Thursday, 14 May 2015

Tak Seperti Dongeng ?Gadis Penjual Korek Api?


“Ada korek api?”

Gadis cilik itu terus berjalan sambil meminta sebuah korek api, namun tidak ada satu pun yang memberi. Tanpa alas kaki ia terus menelusuri jalan jalan ibu kota. Melihat tingginya gedung gedung cakrawala, mobil-mobil mewah yang tentunya pengemudinya punya cukup uang untuk membelikan gadis itu sebungkus korek api. Atau mereka punya banyak korek yang dihabiskannya dengan sebatang dua batang rokok. Mungkin pikir mereka, untuk apa memberi pada gadis itu? Detik ini dia minta korek api, menit kemudian selanjutnya dia minta roti, lalu meminta uang. Rasanya sayang memberikan seperak dua perak pada gadis lusuh dan dekil itu. Jangan memanjakan mereka!!! Seharusnya orang tua mereka yang bertanggung jawab mendidik mereka, bukan mengajarkannya berkeliaran di jalan. Banyak orang menyebutnya ‘pengemis’ atau ‘anak jalanan’.
Gadis itu pun tak putus asa, ia berjalan menghampiri beberapa orang pejalan kaki di trotoar. Menengadahkan tangannya.

“Permisi bu, boleh saya minta korek api?”

Wanita itu mengerutkan dahinya dan menatap gadis kecil dari atas – sudah berapa lama gadis kecil ini tidak membersihkan dirinya. Sangat sulit untuk menyisir rambutnya yang bergelombang dan kaku. Ia lalu membayangkan sapu ijuk di rumahnya – Pandangan wanita itu pelan-pelan melihat ke bawah, pakaian yang dikenakannya kusam dan terdapat robekan di beberapa bagian, kulit gadis cilik itu tak semulus kulitnya.

“Ada bu? Ada korek apinya?” Tanya gadis itu lagi.

Gadis kecil menatap penuh harap. Wanita itu masih mengerutkan dahinya lalu menggelengkan kepala. Gadis kecil mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia mendongak ke atas dan melihat awan berarak mengikutinya. Lalu ia tersenyum. Mungkin sama seperti dongeng gadis penjual korek api, ia sama sama tidak mendapatkan uang dan makanan. Gadis kecil terus berjalan ke sebuah terminal. Mungkin pikirnya disana lebih banyak orang hilir mudik, berharap di antara banyaknya manusia yang jauh lebih beruntung darinya, ada satu orang yang mau memberikannya korek api. Gadis kecil itu menghampiri salah satu bus – saat itu penumpangnya beranjak turun dengan tergesa-gesa.

“Permisi pak, boleh saya minta korek api”

Bapak itu pun mengangkat tangannya dan berlalu pergi.

“Permisi bu…”

Belum ia melanjutkan kata-katanya si ibu sudah mengusirnya. Tubuh gadis kecil goyah dan hampir jatuh, kalau saja tidak ada seorang pemuda berdiri dibelakangnya. Pemuda itu sedikit bergeser dan hampir kehilangan keseimbangannya. Bukan karena tubuh gadis itu berat tapi mungkin karena ia lengah.

“Kamu tidak apa-apa?”

Gadis itu menganggukan kepalanya.

“Bener gak pa-pa?” tanyanya lagi meyakinkan.

Gadis itu tersenyum dan pergi. Ia duduk di pinggir trotoar, melihat banyak pedagang asongan di sepanjang terminal. Ada yang mejajakan aneka makanan dan minuman. Ia tak menghiraukan pemuda tadi terus memperhatikannya. Sesekali ia memandang ke langit. Cuaca tak secerah tadi. Sinar matahari semakin redup. Sama seperti tenaganya yang semakin lemah. Gadis kecil terus berpikir, bagaimana ia bisa mendapatkan korek api.

“Apa yang kamu pikirkan?”

Pemuda itu duduk di samping gadis kecil beralaskan aspal. Gadis itu mulai memperhatikan pemuda itu. Mulai dari pakaiannya yang bersih dan rapi, sampai potongan rambutnya yang cepak.

“Aku perhatikan dari tadi kamu meminta korek api, untuk apa? apa kamu merok*k?”

Gadis kecil tetap diam.

“Benar kamu merok*k?” Tanya Pemuda itu heran.

