jangan samain gue dengan zaman kalian dong arghh!!! Gue kesel sendiri jadinya. Bayangin aja deh… Pulang sekolah langsung pulang, terus tidur, bangun tidur gue harus ikutan les, ngaji, ekskul di sekolah, latihan musik, dan malamnya belajar. Bayangin dari senin sampe seninnya lagi!! Mana ada waktu buat main coba? malam minggu aja gue gak boleh main. Gue juga pengen kayak anak lain, yang seru-seruan bareng temen. Tapi bagi gue itu mustahil banget!

Hari demi hari, waktu pun begitu cepat berlalu, sampe akhirnya gue ngejalanin ini dengan berusaha biar gue ikhlas jalaninnya. Kadang gue suka nangis sendiri, kenapa hidup gue harus gini? apa gue gak boleh bahagia kaya yang lain? entahlah…

Semua kakak gue daftarin gue buat les musik lah, latihan gitar, latihan menjahit, dan gue disuruh ikutan ekskul. Pokoknya buat hidup gue sesibuk mungkin.

Cape… Cape banget!

Gue ngejalanin dengan berat hati. Tapi lama-lama gue terbiasa juga… Dan akhirnya pertanyaan yang dulu terjawab sudah… Setelah gue ngejalanin penyiksaan ini, walaupun gue gak terlalu ikhlas jalaninnya, yang lama-lama gue pun ikhlas. Hasilnya bikin gue nangis, terkejut, bangga dan campur aduk!

Selesai Ujian Nasional gue ambil hasilnya bareng mama.. Berjam-jam gue nunggu hasilnya, deg-degan hati gue Karena takut kecil nilainya dan macem-macem. Soalnya keluarga gue mau, kalau gue masuk ke sekolah negeri yang bagus. Yang bikin masa depan gue nanti bakal bikin bahagia.

Lamaaaa banget nunggu nama gue dipanggil, teman-teman gue hampir semuanya udah dipanggil. Ada yang nangis, sedikit bahagia, kecewa dan lain lain. Mama yang dari tadi nunggu sambil netesin airmata, dan mulutnya yang sambil berkomat kamit bertanda lagi berdoa.. Gue pun ikutan berdoa di dalam hati, memohon yang terbaik…

Dan akhirnya nama gue pun dipanggil. Asli kaget banget! Muka gue langsung merah, dan pas gue ambil sebuah amplop tangan gue pun bergetar..

Bismillah… *Membuka Amplop

Gue cepet-cepet lihat nilai yang dibawah dan…

Waaaawww it’s amazing!!! Alhamdulillah, Nilai NEM gue tinggi!

38,60 meenn!!! Alhamdulilaah, nilainya gak buat kecewa..

Akhirnya gue nangis senangis-nangisnya, gue bangga! Bangga banget! Mama yang juga ikutan nangis bangga dan terharu mungkin.. Sambil meluk gue juga, dan mama bilang “mamah bangga sama kamu de”
Yes! Thanks God, gue udah bisa buat mama nangis bangga…

Yang paling mengagumkan itu ternyata NEM gue paling tinggi di sekolah, dan gue jadi Ratu di sekolah, mendadak terkenal dan disegani sama guru-guru.. Disana gue foto bareng guru-guru buat kenangan di sekolah, dan seru-seruan bareng teman-teman… Akhirnya gue bisa ngerasain beginian, selama ini gue baru ngerasain bahagia yang gak terhitung harganya..

Setelah berjam-jam di sekolah, akhirnya gue pulang.. Dan sebelum gue pulang, gue dikasih selamat dan dapat support dari guru..
“Revita, selamat ya sayang atas hasil kerja keras kamu selama ini, jangan mudah menyerah, tetap berjuang untuk masa depan revita, lakukan yang terbaik untuk dunia, tunjukkan ke dunia bahwa revita BISA! Jangan pernah putus asa apapun yang kamu dapatkan. Kalau sukses, jangan pernah sombong. Harus selalu ingat sama guru, sekolah dan masyarakat yang pernh revita kenal. Dan jangan lupa berdoa dan beribadah ya. Ibu bakal kangen banget sama revita deh, Ini ibu kasih kenang-kenangan buat revita” *NgasihKado, Pesan dari guru gue yang paling cantik, baik dan asik. Gue lebih deket sama guru ini…
“Aaaa ibuuu makasih banyak bu supportnya, Siap! Revita bakal inget selalu pesan ibu cantik” Canda gue.

Sepulang dari sekolah, dan have fun bareng teman dan guru-guru. Waktunya gue pulang, terus tadi itu mama langsung pulang, katanya sih ada perlu. Jadi, terpaksa gue pulang sendiri. Waktu gue nyampe rumah, ada sebuah bungkusan kado yang besaaar banget. Gue bingung.. Hari ini di keluarga gue kan gak ada yang ulangtahun, kok ada kado segala sih? Terus juga kenapa ini rumah gak ada orang satu pun?. Pas gue buka pintu rumah dan…
Dooooorrr *BalonDipecahin
Gue pun terkejut. Ternyata keluarga gue kasih surprize buat gue hadiah hasil usaha gue selama ini..
“Selamat ya adik tersayang atas usaha vita, kakak bangga sama kamu” Kata kakak gue yang perempuan.
“Kita semua kasih hadiah teristimewa buat adik, coba adik buka” Kata kakak cowok gue yang pertama.

Akhirnya gue pun membuka bungkusan kado yang besaaar dan mewah yang berwarna pink kesukaan gue. Pas gue bukaa ternyata hadiahnya itu SEPEDA GUNUNG UNITED
Waaahhh Oh May God gue senenggg bangeeettt..
Akhirnya sepeda gunung itu gue dapetin sekarang! Bayangin, gue ngumpulin uang dari SD buat beli itu tapi gak kesampean aja..
Sepeda itu berwarna putih tulang, pokoknya keren banget deh.