Gadis kecil menggelengkan kepala.

“Lalu?”

Pemuda itu menatap gadis kecil. Menunggu jawaban yang dilontarkan gadis kecil itu. Tapi gadis kecil tetap diam dan menundukan kepala. Hanya memandang kerikil di depan matanya. Merasa seperti kerikil itu. Kecil dan tak berarti. Sejenak termenung lalu ia pun melanjutkan perjalanannya. Merasa tak ada gunanya duduk di samping pemuda yang tentu akan memandang sebelah mata pada dirinya. Jangankan membagi kisah, meminta sebuah korek api pun rasanya tak mungkin padanya. Tanpa sepatah kata, gadis kecil pergi meninggalkan Pemuda itu seorang diri. Tak sampai gadis kecil itu melangkah kakinya sepuluh langkah, Pemuda itu langsung mengikutinya dari belakang. Rasa penasaran menghantui dirinya. Gadis kecil mempercepat langkahnya, merasa jiwanya terancam. Ia ingat perkataan ibunya ketika masih hidup, “Nak, jika ada bahaya menghampirimu, larinya ke tempat ramai, lalu teriaklah minta tolong”. Gadis kecil semakin mempercepat langkahnya, sementara Pemuda itu terus mengikutinya. Gadis kecil akhirnya berlari, dan terus berlari di tengah keramaian. Nafasnya tersengal-sengal, ia ingin sekali berteriak minta tolong, namun suaranya seakan tak bisa keluar, dan larinya pun semakin lama semakin lambat.

“BRUKK!!!” Gadis kecil pun terjatuh. Ia merintih kesakitan. Beberapa tetes air mata menetes ke pipinya. Pemuda itu segera menghampiri gadis kecil dan membantunya berdiri.

“Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu lari-lari?” Pemuda itu setengah panik.

“Tunggu disini sebentar!”

Pemuda itu berlari meninggalkan gadis kecil setelah membawanya duduk di sebuah taman kecil di pinggiran jalan raya. Beberapa saat dia kembali sambil membawa plastik bertuliskan nama sebuah apotik.

Gadis kecil itu berhenti menangis dan memperhatikan pemuda itu yang sedang mengobati lukanya. Ia mulai merasakan ketulusan pemuda itu.

“Namaku Gadis” lirih Gadis kecil.

Pemuda itu tersenyum padanya. Tak banyak berkata-kata, dan terus mengobati luka-luka di kaki gadis kecil.

“Apa kamu punya korek api?”

Pemuda itu memandangnya heran.

“Punya apa gak?”

“Boleh aku tau kenapa kamu selalu meminta korek api?”

Gadis kecil itu tersenyum. Dan mulai bercerita. Pemuda itu mendengarnya dengan seksama. Sesekali ia menggelengkan kepala saat Gadis bercerita tentang dongeng sang ibu. Dongeng tentang Gadis penjual korek api, dimana tidak ada seorang pun yang mau membeli korek api yang ia jual. Sampai akhirnya gadis penjual korek api itu pun kelaparan dan kedinginan. Ia hanya bisa menyalakan korek api dan membayangkan tempat yang hangat dan makanan yang enak-enak.

“Aku mau seperti gadis penjual korek api dalam dongeng ibu. Siapa tau aku bisa mendapatkan makanan dan bertemu ibu di surga” ucap Gadis kecil.

“Kau bodoh! Itu kan hanya dongeng!” bentak Pemuda itu.

“Tapi.. sewaktu ibu masih ada, ibu selalu meminta-minta makanan tapi tak seorang pun di kota ini yang memberinya. ”

Tanpa banyak kata Pemuda itu langsung menghampiri toko makanan dan membelikan beberapa bungkus makanan dan minuman untuk gadis kecil. Sekejap ia langsung menghampiri gadis kecil itu lagi.

“Brakkk!!!” plastik dalam genggaman Pemuda itu jatuh berserakan di jalan, melihat gadis kecil tersungkur lemas dan jatuh.

“Hei.. bangun.. bangun… Gadis kecil bangunlah”

Pemuda itu terus mengguncang-guncangkan tubuh gadis kecil lalu meraihnya dalam pangkuannya. Memeriksa denyut nadi di tangan gadis kecil itu namun ia tidak menemukan adanya detakan kehidupan. Pemuda itu pun memeluk gadis kecil untuk yang terakhir kalinya.

“Aku terlambat. Maaf…” lirih Pemuda itu

Roh gadis kecil itu melayang-layang di udara. Tersenyum pada Pemuda yang masih memeluk jenazahnya yang terkujur kaku.

“Terima kasih pahlawanku, kakak orang pertama yang mau memberi aku makanan setelah sekian lamanya aku kelaparan. Sekarang aku tidak kelaparan lagi, dan aku akan bertemu ibu di surga”

THE END  http://goo.gl/1gaZ4X

Wiro Sableng #76 : Kutunggu Di Pintu Neraka
WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito


SATU

Dua sosok bayangan hitam berkelebat dalam gelapnya malam. Pada waku siang saja hutan belantara itu selalu diselimuti kegelapan dan dicengkam kesunyian.

Apalagi di malam buta seperti itu. Hingga dua sosok yang bergerak tadi tidak ubahnya seperti dua hantu tengah gentayangan.

"Kita sudah dekat....." bisik bayangan di sebelah kanan. Ternyata dia manusia juga adanya.

"Betul, aku sudah dapat mencium baunya," menyahuti bayangan satunya.

Keduanya terus lari ke arah Timur rimba belantara. Tak selang berapa lama mereka sampai di bagian hutan yang baynak ditumbuhi semak belukar setinggi dada.

Di sini mereka hentikan lari. Tegak tak bergerak dan juga tidak bersuara. Hanya sepasang mata masing-masing memandang tak berkedip ke depan.

Di atas serumpun semak belukar lebar terletak sebuah batu lebar berbentuk hampir pipih. Di atas batu ini duduk seorang lelaki berpakaian rombeng penuh tambalan seperti pengemis. Dia mengenakan sebuah caping bamboo. Bagian depan caping ini turun ke bawah hingga dari wajahnya hanya dagunya yang ditumbuhi bulubulu kasar saja yang kelihatan.

Bau aneh seperti bau bunga kamboja busuk datang dari orang yang duduk bersila di atas batu ini. Entah berasal dari tubuhnya atau dari pakaiannya yang dekil kotor.

Otak dua orang yang barusan datang cepat bekerja. Batu pipih itu beratnya paling tidak 30 sampai 40 kati. Tetapi mengapa semak belukar setinggi dada itu sanggup menahannya? Lalu ditambah pula dengan berat badan orang bercaping yang duduk bersila di atas batu. Semak belukar tetap berdiri tegak! Akal manusia mana yang bisa menerima kenyataan ini?!

"Aku tak menyangka dia memiliki ilmu setinggi ini," bisik orang di sebelah kiri.

"Dia sanggup membuat tubuh dan batu yang didudukinya seringan kapas," balas orang di sebelah kanan. "Tapi kalau cuma ilmu meringankan tubuhnya saja yang hebat, kenapa kita musti takut?"

"Lalu bagaimana? Kita teruskan?" tanya orang yang pertama tadi.

"Seharusnya kau tak usah bertanya begitu. Ucapanmu menandakan keraguan hati. Kau kecut, bahkan mungkin takut. Padahal, bukankah kita sudah bersumpah untuk menangkapnya hidup atau mati?" kata orang kedua pula dengan nada sengit.

Lalu cepat dia menyambung. "Kau dari sebelah kiri. Aku dari kanan. Sekarang!"

Dua orang itu bergerak. Satu ke kiri, satu ke kanan. Tiba-tiba secara serempak mereka menyergap ke arah orang yang duduk di atas batu. Dari gerakan-gerakan mereka yang mengeluarkan suara angin bersiuran jelas dua orang ini bukan hanya melancarkan serangan biasa, tetapi serangan-serangan dahsyat yang bisa meremuk dada dan merengkahkan kepala!

Orang bercaping di atas batu kelihatan tidak bergerak sedikitpun. Seolah sama sekali tidak menyadari kalau dirinya tengah diancam bahaya maut. Sesaat lagi jotosan dari kanan akan menghantam caping di atas kepalanya dan jotosan dari kiri akan menghancurkan tulang dadanya, tiba-tiba dalam satu gerakan kilat yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, orang bercaping di atas batu angkat kedua tangannya.

... baca selengkapnya di : http://goo.gl/Vstlwy