“Makasih banyak mah, a, teh akhirnya sepeda yang vita tunggu-tunggu tercapai juga” Kata gue.
Gue pun nangis, udah gak kuat buat nahan air mata ini, saking bahagia, terharu dan bangganya hari ini

Gue pun mengusap airmata gue, dan gue mau coba sepeda baru gue dengan keliling rumah…

Gue bangga punya keluarga yang sangat sayang banget sama gue, sebegitu pedulinya mereka sama masa depan gue. Gue sadar…

Membuang-buang waktu sangat merugikan bagi gue dan masa depan gue..

Apalagi dengan cara have fun yang gak karuan bareng teman.

Gak ada yang ngelarang buat gue main, tapi memang ada waktunya buat main.

Lebih baik isi waktu gue dengan hal-hal positif.

Awalnya memang gue bener-bener mood breaker bisa begini, tapi lama-lama gue terbiasa seperti ini..

Gue sadar, dengan gue memanfaatkan waktu dengan baik, gue bisa dapetin apa yang gue mau.

Dan apa yang belum pernah gue dapetin, sekarang gue udah dapetin semuanya.

Yang perlu kalian inget adalah “Manfaatkan waktu remaja, Jangan pernah sia-siakan waktu dan kesempatan, tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha kuasa, Niatkan usaha kalian, dan harus PERCAYA DIRI”

 http://goo.gl/rBmEZa

Wednesday, 4 February 2015

DOG Foto Contes

Ayo ikuti Dog Foto Contes di facebookmu.
Sekalian mnta tolong ya? :D gukguk saya ikutan lomba foto nih :D bantu like foto bonny & buddy yaa :D

pertama" join ke group ini dulu: https://www.facebook.com/groups/dogpc

Sesudah Join grup , ditunggu yah Approve dari Admin nya

Kalo udah di Approve sama Adminnya, klik like di foto anjing ini: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152247589888078&set=oa.679436362165004&type=1

kalo boleh bantu share jg yah tinggal di copas doang kok :D

thankyou yaa :D

Harapan


“Eh?” Misa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Nel. Sungguh saat itu Misa tak pernah menyangka, dan belum bisa memahami apa yang dikatakan Nel. Kalau dipikir-pikir, kondisi Nel memang menjadi aneh akhir-akhir ini, dan keanehan itu mulai terlihat setelah liburan semester 1 kemarin…

****

“Nurramdhani, jangan lemas begitu! Semua juga kepanasan sekarang!” Bentak Bu Ira. Terlihat Nel sedang memegangi kepalanya dan terkadang hampir tertidur. “Kamu nggak apa kan Nel?” Tanya Misa.
“Iya, aku baik-baik aja kok..” Jawabnya.
Misa tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakan oleh Nel. Jelas-jelas dia sering terlihat lemas, Dan Berhari-hari selalu Diare..
Selama 4 hari Nel absen sekolah. Dia terkena masuk angin dan sulit sembuh. Dan ketika Nel mulai masuk sekolah seperti biasanya, Misa menyadari keanehan lagi pada Nel. “Wah, Nel tambah kurus ya? kok bisa sih.. sejak kapan?”
“Ya begitulah.. aku juga kaget, Padahal makanku teratur.” Kata Nel sambil memakai baju olahraganya. “Lho Nel, kamu habis makan apa? lidahmu ada putih-putihnya tuh.. Nih, kaca!”
Nely baru sadar di lidahnya ada flek-flek putih. Flek-flek itu nampak jelas. “Ayo semuanya..! Buat 2 baris. Cepat!” Teriak pak Khoir, Guru olahraga. Semuanya melakukan pemanasan selama 5 menit. Dan mulai berhitung dari arah kanan. “Tu… wa…ga…pat! tu.. wa…ga.. pat! tu…..”
“Nely, Kamu nggak bersuara sama sekali! Ada apa?” Tanya pak khoir. “Eng.. ngak… pak.. Saya baik-baik aja.” Jawab Nely dengan wajah pucat.
“Kamu harus periksa ke rumah sakit Nel.. Dari minggu lalu kamu selalu seperti ini..”
“Baik pak kh..” BRUUK!
“Nely!?” Nel jatuh pingsan. Serentak teman-temannya dan pak khoir langsung mengangkat Nel ke UKS. Pihak sekolah menelepon orangtua Nel karena setelah berjam-jam Nel tak sadarkan diri di ruang UKS. Akhirnya setelah melihat keadaan anaknya, orangtua Nel memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.

****

“Kemarin aku uda bilang sama Surya..”
“Bilang apa Nel? Nggak mungkin kan kamu…” Misa tak mau melanjutkan ucapannya. Ia tak habis pikir, Sahabatnya yang cantik dan pintar ini, Nely Nurramdhani akan terjangkit penyakit yang sampai sekarang obatnya belum bisa ditemukan, yaitu penyakit “AIDS”. Menurut orangtuanya, Penyebab Nel terkena virus HIV itu ketika sedang berlibur bersama orangtuanya di luar negeri.” Waktu di luar negeri, Nely pernah kecelakaan dan menerima transfusi darah.. Mungkin saat itulah ia terkena darah dari orang yang punya penyakit ‘AIDS’.. Tapi itu saat Nel masih kelas 3 SD, Mana mungkin dia tertular 8 tahun lalu.” Jelas Ibu Nel. “Dan padahal waktu di luar negeri, ia dirawat di rumah sakit besar.. Hingga hari ini kami tak pernah mencurigai mereka. Sebagai orangtuanya kami tak menyadari hal itu. Kalau saja dia diperiksa lebih cepat..” Ibu Nel menangis terisak-isak. “Konon.. hiks… daya tahannya kini hanya 1/5 dari… hiks.. orang biasa.. Dan Nely bisa komplikasi kapan saja..” Misa menenangkan Ibu Nel. Dan tanpa sadar Air mata Misa pun ikut mengalir.

‘AIDS? Itu kan penyakitnya Atlet luar negeri, musisi dan artis-artis ternama yang pergaulannya bebas. Kenapa Nel bisa terkena penyakit itu..’ Pikir Misa. Misa memegang tangan Nel dengan erat. “Terus apa kata Surya?”
Nel menggelengkan kepala. Bicara tentang Surya, dia adalah pacar Nel dan juga teman sepermainan Misa dari kecil. Mereka bertiga selalu akrab sejak kelas 3 SMP. Meskipun bertepuk sebelah tangan, Misa menyukai Surya, Namun ia tidak bisa mempercayainya ketika Nel berkata, “Aku jadian ama Surya” .
Sejak Nel mengatakannya, Misa merasa terpukul dan merasa patah hati. Rasa menyesal karena telah mempertemukan Surya dengan Nel akhirnya lenyap pada bulan Juni lalu. Sekarang ia merasa bahagia dengan adanya Surya untuk melindungi Nel.
Sepanjang perjalanan pulang Misa terus berfikir dalam hati, “Jadi Nel tertular virus HIV.. Dia pasti syok dan putus asa mendengar hal ini.. Tapi dia harus mulai menyembuhkan dan menjaga dirinya sendiri. Agar tidak menulari orang lain, kurasa Nel nggak boleh nyembunyiin hal ini. Dan ia nggak boleh melakukan hubungan se…”

‘TAP! ’ Langkah Misa terhenti. Ia baru sadar, bahwa mungkin saja hal ini terjadi di antara Nel dan Surya.

****

Misa memandang Surya dengan tatapan penuh tanya. 5 menit mereka saling terdiam.. Tiba-tiba Surya mulai bicara, “Terlambat… Mungkin aku sudah tertular Nely..”
Misa masih belum paham maksud Surya, dan bertanya, “Maksudnya.. kalian…?”
“Bukan! bukan kayak gitu..! Tapi.. aku kan… uhuk… sering keluar dan jalan-jalan ma Nely.. Mungkin saja aku tertular.. uhuk..” kata Surya dengan panik. “Aku harus.. uhuk.. bagaimana? aku bingung..! .. uhuuk.. uhuk..”
“Sur… kamu kenapa? sakit?” Misa khawatir karena dari tadi Surya batuk-batuk. “Uhuuk.. uhuuk.. uhuk.. haah.. haah..” Surya memandang tangannya. Ia menelan ludah.
“Belakangan ini tubuhku terasa lemas.. Demam, Flu dan batukku terus berlanjut.. Tenggorokanku juga sakit.. ini pasti….” “Kamu ngomong apa sih Sur? masa’ dadakan gitu.. mungkin itu cuman masuk angin bia…” belum sempat Misa meneruskan, Surya langsung menyelanya. “Setelah 2 minggu tertular, katanya akan muncul gejala seperti masuk angin..” Misa tak mampu berkata-kata melihat wajah Surya yang pucat. Sambil melewati Misa, Surya berkata, “Mungkin.. akupun terjangkit ‘AIDS’..”

Misa terdiam kaku. Dalam hati ia bergumam, “Bagaimana denganku? apa aku baik-baik saja? Apa sampai hari ini aku pernah menyentuh darah Nel?” Hal itu terus dipikirkannya berhari-hari. Setelah berpamitan dengan kedua orangtua, Misa mengendarai ‘MIO’nya. “Misa pergi dulu Buk.. pak.. Assalamualaikum..” Sepanjang perjalanan Misa menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ada yang jualan Bunga. Soalnya Misa merasa tidak enak kalau tidak membawa apa-apa untuk Nel.
“Tok.! Tok!” Tangan Misa mengetuk pintu. “.. Masuk.” “Gimana kabarnya Nel? Uda agak mendingan? Nih, aku bawain bunga, aku taruh disini ya.”
‘Gawat… suaraku datar.. aku harus bersikap biasa..’ Pikir Misa dalam hati. “Misa…” Panggil Nel dengan suara pelan. “Iya? kenapa Nel..” Misa menghampiri Nel yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
“Apa aku menularinya ya? Soalnya kami sering bersama.. memang kami tidak pernah macam-macam.. Ta.. tapi aku takut.. Dia akan tertular olehku..” wajah Nel terlihat cemas, ia hampir menangis.
“Belum tentu begitu kan? kita kan belum tahu..?” Tiba-tiba Nel memegang kedua lengan Misa. “Apa kamu bisa bukti’in kalo surya nggak tertular? Hah? ! .. Uhuuk… Uhuuk… Uhuk.! .”
Reflek Misa langsung mundur ke belakang, Seketika Nel terkejut. ‘Ah. Bodoh.. kenapa aku menjauh?’ Pikir Misa.
Mereka berdua terdiam. Nel melihat wajah Misa yang berkeringat. Ia tahu sesuatu… “Misa, kamu kepanasan? Minum aja Minuman Botol yang ada di meja..” Misa melihat Minuman Botol di meja yang sudah sisa diminum oleh nel.
“I.. Iya.. Nel.” Misa gemetar, Dalam hati ia berfikir, ‘Aku tidak boleh terlihat tegang didepan Nel.’ Tangan Misa meraih Minuman botol itu. Dalam hitungan detik bibir Misa dan Mulut botol itu akan menyentuh.
“PLAAAK!” Nel menumpahkan minuman itu. Ia menangis, “Tanganmu gemetar! Keliatan banget!” Misa hanya terdiam. “Menurutmu aku kotor? Ya..! virus itu bisa masuk lewat ludah.. Terus ngapain kamu kesini? Pulang sana! Huuu… huu…” Nel mulai melempari Misa dengan berbagai macam barang. “Nel… aku..”
“PERGI!” Teriak Nel. Misa langsung berlari keluar, ia menangis. Para Suster dan dokter berdatangan ke kamar Nel. Nel masih meraung-raung, “Kenapa..? padahal aku nggak bersalah..! Kenapa harus aku..!”

****

Misa tahu, virus itu tak akan tertular lewat ludah.. Tapi siapapun pasti akan bersikap seperti itu. “Nel.. Maafkan aku” Gumam Misa dalam hati.
Misa tidak hanya berdiam, ia membeli buku-buku tentang AIDS. Lalu sampai rumah dibacanya buku-buku itu.
“AIDS.. Konon penyakit ini cenderung menjangkiti kaum H*mos*ksual dan pemakai nark*ba dengan jarum suntik.. Banyak yang mengira tertular virus ini berarti mati. Namun aku sendiri salah. Begitu tertular virus HIV, maka sistem kekebalan tubuh akan hancur dan akan dikalahkan dengan mudah oleh bakteri. Terkadang virus itu juga mengakibatkan Tumor ganas. Meskipun dikatakan AIDS membawa kematian, sebenarnya yang membunuh orang bukanlah virus AIDS sendiri. Terkadang ada orang yang 8-10 tahun belum memperlihatkan gejala AIDSnya. Penularan dan gejalanya berbeda.. Jadi Nel bukanlah penderita melainkan penular HIV. Konon ada pula yang hidup sampai umur 90 tahun dan tak pernah memperlihatkan gejala.” Misa membuka buku yang lain, “Menurut buku ini.. seseorang akan mati 1-2 tahun setelah tertular, namun belakangan ini orang yang bertahan hidup hingga 5 tahun semakin bertambah.. Menurut info yang lain, obat yang dikembangkan belakangan ini menunjukkan efek baik pada orang yang menunjukkan gejala maupun yang tidak.” Misa tersenyum lega, ‘Ya.. Nel sedang berusaha untuk sembuh. Ini adalah masa-masa penting baginya!’

****

Pagi ini, Misa mengharapkan sesuatu yang berbeda di sekolah, karena tanpa Nel disekolah rasanya sepi. “Hai teman-teman..?” Tiba sesosok wanita masuk ke kelas dengan riang dan ternyata itu adalah Nel! Misa terkejut. “Nel? !” “Ah, Misa! Maafin aku ya waktu itu.. OK? Hehe..” Nel tersenyum. Misa bersyukur Nel kembali seperti biasanya. “Nel? kok lama nggak masuk sih?” Teman sekelas Nel langsung mengerubunginya dengan pertanyaan.
“Ah, ntar aku jelasin deh..”
Didepan kelas Nel menjelaskan alasannya. “Kata dokter, salah satu metode peyembuhannya adalah berpikir positif.. Kalau aku mengeluarkan darah karena suatu hal, aku akan membersihkannya sendiri agar yang lain tidak terkena, jadi tenanglah. Aids tidak menular lewat udara seperti angin, jadi sehari-hari kalian tidak perlu cemas. Jadi aku pun akan ikut Rekreasi nanti.. Mohon bantuannya!”
Hening. Semua memasang wajah cemas. Tiba-tiba suara tepuk tangan dari pak Khoir, yang sekarang menjadi wali kelas mereka memecah kehingan. “Plok! Plok! Plok!” “Pak guru..” Nel menoleh ke arah pak khoir dan menundukkan kepala.
“Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!” Serentak semuanya ikut bertepuk tangan.
‘Aku ingin membantu Nel, aku harus tegar! ’ Misa bertekad.

Akhirnya sampai juga pada hari H, Rekreasi mereka ke sebuah kota terkenal yang banyak akan hiburannya dan menginap 2 hari 1 malam. “Wah.. Udaranya sejuk… hehe” Nel menggandeng tangan Misa. “Iya… ayo kesitu..!” Misa dan Nel berlari-lari.
Nel mengeluarkan obat-obatan dari tasnya dan meminum semuanya. “Obat apa aja itu Nel?” tanya seorang temannya. “Ini obat untuk mengontrol perkembangan virus dan daya tahan tubuh, faktanya konon obat ini bisa mengurangi virus dalam darah hingga tak bisa dideteksi.” Jelas Nel. “OH.. berarti AIDS bisa disembuhkan dong? !”
“Hm… obat untuk menuntaskan virus memang belum ada.. Tapi setidaknya dengan obat ni perkembangan virus masih bisa dihambat.”
Misa lega Nel baik-baik saja, tiba-tiba ia mendengar murid-murid dari kelas lain berbisik-bisik, “Ssst… Itu ya anak yang kena AIDS? wah.. jangan-jangan ketularan Om-om.. Ha.. ha.. ha..” Misa hendak berlari ke arah murid-murid itu untuk memarahi mereka, tapi Nel menghalanginya dan menarik lengannya lalu berkata, “Sudahlah.. Terserah apa kata mereka.. Uggh..” Tiba-tiba wajah nel pucat. Misa segera membawanya ke kamar mandi. “Hueeek..”
Diare, sakit kepala, kurang darah, mual dan sebagainya. Obat pun punya efek samping. “Efek sampingnya nggak separah itu.. aku baik-baik aja kok..” Nel meyakinkan teman-temannya untuk tidak khawatir.
“Melihatmu kami jadi stress tau’.. jangan terlalu memaksakan diri.” Nel tersenyum. Akhirnya mereka semua kembali ke Hotel untuk makan siang.
“Lho.. masih banyak gini capjay-nya, emang kalian nggak mau? ya udah buat aku sama Misa aja..” Teman-teman yang lain terlihat agak menjauh. Misa sebenarnya tahu apa yang dipikirkan mereka semua.. Tapi ia tidak mau berpikir macam-macam. Namun semakin Nel bersikap ceria, semua orang semakin menjauh..

****

Malam hari, waktunya bagi semua murid untuk beristirahat, entah kenapa Misa dan Nel mendapat tempat tidur paling pojok dan agak jauh dari yang lainnya. Tapi mereka tidak mau memikirkannya. Nel langsung tertidur pulas. ‘Nel pasti kelelahan..’ pikir Misa.
‘Pemulihan… bagaimana kalau aku mengidap penyakit yang sama dengannya.. Mungkin aku tak sanggup dan tak punya keberanian sepertinya.. Apa tak ada yang bisa kulakukan selain berada disamping Nel? Apa aku bisa berjuang bersamanya…?’

Mentari pagi bersinar, Murid-murid sedang mempersiapkan dirinya untuk sarapan pagi dan melanjutkan rekreasi. Terlihat di ruang makan Pak Didik sedang berbicara dengan salah satu pelayan yang sedang menyiapkan makan. “Eh murid pengidap AIDS?” Tanya pelayan itu.
“Ya, dia sangat bersemangat mengikuti Rekreasi ini, saya pernah dengar ada sekolah yang tidak menerima pengidap AIDS, tapi aku tak bisa memaafkan itu.. Tentu sekolah kami menerimanya… blaa.. blaa…” pak Didik terus berbicara, Guru-guru lain menegurnya, “Ehm…! Pak Didik!” Pak Didik langsung menyadari arti ‘Dehem-an’ dari Pak Khoir. “Ah.. i.. iya, benar juga.. maaf pak..”
Para pelayan langsung berkumpul dan berbisik, “Yang mana ya anaknya..?”

****

Para murid perempuan ribut. Mereka membicarakan sesuatu. “Jangan-jangan…” “Iya. Pasti ini..” “Darimana mereka tahu ya?” Para siswi saling meributkan Sebuah piring dan gelas kertas untuk satu orang di meja mereka. Misa dan Nel menuju ke arah mereka. “Ada ribut-ribut apa? aku laper nih..” kata Nel.
‘DEG!’ Dada Nel seakan ditusuk beribu jarum. Misa pun terkejut dan ia langsung menyambar piring dan gelas itu. “Biar mereka ganti Nel!”
Nel memandang dengan wajah lemas, ia berkata, “udahlah.. biarin aja..” Nel berlari menuju tangga turun. Ia menangis. Karena tak memperhatikan langkahnya, ia terjatuh. ‘GUBRAAK!‘ “Nely…!” teriak Misa. Pak Khoir langsung turun menghampiri Nel. “Gawat… Kulit kakinya sobek! Cepat panggil ambulans! Kalau kumannya masuk lewat luka ini bisa bahaya..!” Beberapa menit kemudian Ambulans datang, Pak Khoir langsung membopong Nel ke dalam mobil Ambulans. “Maaf… saya membuat anda kerepotan lagi..” Nel meminta maaf. “Tidak.. pokoknya kamu harus dibawa ke RS terdekat.”
Setelah mobil ambulan pergi, murid-murid yang lain masih ribut. “Iih… darahnya Nely… Siapa tuh yang mau ngebersihin..?” “Tanganku luka nih.. nggak bisa..” “Aku juga nggak ah..”
Cleaning service datang dengan membawa ember dan alat bersih lainnya, tapi ia kelihatan enggan untuk membersihkannya. Misa yang melihat hal ini pun langsung mengambil lap yang dipegang cleaning service itu. “Biar saya saja..” Setelah memakai sarung tangan, ia langsung mengelap darah di lantai.
“Munafik!” Kata seorang temannya.
‘Ya… mungkin memang begitu.. mungkin aku berfikir, aku ini orang baik.. beda dengan kalian.. Aku tidak bisa memaafkan atas ketidakberdayaan diriku.. Apa mungkin aku hanya bersimpati padanya..?’ Misa terus memikirkan hal ini.

****

“Misa… ada Surya nih..!” “Iya ma.. bentar..” Misa langsung berlari ke depan pintu.
“Surya? ngapain kamu?” Tanya Misa. “Kemarin dan hari ini aku ke rumah Nel, Aku dengar dia sudah pulang…”
“Dasar..! kamu ini..” Misa menangis sambil memukuli bahu Surya.

****

“Saat rekreasi kemarin, kakinya terluka sehingga dia opname lagi.. kuman masuk dari lukanya hingga bernanah.. Wajar kamu nggak tahu.. kamu kan nggak ikut.” Jelas Misa.
Surya berkata dengan suara gemetar, “… Waktu mengetahui Nel terkena AIDS, aku menyesal karena menyukainya.. Saat pemeriksaan pun aku merasa berbuat salah, sehingga aku membenci Nel. Diriku dipenuhi kebencian.. Sebelum mendengar hasilnya.. aku berniat bunuh diri… Tapi.. Ternyata dari hasil pemeriksaan… Negatif aku tidak tertular.”
‘Surya pun… berjuang melawan rasa takutnya… aku tak bisa membayangkannya.’ Pikir Misa. “Saat itu Nel berdo’a agar aku tidak terular.. sementara aku hanya memikirkan diriku saja.. Entah apa yang bisa kulakukan untuknya…” Lanjut Surya.
Misa menangis. ‘Apa yang sebenarnya kami perjuangkan? Berada disampingnya saja takkan membantu.. Kalaupun aku tertular.. Aku pasti merasakan hal yang sama.. Tapi apa aku bisa berbagi penderitaan? ’ “Mungkin hanya Dokter dan Allah yang bisa menolongnya.. Tapi.. pasti ada yang bisa kita lakukan.. Iya kan..?” Kata Surya. “Ya… Pasti ada..” Misa tersenyum.

****

1 Bulan setelah Nely diopname
Surya berlari secepat mungkin. Dengan ngos-ngosan dia mengetuk pintu rumah Misa. “Tok.. tok!”
“Surya?” “Misa! Gawat! haah.. haah… Ikut aku ke RS.” Surya langsung menarik tangan Misa.
“Haah… haah…” Misa dan Surya kelelahan karena harus berlari untuk sampai ke RS. Sesampai di kamar Nel, Misa mendapati Nel terbaring lemas di ranjang dengan hidung dimasuki selang. Ternyata Nel terkena radang paru-paru.. Itu artinya AIDSnya makin parah. Akhirnya tiba juga hari itu, Virus AIDS telah menggerogoti tubuh Nel, dan Hari ini Misa dan Surya mengetahui sebuah fakta baru. “Padahal tiap hari dia banyak minum obat pengurang virus dan penambah daya tahan tubuh. Tapi kenapa gejalanya makin parah? Sialan! ‘BRAAK!’ ” Surya menendang pintu Ia terlihat kesal.

****

“Selamat pagi!”
‘Suara ini, suara khas Nel’pikir Misa. “Nel..? Kamu pulih?” Seketika Misa dan teman-teman lainnya langsung bertanya-tanya.
“Hehe… Iya.. Aku baru keluar dari rumah sakit..” Nel tersenyum. “Hah? Berani banget kamu.. keluar dari rumah sakit langsung sekolah…” kata temannya. “Nel.. maafkan kami semua ya.. Kami pernah menghindarimu.. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Pak Khoir, kami semua langsung sadar… Mulai sekarang bertindaklah apa adanya… Ya? Kami semua selalu mendukungmu!” Dukungan dari teman-teman membuat Nel terharu. “Terimakasih semuanya…”
Misa senang Nel terlihat sehat. Tapi ada sesuatu yang berubah dari penampilan fisiknya.. Kulitnya yang biasanya halus dan lembut sekarang menjadi bintik-bintik dan berjerawat. “Karena nggak punya kekuatan untuk sembuh, kulitku berjerawat dan susah hilang. Rambutku pun sering rontok…”
Berhari-hari Nel menjalankan aktivitas di sekolah dengan ceria. Tapi Misa tahu, Nel hanya berpura-pura sehat di depan orang. Dia sungguh berbeda, semua orang tau dia makin lemah. 6 bulan kemudian Nel kembali diopname.

****

“Kamu mau menjenguk Nely lagi?” Tanya Ayah Misa. “Memang nggak boleh?” Kata Misa sambil memakai sepatunya. Ibunya menghela napas, dan berkata “Orang sakit tak ingin orang lain melihatnya ketika dia terbaring dia nggak bakal bisa istirahat.”
“Kenapa bilang gitu? Apa ayah sama ibu masih belum paham penyakit apa yang diderita Nely?” “Yang belum paham itu kamu! kamu bilang akan berjuang bersamanya.. Tapi apa kamu berniat menaiki kereta yang sama dengannya..? Apa kamu bisa selalu berada disampingnya, apapun yang terjadi?” Kata Ayahnya. “… ya, aku bisa!”

Sesampai di RS, Misa memakai masker di kamar Nel karena dianjurkan oleh Dokter. “Ini catatan Matematika, kimia dan Sejarah.. Aku pikir kamu memperlukan ini semua… Ayo belajar bareng!” Misa menawarkan. Tangan Nel menarik masker yang dipakai Misa. “Uda.. nggak usah pake’ masker, nafasmu sesak kan? mau dicegah macam apa pun, kalau masuk ya masuk saja.”
“Nel..? kok ngomong gitu sih?” “.. aku nggak perlu ini..” Nel menggeser buku-buku pelajaran Misa. “Mungkin aku tak akan bisa keluar lagi.”
“Nel!? Kamu nggak boleh ngomong gitu..!” ‘BUUK!’ Nel memukul meja. “Semangat aja nggak berguna tau’! Setelah penyakit ini sembuh.. pasti aku akan diserang penyakit yang lain.. Semua ini nggak akan berakhir..!” ‘Nel… Kenapa gini lagi? jangan kalah dengan perasaanmu.. kamu pasti bisa menjalani ini semua.. ’ Pikir Misa.

****

Nel berjuang melawan diskriminasi dan dirinya sendiri. Mentalnya hancur lebih dulu daripada tubuhnya… Siapa pun pasti tak ingin terkena penyakit ini. ‘PRAAANG! ’
Nel memecahkan vas bunga di kamar RSnya. “Barusan mama bilang ingin menggantikanku? ! Mama bilang gitu karena nggak bisa kan? ! Terus… kenapa papa nggak masuk kantor? ! Toh Menemaniku takkan menyembuhkan penyakitku!” Nel mencengkram kerah baju Papanya.
“Nel..? Ini kami bawa’in makanan…” Tiga orang teman sekelas Nel datang menjenguk dengan membawakan makanan. Tanpa diduga, Nel melemparnya. ‘BRAAK! ’ “Ngapain kalian? Jangan melihatku seperti itu! Di rumah kalian masih bisa makan, tertawa dan juga belajar! Kalian punya kehidupan masing-masing kan? ! Kalian kemari karena merasa lega dan berfikir, “Beruntungnya aku”, Iya kan? !” Nel mengamuk. Lalu Misa dan Surya yang berdiri di depan pintu kamar Nel hanya tersenyum, Mereka bisa menerima Nel yang seperti itu. “Nel.. tenanglah.. aku ada disini.. aku nggak akan ninggalin kamu lagi?” Surya memegang kedua lengan Nel. “Sur… kamu pacarku kan?” ‘CRAASH! ’
Tiba-tiba Nel mencabut Jarum infus dari tangannya sehingga berdarah.
“Kamu mau kan mati bersamaku? Aku nggak mau mati sendirian!” Nel mengarahkan jarum infus ke arah lengan Surya dan mendorongnya ke dinding. “Nel jangan…!” Teriak Misa.
‘JLEB! ’
“…” “Kenapa… kamu nggak menghindar… Sur..?” Suara Nel gemetar. Surya balik bertanya, “Kenapa kamu nggak mengenaiku..?” Jarum infusnya menancap di dinding dan tidak mengenai lengan Surya. Nel meneteskan air matanya. Ia menangis meraung-raung.

****

Misa terus memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan untuk nel. ‘Aku… belum menemukan hal yang bisa kulakukan untuk Nel. Apa kalau aku berjanji mati bersamanya, dia akan tenang? Saat Nel mengacungkan jarum itu, kakiku terasa kram. Apa aku mau naik ‘kereta’ bersamanya? apapun yang terjadi, apakah aku.. Ya. Meskipun aku bilang akan berjuang bersama Nel… Aku bisa turun dari ‘kereta’ kapan saja. Tapi Nel takkan pernah bisa… Hanya itu yang kupahami.’

Sepulang dari RS, hari-hari baik terus berlanjut.. Tapi Nel masih sering keluar-masuk rumah sakit.. Seringkali ia tak boleh menerima pengunjung. Daya tahan tubuhnya semakin menurun. Misa tidak bisa melakukan apa-apa selain belajar untuk persiapan ujian. Menjelang 1 bulan ujian kenaikan, Nel bangkit kembali. Saat ini ia sangat lemah sampai harus memakai alat bantu kursi roda. “Misa… Misa… Ayo kita jalan-jalan!” Teriak Nel dari depan rumah Misa. Ia tak sendiri, Surya juga ada untuk membantu Nel.
Mereka mengendarai mobil kakek Surya dan setelah berdebat akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pergi ke pelabuhan. “Waa… Dingin.. hehe.. Ayo foto-foto!” Nel mengambil kamera dari tasnya dan mulai memotret. Sambil memandangi Nel, Misa baru sadar bahwa sejak tahu Nel tertular Misa tak pernah tertawa sebahagia ini. “Ya. Saat sedih sekalipun… Aku harus coba tertawa!” pikir Misa.
“Eh… Foto tadi bagus banget.. Mungkin foto barusan akan jadi kenangan terakhir kita… Tapi jangan nangis ya saat lihat foto itu..” Misa dan Surya terkejut dengan apa yang dikatakan Nel.
“Kalaian mau janji? Ingatlah diriku saat tertawa begini, bukan diriku di Rumah Sakit. Raya’in hari Ulang Tahunku.. Bukan Hari Kematianku.. Setelah aku meninggal.. Surya harus cari pacar baru dan ngelupa’in aku.. Tapi jangan cerita ke pacarmu ya soal aku! Masa’ kamu bilang ‘Mantan pacarku meninggal’! … Oh iya.. Ada baiknya mengucap salam perpisahan sebelum mati. Hehe..” “Ngomong apa sih! Udahan deh becandanya Nel! Bosen tau’!” Terang Misa.
“Misa… Surya.. Aku takkan menang melawan virus ini… Aku takkan sembuh sekalipun seluruh darahku diambil.. Begitu otakku diserang, aku akan melupakan kalian berdua.. Dan akhirnya tubuhku akan hancur..!”
“Mungkin hanya sekarang aku bisa mengucapkan selamat tinggal.” Nel mendorong kursi rodanya ke belakang dan. Mendadak Ia dan kursi rodanya terpleset turun tangga. “Kyaaa!” Nel menjerit kecil. Ia terjatuh dari kursi rodanya. Misa dan Surya menghampirinya. “Nel.. kamu nggak apa-apa? ! Apa maksudmu bilang begitu? !”
“.. Virus ini tak akan menghilang kecuali aku mati..” Tiba-tiba Nel memejamkan matanya. “Nel…! Nel…! Bangun..!” Misa dan Surya berteriak.

****

2 Tahun Kemudian.
Terlihat Misa sedang duduk melamun di peron kereta api. Ia seperti sedang tenggelam memikirkan sesuatu, ‘2 tahun lalu.. Saat tahu dirinya tertular AIDS pada waktu kelas 2 SMA.. Lalu dia berusaha pulih di kelas 3.. Dan saat penyakitnya kian parah di bulan berikutnya.. Gejala penyakitnya muncul berulangkali.. Setiap hari ia selalu bilang ‘Akan mati’ saat itu aku tidak pernah menyangka.. Aku merasa semua itu tak pasti.. Karena.. Sampai sekarang pun Nel masih sehat.’ “Misa..! Nunggu lama?” Nel melambaikan tangannya ke arah Misa, ia sedang bersama Surya. “Iih.. kamu itu.. Lama banget tau’… Ayo berangkat.”

1 tahun lalu, setelah jatuh dari kursi roda, ia pingsan dan segera dibawa ke rumah sakit. Setelah bangun, Misa memarahinya dan menasehatinya, begitu juga dengan surya. Kata-kata yang membuat Nel bangkit kembali adalah, “Nel tak mungkin mati!” yang diucapkan oleh Surya. Bulan april, Nel bisa naik kelas bersyarat meskipun ada nilai yang kurang. Daya tubuhnya yang mendekati Nol perlahan-lahan mulai pulih. Dengan begitu, dia bisa hidup dengan normal.. Dan sejak itu Nel tak pernah terlihat sakit. Ia melanjutkan kuliahnya ke UNAIR Surabaya bersama Misa dan Surya.
“Eh Misa.. Surya.. Uda dateng tuh keretanya.. Ayo buruan..” Nel menarik tangan Misa dan Surya. Setelah duduk di kursi kereta, mereka menaikkan barang-barang mereka ke bagasi atas. Liburan ini mereka ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama. Dalam perjalanan, tidak sengaja mereka mendengarkan bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap
“Lihat nih berita di koran, katanya Vaksin AIDS sudah dikembangkan!” Kata bapak yang berkumis tipis. “Dengan vaksin itu rasanya bisa sembuh total dalam 2-3 tahun.. Tapi.. Setiap penyakit pasti bisa disembuhkan jika Allah menghendaki…”
Ya… obat untuk menyembuhkan AIDS hampir sempurna. Misa telah menaiki kereta yang sama dengan Nel. Ia pikir bakal mati karena kecepatannya! Namun.. Sekarang mereka bisa pergi ke stasiun terakhir bernama “Sembuh Total”. Itu bukan Mukjizat lagi. Merekapun.. Bisa segera turun bersama.

http://goo.gl/c3hwCV


Resep Saya
“The illiterate of the 21st century will no be those who cannot read and write,but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” – Alvin Toffler

“Pak Harefa, Anda berulang kali menawarkan resep sukses dari para pakar pengembangan diri. Tetapi saya belum pernah membaca pengakuan Anda mengenai resep sukses yang mana yang Anda yakini, yang Anda pergunakan untuk diri sendiri. Bolehkah saya tahu?” tanya seorang kawan pembaca setia kolom ini. Ia seorang manajer di sebuah perusahaan swasta terkemuka, yang menangani departemen sumberdaya manusia (saya lebih suka kalau departemen semacam ini diubah konsepnya menjadi departemen pengembangan harkat dan martabat manusia).

“Oh tentu saja boleh,” jawab saya nyaris spontan. “Resep sukses yang saya pergunakan dalam hidup saya adalah yang paling banyak diyakini manusia di muka bumi.”

“Apa itu, pak?” suaranya antusias.

“Ijinkan saya mengajukan tiga pertanyaan yang membantu Anda untuk mengingat kembali bahwa Anda pun meyakini resep sukses yang satu ini, karena memang terbukti sangat powerful,” kata saya berteka-teki.

“Mengapa banyak orangtua berjuang keras untuk menyekolahkan anak-anaknya?”

“Karena pendidikan itu penting.”

“Bagus. Lalu mengapa tiap negara memiliki Menteri Pendidikan (dan Kebudayaan)?”

“Ya, untuk membantu pimpinan pemerintahan mengurusi soal pendidikan yang penting itu,” suaranya mantap.

“Benar sekali. Dan mengapa sejumlah sarjana ngotot melanjutkan studi ke jenjang magister atau master, bahkan sampai ke tingkat doktoral; sementara sebagian sarjana yang lain rajin berburu program sertifikasi profesional?”

“Ya, saya kira, karena mereka ingin mengembangkan diri. Atau ingin meningkatkan kariernya, mengejar cita-cita sesuai dengan makna sukses bagi dirinya,” jawab kawan tersebut sambil mencoba menebak arah pemikiran saya.

“Benar. Semua jawaban Anda benar. Sebagian besar orang, sangat sadar bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu adalah pendidikan dan pembelajaran. Itulah sebabnya banyak orangtua bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah terbaik. Mereka ingin anak-anaknya kelak berhasil menjadi orang sukses. Itulah sebabnya setiap negara menugaskan seorang menteri untuk membangun presiden atau perdana menteri mengurusi soal-soal pendidikan dan kebudayaan. Sebab tiap negara ingin menjadi negara yang maju dan berpengaruh di kancah internasional. Itulah pula sebabnya, sejumlah sarjana mengejar pendidikan yang lebih tinggi atau mengambil program sertifikasi. Jadi, pendidikan atau belajar telah dipahami hampir semua orang sebagai the master key to success,” tegas saya.

“Tapi pak, sejumlah tokoh yang saya kenal karena keberhasilannya, ternyata bukan sarjana. Bill Gates, Larry Allison, Michael Dell, dan yang membuat facebook, semuanya bukan sarjana. Anda juga pernah menulis sekitar 15 tokoh yang meraih keberhasilan tanpa pendidikan formal dalam buku Sukses Tanpa Gelar, termasuk Susi Pudjiastuti, Kusnadi, Steve Geppi, Andrie Wongso, dan sebagainya,” bantah kawan saya itu. Ia tak puas dengan jawaban yang baginya terlalu sederhana. Mungkin ia berpikir bahwa resep sukses itu mestinya harus “luar biasa”.

“Lho, tadi Anda bertanya mengenai resep sukses yang saya yakini. Yang saya yakini ya itu tadi. Untuk sukses itu orang perlu belajar. Itulah intinya. Itulah akar semua resep sukses lainnya. Artinya, dengan “belajar” semua kunci sukses yang lain akan berguna; namun jika “tidak belajar” maka kunci sukses dari mana pun tidak akan berguna sama sekali,” ujar saya mengingatkan. Kalau bertanya resep sukses yang saya yakini, mestinya saya boleh bicara sesuka saya, bukan?

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/TmvtVw